Senin, 09 September 2013



NILAI-NILAI PENDIDIKAN KARAKTER BANGSA


  1. Religius, yakni ketaatan dan kepatuhan dalam memahami dan melaksanakan ajaran agama (aliran kepercayaan) yang dianut, termasuk dalam hal ini adalah sikap toleran terhadap pelaksanaan ibadah agama (aliran kepercayaan) lain, serta hidup rukun dan berdampingan.
  2. Jujur, yakni sikap dan perilaku yang menceminkan kesatuan antara pengetahuan, perkataan, dan perbuatan (mengetahui apa yang benar, mengatakan yang benar, dan melakukan yang benar) sehingga menjadikan orang yang bersangkutan sebagai pribadi yang dapat dipercaya.
  3. Toleransi, yakni sikap dan perilaku yang mencerminkan penghargaan terhadap perbedaan agama, aliran kepercayaan, suku, adat, bahasa, ras, etnis, pendapat, dan hal-hal lain yang berbeda dengan dirinya secara sadar dan terbuka, serta dapat hidup tenang di tengah perbedaan tersebut.
  4. Disiplin, yakni kebiasaan dan tindakan yang konsisten terhadap segala bentuk peraturan atau tata tertib yang berlaku.
  5. Kerja keras, yakni perilaku yang menunjukkan upaya secara sungguh-sungguh (berjuang hingga titik darah penghabisan) dalam menyelesaikan berbagai tugas, permasalahan, pekerjaan, dan lain-lain dengan sebaik-baiknya.
  6. Keratif, yakni sikap dan perilaku yang mencerminkan inovasi dalam berbagai segi dalam memecahkan masalah, sehingga selalu menemukan cara-cara baru, bahkan hasil-hasil baru yang lebih baik dari sebelumnya.
  7. Mandiri, yakni sikap dan perilaku yang tidak tergantung pada orang lain dalam menyelesaikan berbagai tugas maupun persoalan. Namun hal ini bukan berarti tidak boleh bekerjasama secara kolaboratif, melainkan tidak boleh melemparkan tugas dan tanggung jawab kepada orang lain.
  8. Demokratis, yakni sikap dan cara berpikir yang mencerminkan persamaan hak dan kewajiban secara adil dan merata antara dirinya dengan orang lain.
  9. Rasa ingin tahu, yakni cara berpikir, sikap, dan perilaku yang mencerminkan penasaran dan keingintahuan terhadap segala hal yang dilihat, didengar, dan dipelajari secara lebih mendalam.
  10. Semangat kebangsaan atau nasionalisme, yakni sikap dan tindakan yang menempatkan kepentingan bangsa dan negara di atas kepentingan pribadi atau individu dan golongan.
  11. Cinta tanah air, yakni sikap dan perilaku yang mencerminkan rasa bangga, setia, peduli, dan penghargaan yang tinggi terhadap bahasa, budaya, ekomoni, politik, dan sebagainya, sehingga tidak mudah menerima tawaran bangsa lain yang dapat merugikan bangsa sendiri.
  12. Menghargai prestasi, yakni sikap terbuka terhadap prestasi orang lain dan mengakui kekurangan diri sendiri tanpa mengurangi semangat berprestasi yang lebih tinggi.
  13. Komunikatif, senang bersahabat atau proaktif, yakni sikap dan tindakan terbuka terhadap orang lain melalui komunikasi yang santun sehingga tercipta kerja sama secara kolaboratif dengan baik.
  14. Cinta damai, yakni sikap dan perilaku yang mencerminkan suasana damai, aman, tenang, dan nyaman atas kehadiran dirinya dalam komunitas atau masyarakat tertentu.
  15. Gemar membaca, yakni kebiasaan dengan tanpa paksaan untuk menyediakan waktu secara khusus guna membaca berbagai informasi, baik buku, jurnal, majalah, koran, dan sebagainya, sehingga menimbulkan kebijakan bagi dirinya.
  16. Peduli lingkungan, yakni sikap dan tindakan yang selalu berupaya menjaga dan melestarikan lingkungan sekitar.
  17. Peduli sosial, yakni sikap dan perbuatan yang mencerminkan kepedulian terhadap orang lain maupun masyarakat yang membutuhkannya.
  18. Tanggung jawab, yakni sikap dan perilaku seseorang dalam melaksanakan tugas dan kewajibannya, baik yang berkaitan dengan diri sendiri, sosial, masyarakat, bangsa, negara, maupun agama.

