Senin, 14 Maret 2016

SUKA MEMBERI KEPADA ORANG LAIN MERUPAKAN UKURAN KEBAIKAN SESEORANG


       Agama Islam senantiasa mengajarkan kebaikan kepada sesama. Kebaikan dan kehebatan seseorang akan dinilai dari berbagai hal. Ada yang melihatnya dari sudut pandang kepandaian, keluasan wawasan atau pengetahuannya, jiwa sosialnya melalui sikap kedermawanan, kegemarannya membantu orang lain baik melalui harta maupun tenaga dan pikiran. Dasar kebaikan seseorang pun dilandasi dengan berbagai motif. Mulai dari ingin dipuji orang, ingin mendapatkan pengakuan, mengharapkan ganjaran pahala dari Tuhan YME, ingin mendapatkan kebaikan berupa surga, ingin berbagi kebahagiaan dan rejeki yang diperoleh,  murni karena terdorong ingin melakukan solidaritas sosial, hingga yang memang tidak mengharapkan apapun dari tindakan baiknya kepada orang lain.

       Nabi SAW dalam banyak kesempatan juga telah memberikan petunjuk-petunjuk-Nya kepada manusia, bagaimana ia berakhlak kepada orang lain. Seperti hadis yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah yang artinya: “dari Abu Hurairah R.A. berkata: bersabda Rasulullah SAW: barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaknya ia berbuat baik terhadap tetangganya. Dan barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir maka hendaknya ia menghormati tamunya. Dan barang siapa beriman kepada Allah dan hari maka hendaknya ia berkata baik atau (kalau tidak bisa) lebih baik diam. (HR Ahmad, Buchori, Muslim, Nasa’i dan Ibnu Hibban).
       Dengan memiliki kegemaran memberi kepada orang lain, baik dalam bentuk harta, sumbangsih tenaga maupun pemikiran, bahkan senyuman menjadikan seseorang memiliki barometer sebagai orang yang baik. Hal itu cukup beralasan karena :
1.    Akhlak merupakan cermin kepribadian seseorang, sehingga baik buruknya seseorang dapat dilihat dari kepribadiannya. Salah satu yang diajarkan oleh Al Quran adalah sodaqoh atau sedekah. Dalam kehidupan setiap insan,  diminta untuk berbagi kebaikan kepada orang lain sebagai salah satu ibadah sosial.
Al Quran memang cukup memperhatikan tentang sodaqoh, karena memang ia adalah sesuatu yang urgen dalam kehidupan sosial kemasyarakatan maupun keagamaan. Dengannya akan sangat mungkin terjadi adanya keseimbangan antara si miskin dengan si kaya. Orang yang gemar bersedekah secara otomatis akan mendapatkan nilai positif di mata manusia maupun di hadapan Allah SWT sebagai orang yang baik.
2.    Setiap perbuatan baik pasti membuahkan kebaikan pula. Seperti halnya dijelaskan dalam Al Quran surat Ar Rahman: 60 yang artinya ”Adakah balasan kebaikan selain kebaikan”. Buah kebaikan itu berlaku bagi orang yang berbuatnya, maupun bagi orang-orang yang memperoleh manfaatnya. Nah, bagi orang yang suka memberi kepada orang lain-dalam bentuk apa pun-akan menempel pada dirinya gelar  sebagai sosok yang baik. Karena apa yang kalian tanam, itu juga yang akan kalian tuai. Tanamlah sifat yang baik-baik, mudah-mudahan kebaikan itu akan kembali sendiri kepada kita.
3.    Memang, cara Allah SWT memberi rizki ke pada umat-Nya itu sangat beragam dan banyak jalannya. Ada yang diberikan keluasan kasih sayang dan cinta kasih kepada sesama. QS Al-Hujarat merupakan salah satu surat yang menerangkan agar manusia tidak berbuat kemaksiatan, menjalin hubungan baik dengan orang lain. Agar manusia dapat hidup dengan penuh keserasian dan keharmonisan dengan manusia lainya, tidak boleh tidak dia harus membatasi cintanya pada dirinya sendiri dan egoismenya. Juga hendaknya ia juga menyeimbangkan cintanya dengan cinta dan kasih sayang kepada orang lain, bekerja sama dengan atau memberi bantuan kepada mereka sehingga dengan membagikan cinta dan rasa kasih sayang kepada orang lain bukan tidak mungkin kandidat sebagai orang baik akan melekat pada diri manusia.

