Selasa, 13 September 2016

BERKURBAN TEBARKAN KEBAIKAN


         Hari Raya Idul Adha 1437 Hijriyah yang bertepatan dengan 12 September 2016 menjadi moment penting bagi seluruh umat muslim di dunia. Di Indonesia peristiwa bersejarah dan penuh pesan moral tersebut menjadi magnet bagi setiap kaum muslim yang memiliki niat ikhlas untuk membelanjakan  kelebihan finansial mereka di jalan Allah SWT melalui ibadah kurban. Peristiwa kurban merefleksi kisah Nabi Ibrahim a.s. dan Nabi Ismail a.s. yang dengan ikhlas melaksanakan perintah Allah SWT guna mendekatkan diri kepada Allah Sang Pencipta. Kesungguhan dan keikhlasan keluarga Nabi Ibrahim a.s. untuk mengorbankan putranya, Nabi Ismail a.s., dibalas oleh Allah SWT dengan seekor hewan kurban. Keteguhan, kesabaran dan keikhlasan Nabi Ibrahim a.s. telah memberikan suatu kesadaran bagi seluruh umat muslim yaitu setiap perintah yang diberikan Allah SWT pastinya memiliki jawaban yang fundamental untuk meningkatkan keimanan dan ketakwaan hamba-hambanya.
         Apasih makna berkurban? Allah SWT berfirman dalam Al Quran Surat Ash Shaaffaat: 102-107 "Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: "Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu!" Ia menjawab: "Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar". Tatkala keduanya telah berserah diri dan Ibrahim membaringkan anaknya atas pelipis(nya), (nyatalah kesabaran keduanya), dan Kami panggillah dia: "Hai Ibrahim, sesungguhnya kamu telah membenarkan mimpi itu sesungguhnya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata, dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar."
         Dari petikan ayat Al Quran tersebut, kita dapat menarik tiga ini makna dalam berkurban seperti yang diperlihatkan dari keteguhan serta ketabahan hati yang dimiliki Nabi Ibrahim a.s. yang pertama  bahwa makna berkurban adalah mendekatkan diri kepada Allah SWT. “Berkurban” itu berarti kesunggguhan manusia dengan menyerahkan segalanya kepada Allah Sang Pencipta. Seperti misalnya Nabi Ibrahim a.s. yang telah mengikhlaskan putranya (Nabi Ismail a.s.) yang sesungguhnya sangat beliau cintai, yang sudah lama beliau idam-idamkan kehadirannya dengan perintah Allah SWT maka beliau rela (ikhlas) untuk mengurbankan putranya tersebut. Begitu pun Nabi Ismail a.s. yangg kala itu menerima perintah orangtuanya yang telah mendapatkan perintah langsung dari Allah SWT untuk menyembelihnya. Hal ini mengidikasikan dan mengimplementasikan sikap penyerahan diri (tawakal) kepada Allah SWT. 
        Kedua, dengan cara berkurban manusia sesungguhnya diajarkan untuk berbagi kepada manusia lainnya. Tentunya manusia yang dikategorikan untuk menerima hasil kurban adalah mereka yang kurang mampu. Kita ketahui bersama bahwa Allah SWT selalu mempunyai alasan yang cukup fundamental mengapa memerintahkan kepada para hambanya (manusia) untuk melaksanakan kurban. Dengan adanya kegiatan berkurban setiap manusia khususnya kaum muslim yang memiliki kemampuan ekonomi terbatas mampu merasakan bagaimana nikmatnya daging kurban dan lebih luas lagi mereka dapat merasakan bahwa masih banyak orang yang peduli terhadap lingkungan sosial di sekitarnya.
