Rabu, 02 Agustus 2017

Pengembangan Pendidikan Karakter dan Potensi Peserta Didik


A.    Tujuan
Tujuan belajar yang diharapkan yaitu guru dapat memahami tahapan perkembangan siswa dan menyediakan materi belajar serta metode pembelajaran sesuai karakteristik dan tahap perkembangan siswa

B.   Indikator Pencapaian Kompetensi
1)   Kompetensi Inti
Menguasai karakteristik siswa dari aspek fisik, moral, kultural, emosional dan intelektual
2)   Kompetensi Guru Mata Pelajaran
a)  Memahami karakteristik siswa berkaitan dengan aspek fisik, intelektual, sosio-emosional, moral, spiritual, dan latar belakang budaya sesuai tahap perkembangannya
b)  Menyiapkan materi pelajaran sesuai dengan tingkat perkembangan
c) Merancang kegiatan pembelajaran sesuai karakteristik siswa berdasarkan tahap perkembangannya

c. Ringkasan Materi
       Siswa merupakan subjek aktif dalam pembelajaran yang memiliki beragam karakteristik. Interaksi yang terjadi dalam proses pembelajaran harus memperhatikan karakteristik peserta didik agar tujuan, materi dan metode pembelajaran yang disusun telah sesuai dengan karakteristik peserta didik. Karakteristik peserta didik dapat dipengaruhi oleh masa perkembangannya. Untuk memahami masa perkembangan peserta didik maka setiap pendidik (guru) perlu memahami metode, pendekatan, dan teori psikologi perkembangan individu.
      Terdapat dua metode yang sering digunakan dalam menganalisis perkembangan manusia, yaitu:
1.    Metode Longitudinal
         Adalah metode pengamatan dan pengkajian perkembangan terhadap satu atau banyak individu yang memiliki usia yang sama dalam rentang waktu yang lama. Metode ini menyimpulkan bahwa yang dimaksud tahap perkembangan individu yaitu adanya perbedaan karakteristik dari waktu ke waktu. Kelebihan dari penggunaan metode ini adalah kesimpulan yang dihasilkan sangat meyakinkan karena mengkomparasikan (membandingkan) karakteristik individu yang sama pada jenjang usia yang berbeda sehingga dapat diasumsikan jika perbedaan karakteristik yang terjadi merupakan hasil perkembangan dan pertumbuhan. Kelemahan metode ini adalah membutuhkan waktu yang lama untuk mendapatkan hasil yang sempurna. Peneliti yang pernah menggunakan metode ini adalah Luis Terman (dalam Clark, 1984) yang menganalisis perkembangan sekelompok anak jenius sejak masa sekolah, ketika dewasa, memasuki usia kerja hingga masa kesuksesan mereka.
2.    Metode Cross Sectional
         Adalah metode pengamatan dan pengkajian terhadap perkembangan individu dalam jumlah yang banyak dengan berbagai usia dalam rentang waktu yang sama. Metode ini menyimpulkan bahwa yang dimaksud tahap perkembangan individu adalah adanya perbedaan karakteristik dari setiap kelompok individu berdasarkan kelompok usia, perbedaan ciri fisik dan mental, perilaku, kemampuan dan pola perkembangannya. Kelebihan metode ini adalah proses penelitian tidak memerlukan waktu yang lama sehingga hasilnya segera diketahui. Kelemahan metode ini adalah diperlukan kehati-hatian dalam menarik kesimpulan karena dalam waktu yang singkat peneliti harus menentukan perkembangan individu berdasarkan perbedaan karateristik individu yang beragam.
       Menurut Nana Sodih Sukmadinata (2009), ada dua pendekatan yang digunakan dalam psikologi perkembangan manusia yaitu:
1.    Pendekatan Menyeluruh/Global
   Adalah kajian tentang perkembangan manusia yang membahas dan mendeskripsikan seluruh aspek perkembangan manusia seperti perkembangan fisik, mental, motorik, sosial, intelektual, moral, emosi, kepercayaan/keagamaan, dan lain-lain.
