Selasa, 03 Maret 2015

PELAJARAN 5 MENGULAS SECARA KTIRIS FILM DAN DRAMA


A.   Pengertian Teks Ulasan/Review Text
         Teks ulasan adalah teks yang berisi tinjauan, ulasan, kupasan, tafsiran, evaluasi terhadap suatu karya baik berupa film, drama, buku dan lain-lain yang dapat berwujud komentar, kritik, saran untuk mengetahui kualitas, kelebihan, atau kekurangan yang dimiliki karya tersebut sehingga dapat dipublikasikan kepada pembaca/khalayak. Cara yang paling tepat dalam menyampaikan ulasan berbentuk kritik adalah dengan menggunakan bahasa yang santun, diksi yang baik dan pada waktu yang tepat. Kita juga harus menguasai permasalahan yang dikritik dan dapat memberikan solusi atas permasalahan yang diulas.
         Dalam kritik film dan drama yang diulas berhubungan dengan latar, waktu, tempat, tokoh dan penokohan, bahkan pengambilan gambar film dan drama tersebut. Suatu karya film atau drama dapat memberikan kesan yang berbeda bagi khalayak. Suatu karya berupa film atau drama yang menurut orang baik belum tentu baik pula menurut orang lain.
        
B.    Struktur Teks Ulasan
1.    Orientasi
       Pada bagian ini berisi gambaran umum karya yang akan diulas yang berwujud paparan tentang nama atau judul karya, manfaat karya tersebut, dan lain-lain.
2.    Tasfiran Isi
         Pada bagian ini memuat tentang pandangan pengulas mengenai  karya yang diulas. Pada bagian ini karya yang diulas dibandingkan dengan karya lain yang mirip atau serupa kemudian pengulas pun menilai kelebihan dan kekurangan antara dua karya tersebut.
3.    Evaluasi
         Bagian ini berisi penilaian tentang bentuk karya, penampilan, dan produksi karya tersebut secara terperinci baik bagian-bagiannya, ciri-ciri karya tersebut, dan kualitasnya.
4.    Rangkuman
      Bagian ini memuat simpulan tentang karya tersebut. Pengulas menyampaikan opininya berdasarkan hasil ulasan tentang karya tersebut.

C.    Manfaat Menyusun Teks Ulasan
1.  Melatih seseorang memiliki sikap kepedulian dan kepekaan sosial yang tinggi. Hal ini disebabkan sikap kritis dalam mengulas teks ulasan tidak lepas dari norma, etika atau aturan hidup yang berlaku di masyarakat.
2.  Melatih seseorang untuk memiliki sikap dan sifat mental yang kuat. Hal ini berkaitan bahwa seseorang akan dilatih untuk menerima dengan jiwa yang besar setiap bentuk kritik atau kecaman yang pada dasarnya untuk membangun jati diri seseorang sebagai manusia tangguh.
3.    Melatih seseorang dalam menilai bagus-tidaknya suatu karya. Hal itu disebabkan karena dalam kritik atau kecaman terdapat pertimbangan atau penilaian baik-buruknya suatu karya.
4.  Melatih seseorang untuk bersikap jujur, cendekia atau tajam pemikirannya, bernalar, dan mempunyai rasa estetika yang dijadikan bahan penilaian oleh pembaca atau khalayak.
5. Melatih seseorang untuk berpikir objektif. Artinya, seorang kritikus diharuskan mengkritik apa adanya suatu karya yang ditampilkan.
6.   Melatih kejelian seseorang. Artinya, seorang kritikus menyadari bahwa ada sesuatu yang berada tidak pada tempatnya.

