Minggu, 10 Januari 2016

PELAJARAN 1 MENGENAL KEARIFAN DALAM PERISTIWA SEJARAH DUNIA


A.   PENGERTIAN TEKS CERITA SEJARAH
        Teks cerita sejarah adalah teks yang berisi rangkaian peristiwa atau kejadian yang terjadi di masa lampau. Pencatatan peristiwa sejarah yang terjadi pada masa lampau termasuk dalam teks cerita ulang atau teks rekon (recount). Pengalaman manusia di masa lampau dapat dibangkitkan atau dihidupkan kembali melalui teks cerita ulang. Berbagai nilai dan kearifan yang terdapat dalam peristiwa sejarah merupakan kekayaan yang dapat digunakan sebagai pembelajaran untuk mengatasi secara bijak persoalan yang dihadapi demi mempersiapkan masa depan yang lebih baik.
            Mengetahui peristiwa sejarah tidak hanya asebatas proses transformasi pengetahuan mengenai fakta masa lalu belaka tetapi yang terpenting adalah bagaimana belajar dari sejarah tersebut. Dengan mengingat masa lalu, memahami masa kini dan mempersiapkan masa depan maka diyakini seseorang akan dapat meraih cita-cita di masa depan. Belajar dari sejarah akan menjadikan seseorang dapat melakukan transformasi nilai yang perlu diteladani, menjadikan seseorang mampu memilih dan memilah hal yang baik dan buruk. Oleh karena itu, sejarah tidak serta merta dapat dijadikan solusi dalam memecahkan permasalahan yang dihadapi saat ini tetapi sejarah dapat memberikan kemungkinan bagi siapapun yang mendapatkan pengetahuan tentang berbagai usaha manusia di masa lalu, baik tentang keberhasilan maupun kegagalan dalam menghadapi persoalan yang dihadapi.
         Peristiwa sejarah merupakan peristiwa yang terjadi pada masa lampau. Peristiwa sejarah sebagai proses atau dinamika dalam konteks historis termasuk dalam ilmu empiris (berdasarkan pengalaman; observasi, praktik, eksperimen, discovery) sangat bergantung pada pengalaman manusia sehingga sejarah pun dikategorikan sebagai ilmu kemanusiaan. Hal tersebut dikarenakan sejarah membicarakan manusia dari segi waktu seperti perkembangan masyarakat dari satu bentuk ke bentuk lainnya, kesinambungan sejarah yang terjadi dalam suatu masyarakat, pengulangan peristiwa yang terjadi pada masa lampau, perubahan pada masyarakat karena berbagai faktor, biasanya pengaruh dari luar masyarakat itu sendiri.
Syarat sebuah peristiwa dapat dikatakan sebagai peristiwa sejarah apabila peristiwa itu dapat dikorelasikan dengan peristiwa lain sebagai bagian dari suatu proses atau dinamika dalam konteks historis. Jadi antara peristiwa tersebut terdapat hubungan sebab akibat (kausalitas) yang menunjukkan kesinambungan beberapa peristiwa. Dalam sejarah, yang tunduk pada fakta, ada empat hal yang harus diperhatikan yaitu :
1.    Perkembangan peristiwa sejarah
2.    Kesinambungan peristiwa sejarah
3.    Pengulangan peristiwa sejarah

4.    Perubahan manusia dalam kehidupan masyarakat
            
B.    CARA PENYUSUNAN PERISTIWA SEJARAH
             Untuk menyusun sebuah peristiwa sejarah dalam bentuk teks cerita ulang maka ada beberapa langkah yang dapat dilakukan yaitu :
  1. 1.    Mendapatkan informasi sejarah pada masa lampau.
  2. 2.  Mengumpulkan data yang tepat, akurat serta autentik tentang peristiwa sejarah dari berbagai sumber, baik lisan maupun tulisan maupun berbentuk benda-benda yang berkorelasi dengan peristiwa sejarah yang dimaksud.
  3. 3.  Meneliti secara cermat informasi sejarah yang didapat, dibandingkan satu sama lain lalu diinterpretasikan.
  4. 4. Membagi dan memilah berbagai kejadian dalam sebuah batasan waktu tertentu melalui periodisasi atau kurun waktu perisitwa sejarah menjadi pembabakan.
  5. 5. Merekonstruksi informasi tentang peristiwa sejarah yang diperoleh menjadi kisah sejarah yang mudah dipahami.