2.    Pendekatan Khusus/Spesifik
   Adalah kajian tentang perkembangan manusia yang membahas dan mendeskripsikan perkembangan manusia hanya pada aspek-aspek tertentu saja misalnya penelitian yang memfokuskan kajiannya pada aspek fisik saja, aspek moral saja, dan lain-lain.
       Dalam uraiannya, Nana Saodih Sukmadinata (2009), menjelaskan bahwa dalam dunia pendidikan terdapat beberapa referensi berkaitan dengan teori perkembangan manusia yang disampaikan oleh beberapa pakar, yaitu:
1.    Teori Global/Menyeluruh
         Beberapa pakar yang mengembangkan teori global seperti Jean Jacques Rousseau, Stanley Hall, Robert J. Havigurst. Menurut Jean Jacques Rousseau, pakar pendidikan liberal yang menjadi penggagas pembelajaran discovery, ia mngklasifikasikan empat tahap perkembangan anak, yaitu:
a)   Masa bayi infacy (usia 0 s.d. 2 tahun)
Pada tahap ini, anak mengalami perkembangan fisik yang dominan daripada perkembangan aspek lainnya. Anak diibaratkan sebagai binatang yang sehat.
b)   Masa anak/childhood (usia 2 s.d. 12 tahun)
Dalam tahapan ini, pertumbuhan fisik anak semakin pesat sekaligus dibarengi perkembangan aspek lainnya seperti kompetensi berbicara, berpikir, moral, sosial, intelektual, dll. Anak diasumsikan sebagai manusia primitive yang hanya memiliki pengetahuan dasar.
c)   Masa remaja awal/pubescence (usia 12 s.d. 15 tahun)
Perkembangan anak pada tahapan ini ditandai dengan pesatnya perkembangan kompetensi bernalar dan intelektual anak. Pada masa ini anak memiliki rasa ingin tahu yang sangat besar sehingga dapat dikatakan masa ini adalah masa berpetualang.
d)   Masa remaja/adolescence (usia 15 s.d. 25 tahun)
Indikasi perkembangan anak pada masa ini adalah terjadinya peningkatan yang signifikan terhadap perkembangan aspek seksual, sosial, moral, dan nurani ke taraf yang lebih tinggi sehingga tahap ini disebut juga masa hidup sebagai manusia beradab.
         Menurut psikolog Amerika Serikat, Stanley Hall, menuturkan teorinya tentang siklus hidup (life span) yang mendefinisikan bahwa perubahan menuju dewasa terjadi dalam urutan (sekuens) yang universal sebagai bagian dari proses evolusi dan bersifat parallel dengan perkembangan psikologis namun cepat lambatnya perubahan tersebut dapat dipengaruhi pula oleh faktor lingkungan. Teorinya ini dapat dibuktikan pada tahap masa remaja sampai dewasa. Stanley Hall membagi masa perkembangan menjadi empat tahap, yaitu:
a)   Masa kanak-kanak/infancy (usia 0 s.d. 4 tahun)
Pada masa ini perkembangan anak sedang belajar untuk merangkak dan berjalan.
b)   Masa anak/childhood (usia 4 s.d. 8 tahun)
Perkembangan anak di masa ini diindikasikan dengan munculnya rasa ingin tahu anak dengan mulai mempelajari ekosistem di sekitarnya.
c)   Masa puber/youth (usia 8 s.d. 12 tahun)
Anak mengalami perkembangan dan pertumbuhan sebagai mahluk yang belum beradab di lingkungannya. Pada tahap ini anak mulai mempelajari aspek sosial, emosi, moral dan intelektual.
d)   Masa remaja/adolescence (usia 12 s.d. dewasa)
Dalam masa ini, anak telah mampu beradaptasi dengan baik di lingkungannya. Perubahan yang terjadi di lingkungan akan direspon melalui kecenderungan anak untuk menyesuaikan diri sebagai manusia beradab. Pada masyarakat beradab (berpendidikan tinggi), kedewasaan muncul pada usia yang lebih lanjut sedangkan pada masyarakat terbelakang (berpendidikan rendah), anak justru mendewasa lebih cepat.