Selasa, 03 September 2013

MENYAMPAIKAN LAPORAN ATAU PRESENTASI LISAN 


A.PENGERTIAN LAPORAN 
Laporan adalah suatu cara berkomunikasi (tertulis/lisan) yang berisi informasi sebagai hasil dari sebuah tanggung jawab yang dibebankan kepada pembuatnya. Dengan kata lain, laporan merupakan bukti pertanggungjawaban penerima tugas kepada pemberi tugas atas tugas yang telah dilaksanakan. Laporan juga berarti sebuah dokumentasi yang berisi informasi (fakta-fakta) dari hasil penyelidikan suatu masalah sebagai bahan acuan pemikiran, penilaian serta tindakan. Sifat laporan berhubungan secara struktural atau kedinasan antara pihak yang mendapat tugas dan pihak yang memberi tugas. Laporan lebih banyak disampaikan dalam bentuk tertulis dan juga bisa disampaikan secara lisan. 

 B. MANFAAT LAPORAN 
  1. Alat pertanggungjawaban secara tertulis. 
  2. Pendokumentasian data. 
  3. Bahan pertimbangan dan acuan dalam mengambil keputusan. 
  4. Alat merumuskan suatu penilaian/evaluasi. 
  5. Bahan penilaian/evaluasi terhadap pekerjaan. 
  6. Melatih berpikir dan bekerja sistematis/berurutan dan terarah. 

C. CIRI-CIRI LAPORAN 
Suatu laporan yang baik harus memenuhi mutu berikut ini: 
  1. Cermat 
  2. Tepat waktu 
  3. Memadai 
  4. Jelas 
  5. Sederhana 

Jika mutu tersebut terpenuhi, laporan yang baik (berbentuk tulisan maupun lisan) akan menunjukkan ciri-ciri atau kriteria dilihat dari tiga hal berikut : 
  1. Isi laporan mencakup kelengkapan fakta, data yang akurat, faktual, dan objektif. 
  2. Penyajian mencakup penggunaan bahasa yang baik, jelas dan tepat, sistematik serta menarik 
  3. Penyajian lisan harus disampaikan dengan vokal yang jelas, pengucapan, lafal, intonasi yang tepat dan gaya ekspresif yang sesuai. 

Penyajian secara tertulis memperhatikan sistematika penulisan yang sesuai jenis laporan. 

 D. JENIS LAPORAN 
1. Berdasarkan Bentuknya 
  • Laporan berbentuk formulir; berupa blangko dan kita tinggal mengisi 
  • Laporan berbentuk memorandum/memo; berupa perintah yang diuraikan singkat, dibuat untuk orang-orang dalam satu instansi. 
  • Laporan berbentuk surat; berupa lembar kerja yang melaporkan berbagai topik. 
  • Laporan berbentuk naskah; berupa makalah; terdiri dari beberapa topik dan subtopik. 
  • Laporan berbentuk buku, disusun dalam bentuk buku seperti skripsi, tesis, dan disertasi. 

2. Berdasarkan Cara Penyampaiannya 
a. Laporan Formal 
Yaitu laporan yang struktur penulisannya lengkap; meliputi : 
  1. halaman judul 
  2. halaman pengesahan 
  3. kata pengantar 
  4. daftar isi 
  5. daftar tabel (jika ada) 
  6. daftar grafik (jika ada) 
  7. pendahuluan, berisi latar belakang, tujuan, manfaat, ruang lingkup masalah/objek, pembatasan masalah/objek. 
  8. bagian isi, berisi uraian pembahasan tentang masalah atau objek yang dilaporkan serta hasil yang dicapai 
  9. simpulan dan saran, berisi hal-hal pokok atau intisari dari pembahasan laporan serta penyampaian keinginan pelapor terhadap hal-hal yang berkaitan dengan laporan yang belum atau seharusnya ada. 