D.   Jenis Corak Kritik
          Ada empat macam kritik yang dapat kalian gunakan dalam mengulas teks film atau drama. Masing-masing corak kritik dipengaruhi oleh kemampuan penginderaan yang baik. Untuk itu penginderaan yang digunakan harus benar-benar dalam kondisi yang baik. Indera pertama adalah bidang visual yaitu kemampuan mata dalam melihat dan indera kedua adalah bidang audio yaitu kemampuan telinga dalam mendengar.
          Menurut Alif Danya Munsi, empat corak yang dimaksud adalah :
1.    Corak Kritik Apresiasi
a.    Kritik Individual
         Yaitu kritik yang menunjukkan ekspresi tunggal mewakili kemauan pengulas untuk menyatakan segi positif dari pertunjukkan yang disaksikan.
b.    Kritik Sosial
         Yaitu kritik yang yang mewakili pandangan objektif dengan menyertakan atau mencatat bagaimana respon masyarakat dalam menyaksikan pertunjukkan tersebut.
2.    Corak Kritik Eksposisi
         Yaitu kritik yang mengulas tentang film dan drama berdasarkan bagian-bagian yang membangun film dan drama tersebut dengan memberikan solusi atau jalan keluar sebagai bentuk pertanggungjawaban atas kritik yang kita buat.
3.    Corak Kritik Evaluasi
         Yaitu kritik yang dimulai dari memindai kerangka cerita, premis, tema dan bagaimana sutradara menimplementasikan dan menafsirkannya melalui gambar.
4.    Corak Kritik Prevalensi
         Yaitu kritik yang berisi ulasan yang merata, umum, luas, dengan ukuran perbandingan yang ideal atas tontonan-tontonan lain yang serupa yang pernah ada. Dalam kritik ini dimulai dengan menyebutkan sesuatu sebagai ukuran ideal kemudian diakhiri dengan harapan-harapan.

          Seorang kritikus harus bersikap jujur mengungkapkan pendapat dan pandangannya terhadap apa yang telah disaksikannya. Jujur di sini artinya bersikap terbuka dalam mengemukakan kelebihan dan kekurangan pertunjukkan itu. Apabila memungkinkan, dalam mengulas sebuah karya dari sisi negatifnya maka seorang kritikus harus memberikan solusi. Kritikus yang demikian akan disegani, dihormati, dan didengar pendapatnya karena kritiknya jujur, benar dan bermanfaat.
          Yang paling menonjol dalam sebuah pementasan daram atau film adalah bagaimana kejelian seorang sutradara dalam mengalirkan plot sehingga dramaturgi yang terbentuk akan menjadi penanda bagaimana emosi penonton ikut dan hanyut ke dalam semangat pertunjukkan. Ritme yang ditampilkan dalam menampilkan dramaturgi dimunculkan dari kreativitas yang beragam dengan pengolahan plot yang saling berkesinambungan dan terjaga dari bagian abstraksi, klimaks hingga antiklimaks.
         Teks Ulasan yang Ideal harus disusun sesuai dengan struktur teks yang ada dan menggunakan kaidah kebahasaan, termasuk kaidah ejaan. Kekeliruan dalam penggunaan kaidah kebahasaan dalam bidang ilmu bahasa sangat beragam seperti kelewahan, kemubaziran  atau pleonasme yang berarti penggunaan kata yang sesungguhnya tidak diperlukan dan jika dihilangkan pun tidak akan menggangu isi informasi yang disampaikan. Contohnya penggunaan kata bersinonim secara bersama-sama, seperti agar supaya, demi untuk, servis pelayanan. Hiperkorek atau penggunaan kata atau istilah yang sesungguhnya salah tetapi dianggap benar atau suatu kata atau istilah yang benar malah disalahkan karena ketidaktahuan pengguna bahasa.
         Teknik penulisan judul suatu karaya dalam kalimat pun harus menjadi perhatian pengulas. Huruf miring dalam cetakan dipakai untuk menuliskan nama buku, majalah, dan surat kabar yang dikutip dalam tulisan. Misalnya :
1.    Berita itu muncul dalam harian Kompas tertanggal 28 Februari 2015.
2.    Seluruh cerita hidupnya tertuang dalam bukunya yang berjudul Lelaki di Persimpangan Jalan.
         Tanda petik (“....”) dipakai untuk mengapit judul puisi, karangan, bab buku yang dipakai dalam kalimat. Misalnya :
1.    Sajak “Pahlawanku” tercantum dalam buku ini pada halaman 45.
2.    Laporan Akhir yang berjudul “Deferensiasi Makna” dapat disahkan oleh penguji.
      Oleh karena itu, penulisan judul film dan drama yang dipakai dalam kalimat menggunakan tanda petik (“....”), sedangkan judul novel dituliskan dengan huruf miring.

E.    Kaidah Kebahasaan Teks Ulasan
1.    Istilah
         Istilah adalah kata atau gabungan kata yang dengan cermat mengungkapkan makna konsep, proses, keadaan, atau sifat yang khas dalam bidang tertentu. Istilah khusus adalah istilah yang digunakan untuk bidang tertentu dan pemakaiannya hanya dipahami oleh orang yang berkecimpung dalam bidang tersebut.