C.    CARA PENYUSUNAN PERIODISASI SEJARAH
             Periodisasi dalam peristiwa sejarah sangat penting sebab peristiwa sejarah pasti berlangsung dalan kurun waktu yang lama dan berkesinambungan tak terputus dalam satu periodisasi saja. Dengan membagi dan memilah peristiwa atau kejadian dalam pembabakan akan memudahkan pembaca untuk memahami dan mempelajari sebuah cerita sejarah. Periodisasi dapat dilakukan dengan cara membagi dan memilah berbagai kejadian berdasarkan batasan waktu tertentu secara kronologis sesuai dengan urutan waktu dari suatu peristiwa sejarah. Urutan dalam menyusun periodisasi sejarah adalah :
1.    Mengklasifikasikan peristiwa sejarah berdasarkan jenis dan bentuknya.
Tujuannya agar cerita sejarah yang dihasilkan fokus pada esensi, karakteristik, ciri-ciri  dan masalah yang dipaparkan  tanpa melenceng dari fakta sejarah. Jenis dan Bentuk sejarah dapat diklasifikasikan menjadi :
a.    Sejarah tentang seseorang atau tokoh dalam masyarakat atau bangsa.
Mengangkat  cerita sejarah seorang tokoh dengan watak atau karakteristik tertentu yang mampu mengubah perilaku suatu masyarakat atau bangsa secara global dan optimal.
b. Sejarah tentang masalah atau persoalan tertentu seperti sejarah geografis suatu wilayah (sejarah dunia, sejarah nasional, sejarah lokal), sejarah ekonomi suatu bangsa, sejarah sosial, sejarah ketatanegaraan atau sejarah politik.
2. Mengurutkan peristiwa sejarah berdasarkan waktu kejadian, dari masa paling awal hingga paling akhir.
Tujuannya agar tidak terjadi kerancuan karena waktu kejadian yang terbalik urutan waktunya maupun urutan waktu yang melompat-lompat. Hal ini dapat menimbulkan pemahaman yang keliru tentang fakta sejarah sehingga harus dihindari.

D.   MODEL PENYAJIAN INFORMASI
             Urutan penyajian informasi sejarah dalam bentuk paragraf yang baik harus memperhatikan tata urutan tertentu. Dalam penyajian informasi berupa cerita ulang peristiwa sejarah terdapat beberapa model urutan yaitu :
1.    Urutan waktu
    Dalam penyajian urutan yang berdimensi waktu, informasi disajikan secara kronologis, mulai dari yang paling awal hingga yang paling akhir terjadi. Namun dapat pula menggunakan metode kilas balik (flashback) yaitu dengan memulai cerita dari kejadian yang paling akhir kemudian menuju kejadian paling awal secara berurutan.
2.    Urutan tempat
         Dalam penyajian urutan berdimensi tempat, informasi yang disajikan berdasarkan pada di mana tempat yang menjadi latar belakang sebuah peristiwa sejarah terjadi. Penggunaan kata transisi (konjungsi) sangat berperan untuk menunjukkan urutan tempat kejadian dari sebuah peristiwa sejarah yang dipaparkan.
3.    Urutan umum-khusus
    Informasi yang disampaikan berupa pemaparan peristiwa yang umum atau menyeluruh berupa latar kejadian menuju peristiwa inti yang berupa kejadian khusus sebagai bagian dari serita sejarah yang diungkapkan.
4.    Urutan pertanyaan-jawaban
         Penyajian informasi biasanya berbentuk seperti hasil wawancara (interview) yang berbentuk paragraf. Penulis seperti menanyakan sebuah peristiwa kepada pembaca namun disisi lain penulis menyampaikan informasi sebagai jawabannya.
5.    Urutan sebab-akibat
      Penyajian informasi berupa penyampaian hal-hal yang menjadi dasar (sebab) mengapa sebuah perisitwa sejarah terjadi kemudian disampaikan akibat yang ditimbulkannya.
             Semua model di atas akan memberikan informasi secara runtut. Prinsip keruntutan sendiri pada dasarnya menyajikan informasi secara urut, tidak melompat-lompat sehingga akan memudahkan pembaca dalam mengikuti jalan pikiran penulis.