Laporan formal sangat terikat oleh struktur penulisan. Contoh laporan formal ialah laporan tentang keadaan dan perkembangan proyek yang sedang dilaksanakan, laporan penelitian ilmiah, dan laporan percobaan. 

b. Laporan Nonformal 
Yaitu laporan yang struktur penulisannya sederhana; memiliki sistematika penulisan sendiri/tidak bersifat standar. Jenis laporan nonformal meliputi : 
  1. Laporan Perjalanan 
  2. Laporan Pengamatan/Observasi 
  3. Laporan Praktikum/Penyelidikan/Eksperimen 
  4. Laporan Studi Literatur 




E. POLA PENYAJIAN LAPORAN 
Sebelum menyajikan laporan secara lisan, laporan dapat disusun terlebih dahulu secara tertulis. Laporan yang sudah disusun dapat disampaikan secara lisan atau dipresentasikan. Untuk menyampaikan laporan secara lisan, hal-hal yang perlu diperhatikan, yaitu seperti berikut : 
  1. Memberi tahu jenis laporan yang akan disampaikan. 
  2. Menyampaikan pengantar sekilas tentang latar belakang pembuatan laporan 
  3. Menyampaikan proses memperoleh bahan laporan 
  4. Memberikan gambaran secara umum tentang sistematika laporan 
  5. Menyampaikan isi laporan dengan bahasa yang baik, formal, dan efektif 
  6. Memberikan penekanan pada uraian mengenai fakta jika berbentuk laporan naratif dan deskriptif 
  7. Memberikan penekanan pada alur proses atau tahapan jika laporan berbentuk ekspositoris 

Bentuk uraian laporan dapat disajikan dengan pola penyajian narasi, deskripsi, ekspositoris, argumentatif dan persuasif. 
1. Pola penyajian laporan bersifat narasi 
Laporan ini lebih menekankan uraian secara kronologis, yaitu berdasarkan rangkaian waktu. Isi laporan bersifat penceritaan atau pemaparan peristiwa tentang objek yang dilaporkan. Yang termasuk laporan ini misalnya, laporan perjalanan, laporan peliputan peristiwa, dan laporan berita (reportase). Laporan ini bersifat pengungkapan fakta pada sebuah peristiwa atau keadaan. Oleh sebab itu, laporan ini dituntut harus faktual (berdasarkan yang ada), aktual berkaitan realita dengan kejadian yang baru terjadi, akurat berdasarkan bukti -bukti yang dapat dipertanggungjawabkan dan objektif (apa adanya). Sebagaimana sebuah berita, pengungkapan informasinya bermuatan 5 W + I H (what: apa, who: siapa, where: dimana, when: kapan, why: mengapa dan how: bagaimana). 

2. Pola penyajian laporan bersifat deskripsi. 
 Laporan ini lebih terfokus pada penggambaran mengenai lokasi, tempat, dan bentuk fisik serta ciri-ciri objek yang dilaporkan. Yang termasuk laporan deskripsi ialah laporan pengamatan, laporan kunjungan, laporan observasi, dan sebagainya. 

3. Pola penyajian laporan bersifat ekspositoris. 
Laporan ini berupa uraian yang berisi langkah-langkah kerja, proses kejadian, atau pemaparan mengenai tahapantahapan perkembangan objek yang dilaporkan. Yang termasuk laporan bersifat ekspositoris adalah laporan penelitian, laporan percobaan, laporan pertanggungjawaban uraian pekerjaan yang menggunakan tahapan, dan sebagainya. 

4. Pola penyajian laporan bersifat argumentatif 
Laporan ini berupa penyampaian pendapat/opini yang disertai alasan/argumen untuk membuktikan suatu kebenaran sehingga pembaca meyakininya. Contohnya opini pembaca di surat kabar, artikel surat kabar, dll. 

5. Pola penyajian laporan bersifat persuasif 
Laporan ini berupa pernyataan-pernyataan yang bertujuan mempengaruhi, mengajak, atau memprovokasi pembaca untuk mengikuti apa yang disampaikan oleh pembicara. Contoh laporan persuasif adalah laporan berupa penjualan barang/jasa, laporan pelaksanaan kegiatan, dll.

Senin, 06 Agustus 2012

SUKSESKAN DIRI ANDA!!! (???)