            Ketiga, melalui ibadah kurban maka rasa keikhlasan dari manusia diuji. Diuji dari sifat berlebihan, rakus dan tamak akan harta dunia yang mereka senangi. Ibadah kurban itu pada dasarnya mengajarkan kepada manusia untuk berbagi kepada sesama karena dari setiap harta yang kita miliki di dalamnya terdapat hak fakir miskin, Hal tersebut menggambarkan dengan memberikan apa yang telah kita cintai (duniawi) serta apa yang kita sayangi, dalam hal ini adalah harta yang kita miliki, yakni dengan cara berkurban tersebut maka diharapkan harta yang kita miliki semakin berkah dan bermanfaat.
         Allah SWT mengajarkan kepada kita melalui sejarah para Nabi dan Rasul-Nya. Pada dasarnya melalui kegiatan berkurban ini bertujuan melatih setiap manusia untuk meneladani apa yang dilakukan oleh Nabi Ibrahim a.s. dan Nabi Ismail a.s. dalam menjalankan esensi perintah Allah SWT untuk berkurban.
         Dalam ilmu pedagogik, khususnya yang mengarah pada pendidikan karakter, maka kegiatan berkurban ini merupakan bentuk implementasi dari nilai pendidikan karakter yaitu nilai religius, nilai toleransi, nilai peduli lingkungan dan nilai peduli sosial. Penanaman sikap dan nilai-nilai pendidikan karakter yang terdapat dalam ibadah kurban patut disosialisasikan dan diaplikasikan bahkan dibudayakan dalam dunia pendidikan islam kita. Hal itu tentu tidak lain guna melahirkan manusia Indonesia yang senantiasa memiliki sikap dermawan, rendah hati (tawadu), ikhlas membantu sesama dan peka terhadap kondisi sosial di sekitarnya. Selain dari itu, pastinya melalui ibadah kurban kita dilatih untuk meningkatkan ketakwaan kepada Allah SWT sehingga nilai pahala kita bertambah, keberkahan atas rizki yang telah Allah SWT berikan pun makin berlipat ganda, kemudian dengan berkurban kita dapat menjaga silaturahim sehingga mampu membangun solidaritas antarsesama, serta melalui ibadah kurban kita juga menghindarkan diri dari sifat tamak, rakus atau serakah.
         Begitu banyak nilai pendidikan yang dapat dipetik dan diajarkan kepada diri siswa melalui ibadah kurban. Apabila sedini mungkin siswa sudah dikenalkan dengan berbagai nilai positif, yang salah satunya didapatkan dari pendidikan berkurban di sekolah, maka bukan tidak mungkin negara ini akan terlepas dan terbebas dari karakter manusia yang bermental koruptor. Dengan berkurban keikhlasan manusia diuji, diuji dari sifat tamak, rakus dan serakah akan harta benda duniawi yang disenangi. Berkurban itu salah satu esensinya memberikan apa yang kita senangi, kita sayangi dan kita cintai (duniawi) kepada orang lain yang kurang mampu. Semoga melalui kegiatan berkurban kita terhindar dari sifat tercela seperti yang digambarkan oleh watak para koruptor.
             