E.    STRUKTUR TEKS CERITA SEJARAH
Struktur pembangun sebuah teks cerita sejarah adalah :
1.    Orientasi
Tahap pertama ini memberikan informasi tentang situasi cerita sejarah yang diangkat dalam teks.
2.    Urutan Peristiwa Sejarah
Tahapan ini menyediakan rekaman mengenai peristiwa sejarah berdasarkan urutan waktu terjadinya perisitwa sejarah tersebut. Bagian ini disajikan atas beberapa paragraf disesuaikan dengan fakta rekaman waktu terjadinya peristiwa.
3.    Reorientasi
Tahap ini berisi pemaparan opini penulis yang dapat berupa kesimpulan dari sudut pandang penulis terhadap peristiwa sejarah yang disampaikan. Tujuan tahap ini adalah untuk menghadirkan kembali peristiwa sejarah tersebut pada masa kini. Tahap reorientasi bersifat opsional atau pilihan. Artinya tahapan ini dapat saja tidak dihadirkan dalam sebuah teks cerita sejarah.

F.    CIRI KEBAHASAAN TEKS CERITA SEJARAH
         Dalam teks cerita sejarah terdapat beberapa kelompok kata, seperti kelompok nomina, kelompok verba. Kelompok kata adalah gabungan dua kata atau lebih yang bersifat predikatif. Artinya, diantara kedua kata itu tidak ada yang berkedudukan sebagai predikat dan hanya memiliki satu makna gramatikal. Makna gramatikal adalah makna yang berubah-ubah sesuai dengan konteks pemakainya. Kata ini sudah mengalami proses gramatikalisasi, baik pengimbuhan, pengulangan, ataupun pemajemukan Contohnya :
1.    Berlari = melakukan aktivitas
2.    Bersedih = dalam keadaan
3.    Bertiga = kumpulan
4.    Berpegangan = saling

1.    Nomina (Kata Benda)
      Salah satu ciri kebahasaan yangterdapat dalam teks cerita sejarah adalah nomina (kata benda) yang dapat berfungsi mengidentifikasi siapa dan apa saja yang terlibat dalam peristiwa tersebut. Biasanya teks sejarah kerap menggunakan nomina yang telah mengalami nominalisasi yaitu pembentukan nomina dari kelas kata tertentu dengan menggunakan afiks tertentu atau mengalami afiksasi (proses penambahan afiks). Dalam pembentukan nomina, afiksasi yang terjadi antara lain sebagai berikut :
a.    Sufiks (akhiran) seperti –an, -at, -si, -ika, -in, -ir, -ur, -ris,, -us, -isme, -is, -isasi, -isida, -ita, -or, -tas.
Contoh dalam kalimat :
  1. Buku bacaan yang dipegang Rika itu milik Rita.
  2. Realita menjawab keraguan publik tentang isu penurunan harga BBM di awal 2016.
  3. Politikus senior, Akbar Tanjung adalah tokoh dari partai Golkar.

b.    Prefiks (awalan) seperti ke-, pe-, se-
Contoh dalam kalimat :
1)    Menjadi ketua kelas adalah kebanggaan besar buat Andi.
2) Peminat pelatihan bidang kewirausahaan makin meningkat dengan berlakunya MEA di 2016.
3)    Kami akan tinggal serumah dengan ibu untuk menjaganya di usia senjanya.