     Sebagian besar bahkan semua orang pasti ingin meraih kesuksesan dalam hidupnya. Tingkat kesuksesan itu relatif bagi setiap orang. Apa sih orang sukses itu? Sebenarnya orang yang sukses adalah orang yang mampu menyukseskan dirinya dan mampu menyukseskan orang lain. Segala potensi dan kompetensi diri yang kita miliki (ilmu, harta, tenaga, dan pikiran) harus mampu membangkitkan dan memberikan motivasi bagi diri dan orang lain.
     Tidak seorang pun yang akan menolak kesuksesan tetapi tidak sedikit orang yang belum tahu bahkan tidak tahu cara mengoptimalkan setiap potensi dan kompetensi dirinya untuk dapat mencapai kesuksesan. Sesungguhnya ada berbagai cara untuk dapat meraih kesuskesan yang hakiki. Untuk mencapai kesuksesan yang hakiki sudah pasti memerlukan proses dan perlu menempuh jalan panjang. Namun, ada rumus sederhana agar setiap potensi diri kita mampu menjadi alat penunjang dalam meraih kesuksesan. Caranya adalah dengan mengaplikasikan dan mengimplementasikan rumus 7 B. Jika setiap tahapan dan proses menuju kesuksesan itu dilaksanakan dengan baik maka kesuksesan sudah menjadi ,ilik kita.
     Kita awali dengan B yang pertama yaitu beribadah dengan benar sesuai dengan keyakinan yang dianut. Jika seseorang benar dalam beribadah, selalu melakukan kebaikan dan menjauhi segala perbuatan yang dilarang dan bertentangan dengan norma agama maka maka jalan kesuksesan akan terbuka.  
     B yang kedua yaitu bertingkah laku yang baik. Artinya, dalam berinteraksi dengan orang lain senantiasa menerapkan pola 3 S yaitu senyum, salam, dan sapa.
      B yang ketiga yaitu belajar tiada henti. Setiap hari problematika hidup terus tumbuh seiring dengan perkembangan dan pertumbuhan manusia. Bagaimana manusia mampu mengatasi dan menyelesaikan masalahnya jika ilmunya masih seadanya. Oleh karena itu, manusia harus selalu meningkatkan kualitas dirinya dengan terus belajar. Orang yang merindukan dan mendamba kesuksesan maka dia akan mencintai ilmu dan terus belajar.
     B yang keempat yaitu bekerja keras dengan cerdas dan ikhlas. Banyak orang yang bekerja dengan keras untuk mencapai kesuksesan tetapi dia kurang mengoptimalkan akal dan hatinya dalam bekerja sehingga hidupnya pun selalu keras.  
     B yang kelima adalah bersahaja dalam hidup. Mungkin Anda ingat dengan pepatah “hemat pangkal kaya” untuk meraih kesuksesan maka seseorang harus mampu mengelola hidupnya. Mampu memanajemen waktunya dengan budaya disiplin, mampu mengelola keuangan dengan menerapkan budaya hidup sederhana dan berhemat.
     B yang keenam adalah Bantu sesama. Membantu tidak berarti dengan uang atau harta benda tetapi juga bisa dalam bentuk tenaga dan pikiran. Kita bisa membantu dengan memotivasi teman yang membutuhkan saran kita (curhat), menolong anak kecil yang jatuh dari sepedanya, dan lain-lainnya.  
      B yang ketujuh adalah bersihkan hati. Penyakit hati yang dibiarkan tumbuh dalam diri kita akan menghambat kemajuan kita dalam meraih kesuksesan. Rasa malas, cepat puas, penunda, takut risiko, tidak berdisiplin dalam waktu, santai, tidak mau lelah, merendahkan orang lain dan sombong adalah beberapa jenis penyakit hati yang menjadi batu penghalang kita dalam menempuh jalan menuju kesuksesan.
Semoga kita mampu menaiki setiap anak tangga menuju puncak kesuksesan yang kita cita-citakan. Amin Allohumma Amin.