4.   Perbuatan adalah cerminan isi hati. Jika hati dipenuhi dengan kebaikan, maka sikap dan tindakannya pun akan baik. Namun jika hati dipenuhi akan kepalsuan, maka prilakunya pun akan menunjukan hal yang buruk. Rasulallah SAW bersabda : “Ketahuilah, sesungguhnya dalam tubuh manusia ada segumpal daging, jika segumpal daging itu baik, maka akan baik seluruh tubuh manusia, dan jika segumpal daging itu buruk, maka akan buruk seluruh tubuh manusia, ketahuilah bahwa segumpal daging itu adalah hati manusia.” (HR. Bukhari dan Muslim). Perbuatan seseorang dengan memberi kepada orang lain merupakan ciri orang yang baik dan merefleksikan hati (iman) yang baik dari seseorang.
5.    Alam menetapkan nilai perbuatan manusia, selain memperhatikan niat yang mendasarinya, kriteria lain yang harus diperhatikan selain niat baik adalah cara melakukan perbuatan itu. Ketika seseorang mempunyai niat baik, maka dia harus melakukan dengan cara yang baik pula, maka orang tersebut akan di nilai baik karena melakukannya dengan niat yang baik dan cara yang baik pula.
Sebagai contoh, bersedekah adalah perbuatan yang baik, jadi sedekah tersebut harus diberikan dengan cara yang baik sehingga tidak menyakitkan hati si penerima sedekah. Maka dari itumanifestasi dari sedekah itu menjadi baik nilainya dan berimbas pada nilai baik yang akan diterima si pemberi sedekah.
6.    Iman dan amal shalih yang dilakukan manusia dalam bentuk perbuatan baik seperti gemar memberi kepada orang lain merupakan ukuran dari seseorang dapat dikatakan sebagai orang yang baik. Syaikh Abdurrahman bin Nashir As Sa’di memaparkan sebuah kaidah berharga: “Al Qur’an membimbing manusia agar memahami bahwa ukuran kebaikan seorang insan adalah dari iman dan amal shalihnya. Wujud dari kebaikan iman dan amal shalih tersebut memang dapat diimplementasikan yang salah satunya adalah kegemaran seseorang untuk memberi kepada orang lain.

       Allah SWT  Maha Mengetahui keadaan hamba-Nya. Dengan demikian nyata bahwa tidak ada gunanya mengaku-ngaku dan merasa sudah baik, sudah shalih, sudah rajin beribadah, namun yang dilihat oleh Allah SWT adalah amalan kita, bukan pengakuannya. Apakah amalan kita sudah sesuai dengan pengakuan? Apakah amalan kita sudah shalih? Ikhlas karena Allah dan sesuai dengan tuntunan-Nya? Inilah yang semestinya menjadi perhatian untuk dikatakan sebagai orang yang baik.

       Jadi, jelaslah bahwa perkara duniawi itu sama sekali bukanlah patokan kebaikan seseorang. Orang yang mendapat kelebihan dalam perkara duniawi, bukan berarti Allah SWT merahmatinya. Sedangkan orang yang diuji dengan kekurangan dalam perkara duniawi, bukan berarti Allah SWT memurkainya. Oleh karena itu, marilah kita tingkatkan keimanan dan amal shalih kita untuk mendapatkan kategori manusia yang baik, di sisi Allah SWT dengan ikhlas melakukan kebaikan kepada orang lain hanya mengharapkan ridho-Nya.

(Dikutip dari Berbagai Sumber untuk Materi Lomba Debat Bahasa Indonesia Tingkat Kab. Brebes)





       

Tidak ada komentar:

Posting Komentar