c.     Konfiks (awalan-akhiran) seperti ke-an, pe-an, per-an.
Contoh dalam kalimat :
1)    Polisi melakukan pemeriksaan kelengkapan surat-surat kendaraan.
2)    Demonstrasi Hari Buruh menimbulkan kemacetan di sepanjang jalan M.H. Tamrin hingga Sudirman.
3)    Pertandingan sepakbola Piala Eropa akan mulai bergulir Mei 2016.

d.    Infiks (sisipan) seperti -el-, -er-, -em-
Contoh dalam kalimat :
1)    Telunjuk Bu Rini tergores pisau saat memasak.
2)    Untuk memperbaiki gerigi sepeda motor perlu kehati-hatian.
3)    Kemuning lembayung senja terpancar dari wajahnya.

e.    Simulfiks (kombinasi afiks; awalan-awalan-akhiran) seperti pemer-, keber-an, kese-an, keter-an, pember-an, pemer-an, penye-an, perseke-an

      Ada tiga jenis nomina yang dapat kita jumpai dalam teks cerita sejarah yaitu :
a.    Kelompok Nomina Modifikatif (Pewatas)
Yaitu kelompok nomina yang berfungsi sebagai pewatas pada kata atau frasa tertentu. Misalnya :
1)    Rumah (nomina) besar (modifikatif)
2)    Dua (modifikatif) botol (nomina)
3)    Ruang (nomina) makan (modifikatif)
b.    Kelompok Nomina Koordinatif (Tidak saling menerangkan)
Yaitu kelompok nomina yang diantara nomina yang satu dengan yang lainnya memiliki makna yang berbeda dan maknanya tidak saling berkorelasi satu dengan yang lainnya. Contohnya :
1)    Lahir batin
2)    Sandang pangan
3)    Adil dan makmur
c.     Kelompok Nomina Apositif (Keterangan yang ditambahkan atau diselipkan)
Yaitu kelompok nomina yang berfungsi sebagai keterangan penjelas yang diletakkan ditengah kalimat dengan memberikan tanda koma (,) sebelum dan sesudah keterangan penjelas tersebut. Contohnya :
1)    Syahrini, artis pujaanku, akhirnya mem­-follow akun twitter milikku.
2)  Presiden Jokowi bertandang ke Kabupaten Brebes, kota penghasil bawang merah, untuk meresmikan tol Pejagan-Brebes.
3)  Penurunan harga BBM (Bahan Bakar Minyak), premium dan solar, oleh pemerintah membuat masyarakat menyerbu POM bensin untuk mendapatkan BBM dengan harga yang lebih rendah dari sebelumnya.

2.    Verba (Kata Kerja)
a.    Kelompok Verba Modifikatif (Pewatas)
Yaitu kelompok verba yang terdiri atas pewatas belakang dan pewatas depan.
1)    Contoh verba dengan pewatas belakang :
a)      Ia bekerja (verba) keras (pewatas) sepanjang hari.
b)      Kami membaca (verba) buku (pewatas) itu sekali lagi.
2)    Contoh verba dengan pewatas depan :
a)    Kami yakin (pewatas) mendapatkan (verba) pekerjaan itu.
b)   Mereka pasti (pewatas) membuat (verba) karya yang lebih baik lagi pada tahun mendatang.
b.    Kelompok Verba Koordinatif (Tidak saling menerangkan)
Yaitu dua verba yang digabungkan menjadi satu dengan adanya penambahan kata hubung 'dan' atau 'atau', Contoh kalimat :
1)    Orang itu merusak dan menghancurkan tempat tinggalnya sendiri.
2)    Kita pergi ke toko buku atau ke perpustakaan.
c.     Kelompok Verba Apositif (Keterangan yang ditambahkan atau diselipkan)
Yaitu kelompok verba yang berfungsi sebagai keterangan penjelas yang diletakkan ditengah kalimat atau diselipkan dengan memberikan tanda koma (,) sebelum dan sesudah keterangan penjelas tersebut. Contoh kalimat :
1) Ayahnya kini bekerja di perusahaan manufaktur, merakit komponen mobil, di daerah Cikarang.
2) Larangan, tempat tinggalku dulu, kini menjadi daerah pariwisata terkenal di Kabupaten Brebes.