Rabu, 25 Juli 2012

SENI TEATER INDONESIA


Seni Pertunjukan Indonesia
A.   SEJARAH TEATER
          Di antaranya teori tentang asal mula teater adalah sebagai berikut.
1.    Berasal dari upacara agama primitif. Unsur cerita ditambahkan pada upacara semacam itu yang akhirnya berkembang menjadi pertunjukan teater. Meskipun upacara agama telah lama ditinggalkan  tapi teater ini hidup terus hingga sekarang.
2.    Berasal dari nyanyian untuk menghormati seorang pahlawan di kuburannya. Dalam acara ini seseorang mengisahkan riwayat hidup sang pahlawan yang lama kelamaan diperagakan dalam bentuk teater.
3.    Berasal dari kegemaran manusia mendengarkan cerita. Cerita itu kemudian juga dibuat dalam bentuk teater
          The Theatre berasal dari kata Yunani Kuno, Theatron yang berarti seeing place atau tempat menyaksikan atau tempat dimana aktor mementaskan lakon dan orang-orang menontonnya. Sedangkan istilah teater atau dalam bahasa Inggrisnya theatre mengacu kepada aktivitas melakukan kegiatan dalam seni pertunjukan, kelompok yang melakukan kegiatan itu dan seni pertunjukan itu sendiri. teater selalu dikaitkan dengan kata drama yang berasal dari kata Yunani Kuno, Draomai yang berarti bertindak atau berbuat. Kata drama juga dianggap telah ada sejak era Mesir Kuno (4000-1580 SM), sebelum era Yunani Kuno (800-277 SM). Hubungan kata teater dan drama bersandingan sedemikian erat seiring dengan perlakuan terhadap teater yang mempergunakan drama ’lebih identik sebagai teks atau naskah atau lakon atau karya sastra.
          Dari penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa istilah “teater” berkaitan langsung dengan pertunjukan, sedangkan “drama” berkaitan dengan lakon atau naskah cerita yang akan dipentaskan. Jadi, teater adalah visualisasi dari drama atau drama yang dipentaskan di atas panggung dan disaksikan oleh penonton. Jika “drama” adalah lakon dan “teater” adalah pertunjukan maka “drama” merupakan bagian atau salah satu unsur dari “teater”. 

      Di Indonesia, pada tahun 1920-an, belum muncul istilah teater. Yang ada adalah sandiwara atau tonil (dari bahasa Belanda: Het Toneel). Istilah Sandiwara konon dikemukakan oleh Sri Paduka Mangkunegoro VII dari Surakarta. Kata sandiwara berasal dari bahasa Jawa “sandi” berarti “rahasia”, dan “wara” atau “warah” yang berarti, “pengajaran”
       Menurut Ki Hajar Dewantara “sandiwara” berarti “pengajaran yang dilakukan dengan perlambang” (Harymawan, 1993). Rombongan teater pada masa itu menggunakan nama Sandiwara, sedangkan cerita yang disajikan dinamakan drama. Sampai pada Zaman Jepang dan permulaan Zaman Kemerdekaan, istilah sandiwara masih sangat populer. Istilah teater bagi masyarakat Indonesia baru dikenal setelah Zaman Kemerdekaan (Kasim Achmad, 2006).
          Terlepas dari sejarah dan asal kata yang melatarbelakanginya, seni teater merupakan suatu karya seni yang rumit dan kompleks, sehingga sering disebut dengan collective art atau synthetic art artinya teater merupakan sintesa dari berbagai disiplin seni yang melibatkan berbagai macam keahlian dan keterampilan. Seni teater menggabungkan unsur-unsur audio, visual, dan kinestetik (gerak) yang meliputi bunyi, suara, musik, gerak serta seni rupa. Seni teater merupakan suatu kesatuan seni yang diciptakan oleh penulis lakon,  sutradara, pemain (pemeran), penata artistik, pekerja teknik, dan diproduksi oleh sekelompok orang produksi. Sebagai seni kolektif, seni teater dilakukan bersama-sama yang mengharuskan semuanya sejalan dan seirama serta perlu harmonisasi dari keseluruhan tim.