        

         

Jumat, 18 Maret 2016

PELAJARAN 4 MEMBANGUN OPINI PUBLIK DENGAN BERGAYA JURNALISTIK



A.  Pengertian Teks Editorial/Opini
       Teks editorial atau disebut juga tajuk rencana merupakan teks yang berisi opini atau pendapat serta sikap resmi dari redaksi atau media massa sebagai institusi penerbitan terhadap persoalan aktual, fenomenal, atau kontroversial yang berkembang di masyarakat. Oleh sebab itu, teks editorial atau tajuk rencana disebut pula dengan teks opini.
    Isi teks editorial biasanya menyikapi berbagai persoalan yang berkembang di masyarakat. Persoalan tersebut dapat berupa aspek sosial, politik, ekonomi, kebudayaan, hukum, pemerintahan, olahraga maupun hiburan. Opini yang ditulis oleh redaksi diasumsikan mewakili redaksi sekaligus mencerminkan pendapat dan sikap resmi dari media yang bersangkutan.
      Teks opini/editorial pada umumnya bersifat aktual yang berisi analisis subjektif berdasarkan fakta dan data dengan disertai argumentasi sebagai penguat opini yang disampaikan. Penulis teks opini/editorial akan berusaha mempengaruhi dan meyakinkan orang lain melalui argumentasi tersebut sehingga pembaca akan meyakini kebenaran analisis subjektif yang disodorkan. Teks opini/editorial ini juga kerap mengungkapkan penilaian atau saran terhadap sesuatu, atau kebijakan subjek dalam memutuskan sesuatu. 
     Tujuan dari teks editorial/opini/tajuk rencana adalah untuk memberi tahu, memengaruhi, meyakinkan atau bisa saja sekedar untuk menghibur pembacanya. Oleh sebab itu, bahasa yang digunakan untuk mengekspresikan opini harus mengungkapkan tujuan. Dalam menyatakan informasi pada teks editorial/opini/tajuk rencana, kata-kata dipilih secara hati-hati karena kata-kata tersebut  mengekspresikan sikap dan sudut pandang penulis.

B.  Jenis Teks Editorial/Opini
1. Teks Editorial/Opini Analitis
       Yaitu teks editorial yang berkenaan dengan konsep atau teori tentang sesuatu. Dalam teks opini analitis, redaktur akan menyampaikan ide, gagasan, pemikiran yang berkaitan dengan suatu permasalahan yang sedang dibicarakan atau menjadi topik utama di masyarakat.
2. Teks Editorial/Opini Hortatoris
    Yaitu teks editorial yang berkenaan dengan tindakan yang perlu dilakukan atau kebijakaan yang perlu dibuat. Dalam teks opini hortatoris, redaktur memaparkan langkah-langkah, metode atau berbagai cara yang perlu diambil atau dilakukan untuk memutuskan dan menyelesaikan suatu problematika yang menjadi perbincangan publik.

C.  Ciri Teks Editorial/Opini
1.    Teks editorial/opini biasanya ditulis secara berkala, bergantung jenis terbitan media; ada yang harian (daily), mingguan (weekly), dua mingguan (biweekly), bulanan (monthly).
2.    Teks editorial/opini di dalamnya terdapat subjektivitas, tidak hanya fakta belaka.Hal itu disebabkan teks editorial/opini mengemukakan opini/pendapat dari redaktur media massa. Opini bersifat subjektif jadi tidak semua orang sependapat atau setujua dengan apa yang disampaikan oleh redaktur.
3.  Isi tajuk rencana menyikapi situasi yang berkembang di masyarakat luas, baik aspek aspek sosial, politik, ekonomi, kebudayaan, hukum, pemerintahan, olahraga maupun hiburan.
4.    Tajuk rencana berkaitan dengan kebijakan media yang bersangkutan sebab setiap media memiliki iklim tumbuh dan berkembang dalam kepentingan yang beragam. Setiap media memiliki kepentingan yang berbeda. Oleh sebab itu, tajuk rencana dari media yang berbeda akan memperlihatkan pendapat yang tidak sama dalam menyiukapi sebuah persoalan yang sama. Hal ini bergantung dari kepentingan yang menanungi media yang bersangkutan.
5. Tajuk rencana tidak ditulis atas nama penulisnya seperti halnya penulis berita atau features. Hal itu karena merupakan suara lembaga. Meskipun tajuk rencana kerap ditulis secara bergantian oleh orang yang berbeda dalam sebuah media, semangat isinya tetap harus mencerminkan suara bersama setiap jajaran redakturnya.
6. Tajuk rencana merupakan hasil pemikiran kolektif dari segenap awak media yang merupakan hasil kesepakatan bersama dalam menyikapi suatu permasalahan krusial yang sedang berkembang di tengah masyarakat.