3.    Adverbia (Kata Keterangan) Waktu Lampau
      Yaitu kelompok kata yang dibentuk dengan keterangan waktu. Contohnya :
a.  Ditetapkan bahwa 1 Mei ditetapkan sebagai Hari Buruh yang diperingati oleh kaum buruh seluruh dunia.
b.    Tuntutan kaum buruh ini bermula sejak era indusrti di awal abad ke-19.

4.    Konjungsi Temporal (Kata Hubung)
      Yaitu kelompok kata yang mengacu pada waktu dan menjadi sarana kohesi teks. Teks yang berkohesi sangat penting agar susunan kata atau kalimat mudah dipahami, korelasi antara kalimat yang satu dengan kalimat lainnya tetap berkaitan. Konjungsi temporal berfungsi untuk menata urutan peristiwa agar tertata secara kronologis.
      Jenis konjungsi temporal dapat dikelompokkan menjadi dua macam, yaitu :
a.  Konjungsi temporal yang menghubungkan dua kalimat atau lebih yang tidak sederajat.
Contohnya :
Apabila, bila, bilamana, demi, hingga, ketika, sambil, sebelum, sampai, sedari, sejak, selama, semenjak, sementara, seraya, waktu, setelah, sesudah, tatkala, dan sebagainya.
Contoh dalam kalimat :
1) Seluruh karyawan akan kembali bekerja apabila pihak perusahaan mencairkan tunjangan kesehatan  selama dua bulan yang belum mereka terima semenjak bulan November hingga Desember 2015.
2) Waktu itu Saya kaget seraya memanjatkan syukur kepada Tuhan tatkala mendapatkan informasi bahwa saya sebagai pemenang hadiah mobil dari BRI.
b.    Konjungsi temporal yang menghubungkan dua kalimat atau lebih yang sederajat.
Contohnya : Sebelumnya dan sesudahnya.
Contoh dalam kalimat :
1) Masyarakat kembali memperketat penjagaan di depan pintu masuk kompleks perumahan. Sebelumnya masyarakat tidak merasa khawatir dengan isu pencurian yang akhir-akhir ini merebak sehingga tidak merasa perlu untuk menambah penjagaan di pintu masuk perumahan mereka.

2)    Presiden Jokowi menjelaskan dalam konfrensi pers bahwa awal Januari 2016 akan dilakukan penurunan harga BBM, khusus premium dan solar. Sebelumnya beliau juga memberikan informasi bahwa penurunan harga BBM ini akan disusul dengan penyesuaian tarif angkutan umum.


G.  MENGANALISIS TEKS CERITA SEJARAH
      Sudah diketahui bahwa teks cerita sejarah merupakan salah satu bentuk teks cerita ulang/rekon (recount). Peristiwa masa lamapu yang diceritakan melalui teks cerita sejarah ini menggunakan pola urutan yang berdimensi waktu yaitu informasi disajikan secara kronologis; mulai dari peristiwa yang awal hingga yang paling akhir terjadi.
      Dalam menyajikan pola urutan kronologis pada teks cerita sejarah dapat kita susun melalui beberapa paragraf. Sebuah paragraf yang baik, setidaknya memiliki empat ciri yaitu :
1.    Keterpaduan (kohesi)
2.    Keterkaitan (koherensi)
3.    Kekonsistenan sudut pandang
4.    Ketuntasan
             Agar kata atau kalimat dalam tiap paragraf yang membangun sebuah teks kohesif dan koheren maka dapat digunakan beberapa sarana pengait kata atau kalimat tersebut yaitu :
1.    Pengulangan (reduplikasi)
2.    Penggantian
3.    Konjungsi
             Sebagai sebuah teks, cerita sejarah harus mampu menjalankan fungsi sosialnya yaitu merekonstruksi dan memberikan informasi yang berkaitan dengan kejadian dii masa lampau. Untuk dapat mengevaluasi (menilai) sebuah teks cerita sejarah maka kita perlu melakukan pengukuran informasi yang disajikan sesuai dengan informasi yang dibutuhkan oleh kita atau tidak.