         Menurut penganut teori global lainnya yaitu Robert J. Havigurst yang mengembangkan teori tugas perkembangan (developmental task) menjelaskan bahwa dorongan tubuh untuk berkembang sesuai dengan kecepatan pertumbuhannya bergerak lurus dengan tantangan dan kesempatan yang diberikan oleh lingkungannya. Havigurst menyusun tahapan perkembangan menjadi lima tahap berdasarkan problematika yang harus di pecahkan dalam setiap fase, yaitu:
a)   Masa bayi/infacy (usia 0 s.d. ½ tahun)
b)   Masa anak awal/early childhood (2 atau 3 s.d. 5 atau 7 tahun)
c)   Masa anak/late childhood (5 atau 7 tahun s.d. pubesen)
d)   Masa adolescence awal/early adolescence (pubesen s.d. pubertas)
e)   Masa adolescence/late adolescence (pubertas s.d. dewasa)
         Menurut teori ini,  dikuasai atau tidaknya tugas perkembangan pada setiap fase akan mempengaruhi penguasaan tugas-tugas pada fase berikutnya. Ada sepuluh tugas perkembangan yang harus dikuasai oleh anak pada setiap fase, yaitu:
a)   Ketergantungan-kemandirian
b)   Memberi-menerima kasih sayang
c)   Hubungan sosial
d)   Perkembangan kata hati
e)   Peran biososia dan psikologis
f)    Penyesuaian dengan perubahan badan/fisik
g)   Penguasaan perubahan badan/fisik dan motorik
h)   Memahami dan mengendalikan lingkungan fisik
i)     Pengembangan kemampuan konseptual dan sistem simbol
j)     Kemampuan melihat hubungan dengan alam semesta
        
2.    Teori Spesifik/Khusus
         Para pakar yang mengembangkan teori spesifik ini adalah Jean Piaget, Lawrence Kohlberg, Erick Homburger Erickson. Menurut pakar biologi, Jean Piaget, yang memfokuskan kajiannya pada aspek perkembangan kognitif anak, mengklasifikasikan perkembangan anak menjadi empat tahap, yaitu:
a)   Tahap sensorimotorik (usia 0 s.d. 2 tahun)
Pada tahapan ini kemampuan anak terbatas pada gerakan reflek, bahasa awal, dan ruang waktu pada saat tersebut. Teori ini disebut juga masa discriminating and labeling.
b)   Tahap praoperasional (usia 2 s.d. 4 tahun)
Bagian perkembangan anak di masa ini terlihat dari peningkatan kemamampuan anak dalam menerima stimulus masih sangat terbatas seperti kemampuan berbahasa, anak belum dapat berpikir abstrak, pola pikir yang statis, dan keterbatasan kemampuan persepsi waktu dan ruang.
c)   Tahap operasional konkrit (usia 7 s.d. 11 tahun)
Pada masa ini, anak sudah mulai mampu menyelesaikan tugas-tugas seperti menggabungkan, memisahkan, menyusun, mederetkan, melipat dan membagi. Masa ini disebut juga performing operation.
d)   Tahap operasional formal (usia 11 s.d. 15 tahun)
Dalam perkembangan di tahap ini, anak sudah mampu berpikir tingkat tinggi seperti menganalisis, mensintesis, berpikir secara abstrak dan reflektif, berpikir secara deduktif dan induktif serta mampu menemukan solusi atas permasalahan.