B.   DEFINISI TEATER
        Teater berasal dari kata Yunani, theatron” (bahasa Inggris, Seeing Place) yang artinya tempat atau gedung pertunjukan. Dalam perkembangannya, dalam pengertian lebih luas kata teater diartikan sebagai segala hal yang dipertunjukkan di depan orang banyak. Dapat disimpulkan teater adalah pertunjukan lakon yang dimainkan di atas pentas dan disaksikan oleh penonton.
        Keterikatan antara teater dan drama sangat kuat. Teater tidak mungkin dipentaskan tanpa lakon (drama). Artinya, sebelum sebuah teater dapat ditampilkan perlu diawalai denganan adanya seni atau tekhnik penulisan drama (naskah) yang penyajiannya dalam bentuk teater. Seni atau teknik ini dikenal dengan istilah dramaturgi. Dramaturgi merupakan kegiatan membahas proses penciptaan teater mulai dari penulisan naskah hingga pementasannya.
       Ada formula atau tahapan dasar untuk mempelajari dramaturgi. Tahapan ini dikenal dengan formula 4 M yaitu menghayal, menulis, memainkan dan menyaksikan. Penjelasannya adalah sebagai berikut :
      M1 atau menghayal, dapat dilakukan oleh seseorang atau sekelompok orang karena menemukan sesuatu gagasan yang merangsang daya cipta. Gagasan itu timbul karena perhatian ditujukan pada suatu persitiwa baik yang disaksikan, didengar maupun dibaca dari literatur tertentu.
      M2 atau menulis, adalah proses seleksi atau pemilihan situasi yang harus dihidupkan begi keseluruhan lakon oleh pengarang. Dalam sebuah lakon, situasi merupakan kunci aksi. Setelah menemukan kunci aksi ini, pengarang mulai mengatur dan menyusun kembali situasi dan peristiwa menjadi pola lakon tertentu. Di sini seorang pengarang memiliki kisah untuk diceritakan, kesan untuk digambarkan, suasana hati para tokoh untuk diciptakan, dan semua unsur pembentuk lakon untuk dikomunikasikan.
      M3 atau memainkan, merupakan proses para aktor memainkan kisah lakon di atas pentas. Tugas actor dalam hal ini adalah mengkomunikasikan ide serta gagasan pengarang secara hidup kepada penonton. Proses ini melibatkan banyak orang yaitu, sutradara sebagai penafsir pertama ide dan gagasan pengarang, aktor sebagai komunitakor, penata artsitik sebagaiyang mewujudkan ide dan gagasan secara visual serta penonton sebagai komunikan orang .
      M4 atau menyaksikan, merupakan proses penerimaan dan penyerapan informasi atau pesan yang disajikan oleh para pemain di atas pentas oleh para penonton. Pementasan teater dapat dikatakan berhasil jika pesan yang hendak disampaikan dapat diterima dengan baik oleh penonton. Penonton pergi menyaksikan pertunjukan dengan maksud pertama untuk memperoleh kepuasan atas kebutuhan dan keinginannya terhadap tontonan tersebut.



C.  TEATER INDONESIA
1.    Teater Tradisional Indonesia
       Teater tradisional merupakan bagian dari suatu upacara keagamaan ataupun upacara adat-istiadat dalam tata cara kehidupan masyarakat Indonesia. Setelah melepaskan diri dari kaitan dengan upacara, unsur-unsur teater berkembang menjadi seni pertunjukan rakyat. Beberapa seni pertunjukan rakyat yang tergolong teater adalah :



a.    Wayang (Kulit/Orang)
       Wayang Kulit merupakan suatu bentuk teater tradisional yang sangat tua. Pada Prasasti Balitung dengan tahun 907 Masehi diketahui bahwa pada saat itu telah dikenal adanya pertunjukan wayang. Petunjuk lain, dalam sebuah kakawin Arjunawiwaha karya Mpu Kanwa, pada Zaman Raja Airlangga dalam abad ke-11.
       Awal mula adanya wayang, yaitu saat Prabu Jayabaya bertakhta di Mamonang pada tahun 930. Sang Prabu ingin mengabadikan wajah para leluhurnya dalam bentuk gambar yang kemudian dinamakan Wayang Purwa. Dalam gambaran itu diinginkan wajah para dewa dan manusia Zaman Purba. Pada mulanya hanya digambar di dalam rontal (daun tal). Orang sering menyebutnya daun lontar. Kemudian berkembang menjadi wayang kulit sebagaimana dikenal sekarang.
       Wayang Orang adalah bentuk teater tradisional Jawa yang berasal dari Wayang Kulit yang dipertunjukan dalam bentuk berbeda: dimainkan oleh orang, lengkap dengan menari dan menyanyi, seperti pada umumnya teater tradisional dan tidak memakai topeng. Pertunjukan wayang orang terdapat di Jawa Tengah dan Jawa Timur. Sedangkan di Jawa Barat ada juga pertunjukan wayang orang (terutama di Cirebon) tetapi tidak begitu populer.