2.    Verba/kata kerja
a.    Verba Aktif
         Yaitu kata kerja yang subjeknya berperan sebagai pelaku atau menunjukkan tindakan atau perbuatan. Contohnya :
1)    Ibu-ibu membersihkan tanah dari bawang merah yang baru dicabut dari sawah.
2)    Siswa diminta guru untuk mengklasifikasikan berbagai bahan bakar kendaraan bermotor.
3)    Adik ternyata dapat mengangkat meja tersebut.
b.    Verba Pasif
         Yaitu kata kerja yang subjeknya berperan sebagai penderita, sasaran tindakan, atau hasil. Contohnya :
1)    Bawang merah yang baru dicabut dari sawah dibersihkan oleh ibu-ibu.
2)    Berbagai bahan bakar kendaraan bermotor diklasifikasikan oleh siswa atas permintaan gurunya.
3)    Ternyata meja itu terangkat oleh adik

3.    Sinonim
         Yaitu kata yang memiliki bentuk yang berbeda namun memiliki artii atau pengertian  yang sama atau mirip. Sinonim disebut juga dengan persamaan makna ata padanan makna. Contoh :
a.    Binatang = fauna
b.    Tumbuhan = flora

4.    Antonim
         Yaitu suatu kata yang artinya berlawanan satu dengan lainnya. Antonim disebut juga dengan lawan kata. Contoh :
a.    Konstruktif  X Destruktif
b.    Makro X Mikro

5.    Nomina
a.    Nomina dasar
         Yaitu adalah nomina yang hanya terdiri atas satu morfem dan dapat dibagi menjadi nomina dasar umum dan nomina dasar khusus. Contoh :
1)    Adik ingin mimpinya terwujud untuk menjadi dokter.
2)    Para prajurit terjun dari ketinggian 1500 meter dengan menggunakan helikopter.
b.    Nomina Turunan
  Yaitu nomina yang diturunkan melalui proses afiksasi, reduplikasi, atau pemajemukan. Contoh :
1)    Jangan menjadi pemimpi dalam cita-cita.
2)    Heikopter menerjunkan sepasukan penembak jitu ke wilayah pertempuran.

6.    Adjektiva
         Yaitu kata yang menunjukkan sifat, atau keadaan orang, benda atau binatang. Contoh :
a.    Mobilnya tergolong mobil tua.
b.    Rumahnya sangat mewah terlihat dari isi perabotan yang dipajang.

7.    Konjungsi
a.    Koordinatif
         Yaitu konjungsi yang menghubungkan dua atau lebih unsur (termasuk kalimat) yang sama pentingnya atau setara. Contoh : penambahan: dan, pendampingan: serta, pemilihan: atau, pertentangan: tetapi, namun, melainkan, padahal.
Contoh kalimat :
1)  Pak Budiono mendesak ketua dan sekretaris IPM agar menyiapkan proposal Hari Kartini.
2) Jujur saja saya suka dengan karyamu, tetapi sayangnya penyelesaian akhirnya kurang maksimal.
  
b.    Subordinatif
         Yaitu konjungsi yang menghubungkan dua atau lebih klausa yang tidak memiliki status sintaksis yg sama. Contohnya sejak (konjungsi subordinatif waktu), dengan (konjungsi subordinatif alat)
Contoh kalimat :
1)    Sejak kejadian itu, Rini tak mau bertemu dengan siapapun..
2)    Pak tani mengairi sawahnya dengan  menggunakan mesin diesel.

c.     Korelatif
         Yaitu konjungsi berupa kata berpasangan untuk menghubungkan antara dua unsur kalimat yang kedudukannya setara. Contoh konjungsi korelatif : Baik...maupun..., tidak hanya...tetapi juga..., jangankan...-...pun, entah...entah..., bukan hanya...melainkan juga..., apa(kah)...atau..., sedemikian rupa...sehingga..., bukannya...melainkan...
Contoh kalimat :
1)  Baik Andi maupun Puput, keduanya tidak ada yang mau berkata jujur tentang isi hatinya.
2)    Entah benar entah tidak, berita itu sudah membuatnya tidak tenang dalam bekerja.
3) Gambar itu dibuatnya sedemikian rupa sehingga mereka berharap juri mau menerimanya.
4)    Jangankan rumah dan isinya, dunia pun sanggup aku berikan.