         Teori spesifik juga dikembangkan oleh Lawrence Kohlberg yang berfokus pada perkembangan kognitif moral atau moral reasoning. Menurutnya perkembangan kemampuan kognitif moral sseseorang dapat diukur dengan menghadapkannya pada dilemma moral hipotesis yang berkorelasi dengan kebenaran, keadilan, konflik terkait aturan dan kewajiban moral. Kohlberg membagi tiga tahapan perkembangan kognitif moral anak, yaitu:
a)   Preconventional Moral Reasoning
1)   Obidience and Paunisment Orientation
Prinsip perkembangan anak di tahap ini berdasarkan pada hukuman dan kepatuhan dan berorientasi pada konsekuensi fisik dari perbuatan benar-salah yang dilakukan anak. Anak mematuhi aturan agar tidak salah dan berbuat benar agar terhindar dari hukuman.
2)   Naively Egoistic Orientation
Instrumen relatifitas menjadi orientasi perkembangan moral kognitif anak pada tahap ini. Kepedulian anak pada keadilan, ketidakadilan dan kebenaran bersifat pragmatis. Artinya, apakah mendatangkan keuntungan, baik bagi dirinya atau orang lain, atau tidak.
b)   Conventional Moral Reasoning
1)   Good /Nice Boy Orientation
Pada tahapan ini, orientasi anak tentang perbuatan baik digambarkan sebagai hal yang menyenangkan, membantu atau disepakati oleh orang lain. Sikap yang ditunjukkan anak merujuk pada karakter tertentu yang dianggap alami, anak berusaha mengembangkan niat baik untuk menjadi anak baik, menjalin berhubungan yang baik dan peduli terhadap orang lain.
2)   Authority and Social Order Maintenance Orientation
dalam tahap ini, orientasi anak tentang moral berkaitan erat dengan aturan dan hukum yang bersifat mutlak dan final, penekanan pada kewajiban dan tugas terkait perlunya menjaga ketertiban, memenuhi tugas dan kewajiban sesuai peran anak yang diterima oleh masyarakat.
c)   Post Conventional Moral Reasoning
1)   Contranctual Legalistic Orientation
Orientasi anak pada tahap ini berfokus pada legalitas kontrak sosial. Hal ini ditunjukkan dengan kepeduliannya terhadap hak asasi individu yang disepakati masyarakat, menyadari relatifitas nilai benar-salah, baik-buruk, suka-benci, dll. dan anak menyadari bahwa hukum/aturan berfungsi sebagai aturan kehidupan bermasyarakat dan dapat diubah melalui diskusi.
2)   Conscience or Principle Orientation
Orientasi anak pada tahapan ini adalah prinsip-prinsip etika yang bersifat universal. Aturan/hukum dan aturan moral masing-masing diterapkan terpisah namun tetap memperhatikan nilai-nila etika di masyarakat.

         Menurut pakar psikoanalisis, Erick Homburger Erickson, memfokuskan kajiannya pada perkembangan psikososial anak. Menurutnya ada delapan tahap perkembangan anak (developmental stages) yang disebut siklus kehidupan (life cycle) yang ditandai dengan adanya krisi psikososial tertentu (dalam Harre dan Lamb, 1988). Teori yang dipaparkan Erickson menggambarkan perkembangan manusia yang mencakup seluruh siklus kehidupan dan mengakui adanya interaksi antara individu dengan konteks sosial sehingga banyak diterima secara universal.
         Ada delapan tahap perkembangan Psikososial anak menurut Erickson, yaitu:
a)   Tahap 1 : Basic Trust versus Mistrust (invancy/bayi, usia 0 s.d. 1 tahun)
       Pada tahap ini anak mengembangkan kemampuan untuk menerima dan menolak. Anak mulai mengenal rasa aman dan nyaman dari lingkungan atau orang lain yang dipercaya sedangkan lingkungan atau orangg yang dianggap asing akan ditolak. Rasa aman dan nyaman ini berkaitan dengan kebutuhan primernya (makan, minum, perhatian dan kasih sayang).
b)   Tahap 2 : Autonomy versus Shame and Doubt (toddler/masa bermain, usia 2 s.d. 3 tahun)
       Pada tahapan ini anak mulai mengembangkan kemampuan untuk tidak bergantung kepada orang lain dan mulai memiliki keinginan dan kemampuan individual. Pada tahap ini kebebasan yang terkendali perlu mulai dierapkan oleh orangtua, jangan terlalu dikendalikan atau didikte agar ketika dewasa tidak tumbuh rasa selalu was-was, ragu-ragu, kecewa bahkan gagal move on pada diri anak.
c)   Tahap 3 : Initiative versus Guilt (preschool/prasekolah, usia 3 s.d. 6 tahun)
       Pada tahap ini mulai muncul rasa bertanggung jawab terhadap dirinya, aktivitas fisik (bermain, berlari, melompat, dll.) banyak dilakukan dan inisiatif anak mulai tumbuh. Peran lingkungan dan orang dewasa disekitar anak sangat berperan dalam memfasilitasi, memotivasi dan membimbing pertumbuhan inisiatif anak agar tidak muncul rasa kecewa dan bersalah pada diri anak karena inisiatifnya terkendala bahkan tidak terlaksana.
d)   Tahap 4 : Industry versus Inferiority (schoolage/masa sekolah, usia 7 s.d. 12 tahun)
       Dalam tahap perkembangan ini, anak cenderung sibuk beraktivitas untuk mencapai hasil dalam waktu singkat. Dibutuhkan bimbingan, motivasi dan difasilitasi sehingga kegagalan aktifitas anak bisa diminimalkan untuk mengurangi rasa rendah diri anak ketika gagal melakukan aktifitasnya.
e)   Tahap 5 : Identity versus Role Confusion (asolescence/remaja, usia 12 s.d. 18 tahun)
       Pada tahap perkembangan ini, anak sedang mencari identitas diri yang berpengaruh besar terhapa masa depannya. Peran terbesar pembentuk jatidiri anak adalah lingkungan sehingga orangtua perlu memastikan lingkungan yang baik bagi perkembangan jatidiri anaknya karena lingkungan yang baik akan membangun jatidiri anak menjadi baik dan sebaliknya.
f)    Tahap 6 : Intimacy versus Isolation (young adulthood/dewasa ala, usia 20 tahun)
       Pada tahapan ini, anak mulai menyadari ada beberapa hal yang bersifat privasi dan ada beberapa hal lain yang harus dikomunikasikan dengan lingkungan, masyarakat atau teman-temannya. Hal yang bersifat privasi biasanya disampaikan pada orang tertentu saja, orang yang lebih dekat secara pribadi dan emosional, termasuk pasangan lawan jenis. Jika komunikasi gagal terbangun pada tahap ini anak cenderung merasa terisolasi dalam kehidupan masyarakat.
g)   Tahap 7 : Generativity versus Stagnation (middle adulthood/dewasa pertengahan, usia 20 s.d. 50 tahun)
       Pada tahapan ini, dalam diri seseorang mulai tumbuh rasa tanggung jawab, muncul kepedulian dan perhatian  dalam bentuk peran sebagai orangtua terhadap generasi penerusnya (keturunannya). Rasa khawatir, was-was tentang masa depan generasi penerusnya apakah akan bahagia, terpenuhi kebutuhannya atau akan berhenti (stagnan).
h)   Tahap 8 : Ego Integrity versus Despair (later adulthood/dewasa akhhir, usia diatas 50 tahun)