LONGSER
      b.    Longser
       Ada pendapat yang mengatakan bahwa longser berasal dari kata melong (melihat) dan seredet (tergugah). Artinya barang siapa melihat menonton) pertunjukan, hatinya akan tergugah. Pertunjukan longer sama dengan pertunjukan kesenian rakyat yang terdapat di Jawa Barat, termasuk kelompok etnik Sunda. Ada beberapa jenis teater rakyat di daerah etnik Sunda serupa dengan longser, yaitu banjet. Ada lagi di daerah (terutama, di Banten), yang dinamakan ubrug, doger, dan lengger.

c.    Ketoprak
KETOPRAK
       Paling populer, terutama di daerah Yogyakarta dan daerah Jawa Tengah dan Jawa Timur. Pada mulanya ketoprak merupakan permainan orang-orang desa yang sedang menghibur diri dengan menabuh lesung pada waktu bulan purnama, yang disebut gejogan. Ketoprak merupakan salah satu bentuk teater rakyat yang sangat memperhatikan bahasa yang digunakan. Bahasa sangat memperoleh perhatian, meskipun yang digunakan bahasa Jawa, namun harus memperhatikan penggunaan tingkat-tingkat (unggah-ungguh) bahasa, tetapi juga kehalusan bahasa.

LUDRUK
   d.    Ludruk
       Ludruk merupakan teater tradisionaldi daerah Jawa Timur, berasal dari daerah Jombang. Bahasa yang digunakan adalah bahasa Jawa dengan dialek Jawa Timuran. Pemain ludruk semuanya adalah pria. Untuk peran wanitapun dimainkan oleh pria. Hal ini merupakan ciri khusus ludruk. Padahal sebenarnya hampir seluruh teater rakyat di berbagai tempat, pemainnya selalu pria (randai, dulmuluk, mamanda, ketoprak), karena pada zaman itu wanita tidak diperkenankan muncul di depan umum.

MAKYONG
e.    Makyong
       Suatu jenis teater tradisional yang paling tua dan terdapat di pulau Mantang, salah satu pulau di daerah Riau. Dimainkan dengan menggunakan media ungkap tarian, nyanyian, laku, dan dialog dengan membawa cerita-cerita rakyat yang sangat populer di daerahnya. Cerita-cerita rakyat tersebut bersumber pada sastra lisan Melayu.

RANDAI
   f.      Randai
       Merupakan suatu bentuk teater tradisional yang bersifat kerakyatan yang terdapat di daerah Minangkabau, Sumatera Barat. Randai bertolak dari sastra lisan yang disebut “kaba” (dapat diartikan sebagai cerita). Bakaba artinya bercerita. Ada dua unsur pokok yang menjadi dasar Randai, yaitu unsur penceritaan dan unsur laku serta gerak/tari (dasar silat Minangkabau).


g. Lenong
 Lenong merupakan teater rakyat Betawi. Pemakaian kata daerah “Betawi”, dan bukan Jakarta, menunjukan bahwa yang dibicarakan adalah teater masa lampau. Pada saat itu, di Jakarta, yang masih bernama Betawi (orang Belanda menyebutnya: Batavia) terdapat empat jenis teater tradisional yang disebut topeng Betawi, lenong, topeng blantek, dan jipeng atau jinong. Pada kenyataannya keempat teater rakyat tersebut banyak persamaannya. Perbedaan umumnya hanya pada cerita yang dihidangkan dan musik pengiringnya.

h.    Ubrug
       Ubrug merupakan teater tradisional bersifat kerakyatan yang terdapat di daerah Banten. Ubrug menggunakan bahasa daerah Sunda, campur Jawa dan Melayu, serupa dengan topeng banjet yang terdapat di daerah Karawang. Ubrug dapat dipentaskan di mana saja, seperti halnya teater rakyat lainnya. Dipentaskan bukan saja untuk hiburan, tetapi juga untuk memeriahkan suatu “hajatan”, atau meramaikan suatu “perayaan”. Gaya penyajian cerita umumnya dilakukan seperti pada teater rakyat, menggunakan gaya humor (banyolan), dan sangat karikatural sehingga selalu mencuri perhatian para penonton.

Coming Soon :

2.    Teater Modern Indonesia
a.    Teater Transisi
b.    Teater Indonesia Tahun 1920-an
c.    Teater Indonesia Tahun 1940-an
d.    Teater Indonesia Tahun 1950-an
e.    Teater Indonesia Tahun 1970-an
f.      Teater Indonesia Tahun 1980 s.d. 1990-an
g.    Teater Indonesia Kontemporer