d.    Antarkalimat
         Yaitu kata yang menghubungkan antara  kalimat satu degan kalimat yang lain. Sehingga konjungsi ini akan selalu dimulai dengan kalimat baru. Contoh Konjungsi Antarkalimat
1)     Konjungsi yang menyatakan adanya hal, peristiwa, atau keadaan lain di luar dari yang telah dinyatakan sebelumnya. Contoh : tambahan pula , lagi pula , dan selain itu.
Contoh kalimatnya :
a)  Kami tidak juara pada lomba kali ini, lagi pula sekolah kami hanya berlatih seminggu saja.
b) Korban tanah longsor tidak mendapat perhatian pemerintah, ditambah pula  pemerintah sedang fokus menangani kasus KPK dan Polri.
2) Konjungsi yang menyatakan pertentangan dengan yang dinyatakan pada kalimat  sebelumnya. Contoh:  biarpun demikian, sekalipun demikian, walaupun demikian, dan meskipun demikian
Contoh kalimatnya :
a)   Kerugian dalam usaha yang dialaminya sungguh membuat pola hidupnya berubah, namun demikian dia tetap semangat untuk kembali memulai bisnisnya itu.
b)   Kemenangan yang diperolehnya membuat orangtuanya bangga, walaupun demikian dia tidak mau berbesar kepala di depan teman-temannya.
3)   Konjungsi yang menyatakan keadaan yang sebenarnya. Contoh : sesunguhnya dan bahwasanya. 
Contoh kalimatnya :
a) Peristiwa yang menimpanya itu, sesungguhnya bisa dihindari jika dia mau mendengarkan nasihat dari orangtuanya.
b)   Apa yang dilakukannya bahwasanya berdasarkan pada kebenaran.
4)  Konjungsi yang menyatakan lanjutan dari peristiwa atau keadaan pada kalimat sebelumnya. Contoh: sesudah itu, setelah itu, dan selanjutnya.
Contoh kalimat :
a)    Dia pun tersungkur di jalan beraspal itu, sesudah itu warga berdatangan menolong.
b)   Andi bertandang ke rumah Brandon, selanjutnya dia bertamu ke rumah Puput.
5)  Konjungsi yang menyatakan kebalikan dari yang dinyatakan sebelumnya. Contoh: sebaliknya
Contoh kalimat :
a)    Janganlah mengganggu teman yang lemah, sebaliknya kalian sebaiknya melindungi mereka.
b)   Jika kakaknya rajin belajar, sebaliknya adiknya menjadi siswa yang malas.
6)        Konjungsi yang menyatakan pertentangan dengan keadaan sebelumnya. Contoh: namun dan akan tetapi. 
Contoh kalimat :
a)  Persoalan antara keduanya memang sudah diselesaikan dengan cara musyawarah, akan tetapi warga masih meragukan keseriusan kedua pihak untuk berdamai.
b)   Hasil ujian SMPTNnya sungguh memuaskan, namun dia masih belum yakin akan diterima di Perguruan Tinggi Negeri yang diimpikannya.
7)    Konjungsi yang menyatakan kejadian yang mendahului hal yang dinyatakan sebelumnya. Contoh: sebelum itu.
Contoh Kalimat :
a) Polisi tampak tidak kesulitan membekuk anggota gerombolan geng motor itu, sebelum itu ketua geng motor berhasil diamankan terlebih dahulu.
b)  Kita harus mengolah seluruh bahan yang ada, sebelum itu siapkan dahulu loyang yang akan digunakan untuk mencetak.
8)     Konjungsi yang menguatkan keadaan yang dinyatakan sebelumnya. Contoh: malahan dan bahkan. 
Contoh kalimat :
a)    Rindu sering memenangkan lomba MTQ di propinsi, bahkan dia termasuk tilawah terbaik se-Jawa Tengah.
b)   Seluruh peserta seminar diminta melakukan daftar ulang, malahan diminta iuran gotong royong.
9)        Konjungsi yang menyatakan kosekuens. Contoh: dengan demikian. 
Contoh kalimat :
a)  Jika kalian melakukan perbuatan ini lagi, dengan demikian konsekuensinya kamu harus menerima sanksi tegas dari sekolah.
b)   Novi mengakui tindakannya di depan guru BK, dengan demikian dia pun menerima surat peringatan pertama dari sekolah.
10)     Konjungsi yang menyatakan akibat. Contoh:  oleh karena itu dan oleh sebab itu
Contoh kalimat :
a)  Satu kelas berminat pergi ke Jakarta bulan depan, oleh sebab itu mereka pun mau iuran Rp 5.00,00 tiap hari.
b) Para siswa senang dengan hasil kerja mereka, oleh karena itu mereka berencana mengadakan syukuran bersama wali kelasnya.