       Pada tahapan siklus akhir perkembangan kehidupan ini, seseorang akan melakukan introspeksi dan mereview kembali perjalanan hidupnya dan diharapkan adalah tidak munculnya penyesalan atas kehidupan yang telah dilaluinya.

Jumat, 12 Mei 2017

BELANTARA JIWA

Terpampang Suara Lantang, Mengerang 
Pemandangan Nan Elok, Berkelok Mengolok
Terdampar Raga Fana, Terlena 
Pemandangan Nan Indah, Terjamah Marah



Terhampar Suara Sendu, Mendayu 
Pemandangan Nan Unik, Terbius Cantik

Tersaji Raga Gemulai, Terburai 
Pemandangan Nan Pilu, Terkoyak Sembilu


Ku Tanya Dunia, Bagaimana Ia Menyapa
Ku Tanya Surga, Seperti Apa Cara Bahagia
Ku Tanya Neraka, Mengapa Banyak Manusia Terlena


Segala Yang Terunggah, Segala Yang Terjamah
Suguhkan Pemandangan dan Hamparan Asa

Setiap Yang Terpatri, Setiap Yang Ternikmati
Sajikan Riuh Cerita Belantara Jiwa



Selasa, 08 November 2016

PELAJARAN 4 TEKS RESENSI (LAPORAN BUKU)

A.   PENGERTIAN LAPORAN BUKU atau RESENSI
             Laporan merupakan bentuk penyajian fakta berbentuk tulis maupun lisan mengenai suatu berita, kegiatan, peristiwa, perjalanan, penelitian, eksperimen,, observasi dan sejenisnya yang disampaikan secara objektif. Laporan buku atau resensi adalah laporan hasil evaluasi (penilaian) tentang kelebihan dan kekurangan sebuah buku namun tidak bersifat menghakimi (menjustifikasi) seperti kritik. Dalam melaporkan buku, penulis boleh mengutip beberapa bagian dari buku tersebut sebagai penguat atas pendapatnya (opini). Tugas dari penulis resensi adalah memberikan gambaran secara garis besar kepada pembaca mengenai suatu karya baik itu film maupun buku agar dipertimbangkan untuk dibaca maupun ditonton.