Selasa, 05 Mei 2015

PELAJARAN 3 BUDAYA BERPENDAPAT DI FORUM EKONOMI DAN POLITIK


A.   Pengertian Teks Eksposisi
        Teks eksposisi adalah teks yang berisi pernyataan pendapat yang disertai dengan argumentasi yang diyakini kebenarannya melalui pengungkapan fakta untuk mempertahankan opini dan sebagai penjelasan atas argumentasi dari penulis teks. Susunannya dibuat semenarik mungkin dengan memberikan berbagai argumen, data-data yang menunjang pendapat dari penulis tentang masalah yang sedang dibahas. Data-data yang digunakan itu bertujuan untuk mempengaruhi atau mengubah persepsi pembaca atau pendengar untuk mengikuti atau menerima pendapat penulis teks tersebut. Fungsi sosial teks eksposisi adalah teks yang digunakan untuk mengusulkan pendapat pribadi mengenai sesuatu atau sebagai wadah untuk mengemukakan pendapat.

B.    Struktur Teks Eksposisi
1.    Pernyataan pendapat
Merupakan tahapan yang menyajikan pandangan awal untuk menjelaskan permasalahan yang sedang dibicarakan. Pada bagian ini penulis menyampaikan pendapat pribadinya (klaim/opini) mengenai masalah yang sedang dibicarakan.
2.    Argumentasi
Merupakan tahap yang berisi pernyataan penulis teks yang berisi  alasan digunakan untuk mempengaruhi atau mengubah persepsi pembaca agar mengikuti atau menerima pendapat penulis teks. Dalam argumentasi, penulis bisa saja memasukkan fakta maupun opini pribadinya.
3.    Penegasan ulang pendapat
Merupakan tahapan yang menyuguhkan kembali pandangan penulis dengan memberikan penekanan berupa saran, kritik, harapan terhadap permasalahan yang diungkapkan. Penekanan ulang berupa saran, kritik, harapan bertujuan untuk memberikan solusi terhadap permasalahan yang dibahas.

C.    Ciri Teks Eksposisi yang Ideal
      Teks eksposisi yang ideal hanya memiliki satu sisi argumentasi. Artinya, dalam teks tersebut hanya membahas satu sisi mendukung saja  atau hanya menentang, bermanfaat atau merugikan,  setuju atau menolak. Teks eksposisi yang ideal tidak memiliki dualisme argumentasi yang disampaikan. Dualisme pada teks eksposisi dapat kita ketahui dari judul dan konjungsi yang digunakan atau melalui diksi atau pilihan kata yang menunjukkan lawan kata (antonim). Diperlukan kejelian dan kecermatan untuk menganalisis adanya dualisme argumentasi pada teks eksposisi.

D.   Kaidah Kebahasaan Teks Eksposisi
1.    Pronomina
             Pronomina dapat diklasifikasikan menjadi dua macam yaitu :
a)    Paronomina Persona (kata ganti orang)
1)    Persona Tunggal
      Contohnya seperti ia, dia, anda, kamu, aku, saudara, -nya, -mu, -ku, si-.
2)    Persona Jamak
      Contohnya seperti kita, kami, kalian, mereka, hadirin, para.
b)   Pronomina Nonpersona (kata ganti bukan orang)
1)    Pronomina Penunjuk
      Contohnya seperti ini, itu, sini, situ, sana.
2)    Pronomina Penanya
      Contohnya seperti apa, mana, siapa.