8.    Pronomina
      Yaitu kata yang dipakai untuk mengacu pada nomina atau kata benda lain. Terdapat tiga jenis pronomina dalam bahasa Indonesia, yaitu:
a.     Pronomina persona 
         Adalah pronomina yang digunakan untuk acuan berupa manusia. Contoh: saya, aku, engkau, kau, kamu, ia, dia, -nya, -mu, -ku, dan lain-lain.
b.     Pronomina penunjuk 
         Adalah pronomina yang dipakai untuk penunjuk umum, arah dan tempat. Contoh: ini, itu, di sana, di sini.
c.     Pronomina penanya 
         Adalah pronomina yang digunakan untuk menanyakan hal berupa manusia, barang, atau pilihan. Contoh: siapa, apa dan mana.

9.    Prepopsisi
         Yaitu kata-kata yang digunakan untuk merangkaikan nomina dengan verba di dalam suatu klausa. Preposisi juga dimaknai kata yang digunakan di depan kata benda yang berfungsi untuk merangkaikan kata benda itu dengan bagian kalimat lain. Contoh: di-, ke-, dari, pada, oleh, tanpa, demi, dan lain-lain.
Contoh kalimat:
a.    Ketika pergi tamasya ­ke Hongkong Mira membawa seluruh keluarganya.
b.    Untuk sampai di pelabuhan, anda harus naik angutan kota dari terminal Bungorasih.
c.     Tanpa bantuan orangtuanya, mereka tidak akan mampu menyelesaikan sekolahnya.

10. Artikula
         Yaitu kata tugas yang membatasi  makna nomina atau kategori yang mendampingi nomina dasar. Artikula disebut juga kata sandang. Contoh: si, sri, sang, hang (laki-laki), dang (perempuan), para, kaum, umat, yang.
Contoh kalimat:
a.    Adik suka mendengar cerita Si Kancil.
b.    Kedatangan Sri Baginda disambut dengan taburan bunga-bunga di sepanjang jalan.
c.     Kini dia resmi diangkat sebagai Sang Pangeran.
d.    Saat itu Hang Tuah memutuskan untuk melanjutkan perjalanannya.
e.    Dang Merdu menjadi terkenal dengan hikayatnya yang cukup menyentuh.

11. Kalimat Simpleks dan Kalimat Kompleks
a.    Kalimat Simpleks
         Yaitu kalimat yang terdiri dari satu verba utama yang menggambarkan aksi, peristiwa, atau keadaan. Kalimat simpleks disebut juga kalimat tunggal, karena hanya terdiri dari satu struktur yaitu subjek-predikat-(objek)-(keterangan)-(pelengkap). Struktur yang berada di dalam tanda kurung merupakan unsur yang tidak selalu ada dalam kalimat simpleks.
      Contoh kalimat Simpleks dengan variasi strukturnya :
1)    Kakek    mambaca    koran    di ruang tamu.
     S              P                O         Ket. Tempat
2)    Kakak    menyapu    rumah.
    S                P               O
3)    Sampah itu    dibuang    Adik.
         O                P            S

b.    Kalimat Kompleks
         Yaitu kalimat yang terdiri dari lebih dari satu aksi, peristiwa atau keadaan sehingga memiliki lebih dari satu verba utama dalam lebih dari satu struktur. Antara struktur yang satu dengan struktur yang lainnya biasanya dihubungkan dengan menggunakan konjungsi. Contoh kalimat kompleks:
1)    Seruni    tetap pergi    mengaji    padahal       cuaca      saat itu       hujan.
     S                  P             O          Konjungsi       S         Ket.Wkt     Predikat
2)    Saat           ayah     mengerjakan     tugas,   ibu    di rumah    membuat      kue.
Ket.Wkt      S                    P                O        S      Ket.Tmpt          P            O