B.    JENIS LAPORAN
Jenis laporan secara garis besar dapat dikategorikan menjadi 2 macam yaitu :
1.    Laporan Ilmiah
         Laporan ilmiah ini merupakan tulisan yang mengandung kebenaran secara obyektif karena didukung oleh data yang benar dan disajikan dengan penalaran serta analisis yang berdasarkan metode ilmiah. Bentuk tulisan ilmiah ini biasanya disusun berdasarkan data setelah penulis melakukan percobaan, peninjauan, pengamatan, atau membaca artikel ilmiah. Contoh laporan ilmiah seperti artikel ilmiah, tugas akhir, skripsi, disertasi, tesis, dll.
2.    Laporan Non Ilmiah
   Laporan non ilmiah adalah karangan yang menyajikan fakta pribadi tentang pengetahuan dan pengalaman dalam kehidupan sehari-hari, bersifat subyektif, tidak didukung fakta umum, dan biasanya menggunakan gaya bahasa yang populer atau biasa digunakan (tidak terlalu formal). Contoh laporan perjalanan, laporan hasil diskusi (notulen), laporan hasil wawancara, laporann buku (resensi), dll.

C.    CARA MENYUSUN RESENSI
1.   Menentukan buku yang akan diresensi
2.    Mengemukakan isi buku secara objektif
Untuk mengetahui isi buku, selain dengan membaca seluruh isi buku yang akan diresensi, kita juga dapat melihat cover buku bagian belakang atau dengn mengamati daftar isi buku untuk mengetahui setiap gagasan pokok dan isi pokok dari buku. Penulis dapat mengutip sebagian dari isi buku sebagai penguat argument dan opini penulis resensi.
3.    Memberi komentar terhadap isi buku yang diresensi
Komentar berkaitan dengan aspek-aspek yang menarik, kelebihan dan kekurangan buku dari segi isi, bahasa dan sistematika, kualitas kertas, dll. Jangan lupa memberi saran atau imbauan tentang manfaat buku untuk pembaca dan perlu atau tidaknya buku untuk dibaca.

D.   STRUKTUR TEKS RESENSI
1.    Pendahuluan
a.    Judul buku
b.    Penulis atau pengarang
c.     Penerbit
d.    Cetakan atau tahun terbit buku
e.    Tebal buku atau jumlah halaman
f.     Harga buku
g.    Dimensi buku (ukuran panjang dan lebar buku)
h.    ISBN (International Standard Book Number) atau nomor buku standar internasional*
2.    Isi resensi
Berisi ikhtisar atau ringkasan isi buku. Ikhtisar merupakan bentuk singkat karangan yang tidak mempertahankan urutan karangan atau buku asli, sedangkan ringkasan harus sesuai dengan urutan karangan atau buku aslinya.

3.    Kesimpulan
Penulis memberikan penilaian tentang aspek-aspek yang menarik dari buku tersebut, kelebihan dan kekurangan buku disertai ulasan yang objektif, baik dari segi isi buku (tema yang diangkat, sistematika penyajian, sudut pandang, dll.), dari segi bahasa yang digunakan oleh pengarang (jenis tulisan yang dipilih, ungkapan atau gaya bahasa yang dipakai, struktur kalimat, dll.), keaslian ide (buku adalah karya original atau plagiat dari karya yang berbeda), bentuk buku (ilustrasi, cover, kualitas dan jenis kertas yang digunakan, dll.).  
4.    Saran
Penulis resensi memberikan pendapat peribadinya tentang buku tersebut layak dibaca atau tidak dan apa manfaatnya bagi pembaca, dan kepada siapa buku tersebut ditujukan, dll.

Contoh Resensi Buku

IDENTITAS BUKU
Judul Buku      :  Dahsyatnya Hypnoparenting
Penulis              : Agus Sutiyono
Editor               :  Yoan Destarina
Penerbit           :  Penebar Plus+
Cetakan           :  I. Jakarta 2010, II. Jakarta 2010
Tebal                :  iv + 116 Halaman
Harga              : Rp 45.000,00
ISBN                : 978-602-8661-23-2
 