2.    Kata Leksikal (Nomina, Verba, Adjektiva, Adverbia)
a)    Nomina (kata benda)
Merupakan kata yang mengacu pada benda, baik nyata maupun abstrak. Dalam kalimat berkedudukan sebagai subjek. Dilihat dari bentuk dan maknanya ada yang berbentuk nomina dasar maupun nomina turunan. Nomina dasar contohnya gambar, meja, rumah, pisau. Nomina turunan contohnya perbuatan, pembelian, kekuatan, dll.
b)   Verba (kata kerja)
Merupakan kata yang mengandung makna dasar perbuatan, proses, atau keadaan yang bukan sifat. Dalam kalimat biasanya  berfungsi sebagai predikat. Verba dilihat dari bentuknya dibedakan menjadi dua yaitu :
1)    Verba dasar
Merupakan verba yang belum mengalami proses morfologis (afiksasi, reduplikasi, komposisi)
Contohnya mandi, pergi, ada, tiba, turun, jatuh, tinggal, tiba, dll.
2)    Verba turunan
Merupakan verba yang telah mengalami perubahan bentuk dasar karena proses morfologis (afiksasi, reduplikasi, komposisi). Contohnya melebur, mendarat, berlayar, berjuang, memukul-mukul, makan-makan, cuci muka, mempertanggungjawabkan, dll.
c)    Adjektiva (kata sifat)
Merupakan kata yang yang dipakai untuk mengungkapkan sifat atau keadaan orang, benda, dan binatang. Contohnya cantik, gagah, indah, menawan, berlebihan, lunak, lebar, luas, negatif, positif, jernih, dingin, jelek, dan lain-lain.
d)   Adverbia (kata keterangan)
Merupakan kata yang melengkapi atau memberikan informasi berupa keterangan tempat, waktu, suasana, alat, cara, dan lain-lain. Contohnya di-, dari-, ke-, sini, sana, mana, saat, ketika, mula-mula, dengan, memakai, berdiskusi, dan lain-lain.
3.    Konjungsi
        Konjungsi dapat digunakan dalam teks eksposisi untuk memperkuat argumentasi. Idealnya argumentasi tidak disajikan secara acak. Artinya, suatu jenis konjungsi dapat digunakan dengan menggabungkannya dengan konjungsi yang sejenis dalam suatu kalimat yang saling berkorelasi sehingga membentuk koherensi antarkalimat. Dapat pula mengombinasikan beberapa jenis konjungsi dalam suatu teks sehingga tercipta keharmonisan makna maupun struktur.
         Seperti konjungsi temporal seperti mula-mula, kemudian, lalu, setelah itu, akhirnya dapat digunakan bersamaan dalam satu teks eksposisi. Konjungsi temporal seperti itu dapat digunakan untuk menata argumentasi dengan cara mengurutkan dari yang penting menuju ke yang kurang penting atau sebaliknya. Konjungsi sebab-akibat dapat digunakan untuk menyuguhkan informasi asal-muasal suatu peristiwa atau kejadian dan efek yang ditimbulkan dari kejadian tersebut. Konjungsi penegasan seperti pada kenyataannya, kemudian, lebih lanjut, bahkan digunakan untuk mengurutkan informasi dari yang kuat menuju yang lemah atau sebaliknya. Lebih lanjut lagi berikut ini adalah jenis konjungsi yang dapat ditemukan pada teks eksposisi :
1.    Konjungsi waktu : sesudah, setelah, sebelum, lalu, kemudian, setelah itu 
2.    Konjungsi gabungan : dan, serta, dengan
3.    Konjungsi pertentangan : tetapi, akan tetapi, namun, melainkan, sedangkan
4.    Konjungsi pilihan : atau
5.    Konjungsi penegasan/penguatan : bahkan, apalagi, hanya, lagi pula, itu pun
6.    Konjungsi pembatasan : kecuali, selain, asal
7.    konjungsi tujuan : agar, supaya, untuk
8.    Konjungsi persyaratan : kalau, jika, jikalau, bila, asalkan, bilamana, apabila
9.    Konjungsi perincian : yaitu, adalah, ialah, antara lain, yakni
10. Konjungsi penjelasan : bahwa
11. Konjungsi sebab akibat : karena, sehingga, sebab, akibat, akibatnya
12. Konjungsi perbandingan : bagai, seperti, ibarat, serupa
13. Konjungsi penyimpulan :oleh sebab itu, oleh karena itu, jadi, dengan demikian