ULASAN BUKU
Kesuksesan berangkat dari keluarga. Dari keluargalah seseorang dibentuk karakternya. Namun dalam perjalanannya, banyak orang tua yang menemui berbagai kesulitan dalam mendidik anak. Anak malas belajar, tidak suka makan, kurang percaya diri, anak yang nakal, dan masih banyak lagi. Hypnoparenting adalah salah satu solusi bagi para orang tua yang menemui kesulitan tersebut. Hypnoparenting berasal dari hipnosis dan parenting. Hipnosis bukan sihir, hipnosis adalah pengetahuan dan teknik berkomunikasi dengan sistem kerja otak. Sedangkan parenting adalah segala sesuatu yang berurusan dengan tugas-tugas orang tua dalam mendidik anak. Hypnoparenting menggunakan prinsip kerja hypnosis (komunikasi dengan otak) dengan pengetahuan tentang bagaimana mendidik anak dan menjadi orang tua yang mampu memahami perkembangan anak untuk menuju kehidupan yang baik, sukses dan bahagia.

Orang tua menjadi pelaku penting dalam hypnoparenting ini. Dalam prakteknya, hypnoparenting adalah proses sugestif dengan menanamkan kalimat-kalimat yang bersifat positif, contohnya, “kamu pintar dan rajin. Kamu senang belajar dan selalu mengerjakan tugas dengan baik.” Waktu paling efektif untuk memasukkan sugesti adalah menjelang tidur, saat bangun tidur, pada waktu emosi anak meningkat, dan ketika anak dalam keadaan terkejut. Agus Sutiyono selaku penulis sudah mulai membisikkan kalimat sugestif terhadap anaknya, Citra Amalia Putri Sutiyono. Kalimat yang selalu ia bisikkan setiap bangun tidur sejak Citra berusia 6 bulan tersebut yaitu, “Terima kasih, ya Allah, aku sehat, aku bahagia, aku pintar, dan baik hati.” Sugesti yang diberikan pada saat yang tepat ini ternyata membentuk betul perilakunya. Citra tumbuh dengan emosi yang seimbang dan disenangi teman-teman.

Dalam hypnoparenting, orang tua harus memiliki kecerdasan emosional dan kecerdasan spiritual yang tinggi untuk membantu anak-anak mengoptimalkan kemampuan. Anak sebaiknya tidak dididik agar cerdas tapi juga mampu berfikir kreatif, imajinatif, dan mempunyai emosi yang stabil. Kreativitas orang tua dibutuhkan dalam menggunakan kalimat sugesti yang tepat untuk anak.


Buku ini merupakan hasil belajar sang penulis di fakultas Magister Manajemen IPMI Jakarta dengan spealisasi program Manajemen Sumber Daya Manusia Pada tahun 1996. Selain itu, penulis juga mengikuti Indonesia-Australia Specialist Project II, Human Rights Program-University Of Sidney (UTS), Australia pada tahun 2003. Ditulis dengan bahasa yang lugas nan santai dan berorientasi ke dalam keluarga, buku ini sangat cocok dibaca oleh para orang tua. Kalimat-kalimat sugestif dalam buku ini sangat beragam dan telah diterapkan oleh penulisnya sendiri yang memang berhasil membentuk perilaku anaknya. Selain mendapat ilmu tentang cara mendidik, mengubah atau membentuk perilaku anak, orang tua juga bisa mendapat berbagai ilmu pengetahuan yang bisa mereka ajarkan kepada anak-anak mereka, seperti pengertian hipnotis, mekanisme kerja otak dan lain sebagainya. Buku ini juga cocok dibaca oleh kalangan remaja. Kalimat-kalimat sugestif yang ada pada buku ini sangat bermanfaat dan dapat mereka terapkan dalam kehidupan sehari-hari.

Desain gambar animasi yang banyak terdapat dalam buku ini justru menjadi kekurangan karena buku ini berorientasi dalam kehidupan keluarga yang ditujukan untuk dibaca orang tua. Selain itu, ada banyak istilah-istilah dalam bahasa asing yang umumnya sukar dipahami oleh para orang tua. Namun, terlepas dari kekurangan yang ada, buku ini layak dimiliki oleh semua kalangan khususnya orang tua yang menginginkan anaknya menjadi pribadi yang baik. Mendidik anak layaknya menanam pohon, jika kita benar secara perlakuannya, maka kita juga yang akan memetik dan menikmati hasilnya. Sungguh Dahsyatnya Hypnoparenting.