D.  Perbedaan Artikel Opini dengan Teks Editorial
          Artikel opini dan surat pembaca merupakan pendapat pembaca terhadap fakta atau isu yang sedang berkembang di masyarakat. Artikel opini dan surat pembaca merupakan pendapat pribadi dari pembaca terhadap suatu masalah, peristiwa, kejadian di masyarakat yang mencantumkan identitas nama penulisnya.
          Teks editorial/opini/tajuk rencana merupakan pendapat dari rdaksi media massa terhadap persoalan yang aktual, fenomenal atau kontroversial yang berkembang di masyarakat. Penulisan teks editorial/opini/tajuk rencana tidak mencantumkan nama penulis pada teks karena teks editorial/opini/tajuk rencana merupakan pendapat dari lembaga atau mewakili pendapat dan sikap dari redaksi.


E.  Langkah Menyusun Teks Editorial/Opini
1.    Menentukan tema dengan mengamati persoalan yang menarik, mengikuti isu aktual yang berkembang. Berbagai isu dapat ditemukan melalui media cetak maupun media elektronik, diskusi atau wawancara.
2.   Mengumpulkan data dari berbagai sumber (buku, internet, dll) dan menemukan duduk persoalan yang sesungguhnya.
3.   Menganalisis semua informasi yang diperoleh. Membaca dan memperhatikan data yang diperoleh lalu memilih data sesuai dengan tujuan dan mendukung kekuatan tulisan.
4.  Mencoba membangun teks opini secara utuh dengan mengemukakan berbagai argumen untuk menyakinkan responden yang dituju. Jangan lupa memberikan judul untuk tulisan kalian. Judul dibuat dengan mencari sudut pandang yang menarik, dapat berwujud pernyataan atau pertanyaan. Pilihan judul yang tepat dan kalimat pembuka yang menarik sangat menentukan ketertarikan pembaca. Kalimat yang digunakan harus efektif, efisien, dan mudah dimengerti serta ringkas penyajiannya. Apabila menggunakan istilah asing, bahasa daerah maka buatlah padanannya dalam bahasa Indonesia.
5. Menyertakan argumentasi didukung dengan data penunjang untuk meyakinkan pembaca. Argumentasi merupakan “jantung” dari sebuah teks editorial/opini/tajuk rencana. Argumen yang dibangun harus konstruktif agar pesan dalam tulisan bisa diserap secara baik oleh pembaca. Namun, perlu diingat penulis juga perlu memberikan solusi yang komprehensif (ruang lingkup atau isinya luas dan lengkap sehingga dapat dipahami).
6.   Pada bagian akhir teks opini bisa diberikan pernyataan ulang pendapat yang berfungsi mempertegas gagasan yang ditawarkan penulis kepada pembaca.
7.    Mempublikasikan melalui berbagai media.

F.   Struktur Teks Editorial/Opini
 Struktur teks ini dapat dituliskan seperti berikut: pernyataan pendapat^argumentasi^pernyataan ulang pendapat (thesis statement^arguments^ reiteration).
1. Pernyataan pendapat (thesis statement).
       Sebuah teks editorial/opini/tajuk rencana diawali oleh pernyataan utama argumen. Hal utama dari argumen tersebut mengikuti pernyataan tesis yang mencakup ringkasan dari informasi utama yang akan digunakan sebagai pendukung. Bagian ini merupakan bagian teks yang berisi pernyataan pendapat mengenai topik dari sebuah permasalahan yang akan dibahas.         
2. Argumentasi (arguments)
       Bagian ini adalah bagian pendukung yang akan memperkuat opini yang hendak disampaikan. Pendukung berupa fakta-fakta tentang topik yang diangkat sehingga memberi nilai objektivitas pada tulisan daripada sekadar opini belaka. Hal tersebut digunakan untuk mempengaruhi orang lain agar membenarkan bahkan mengikuti apa yang penulis utarakan. Pada bagian ini penulis berusaha meyakinkan pembaca bahwa apa yang dikemukakan itu benar.
       Stiap paragraf yang disajikan memiliki kalimat topik yang jelas karena berfungsi untuk memperpanjang argumen utama. Kalimat dalam setiap paragraf diuraikan untuk memperluas gagasan utama. Untuk itu dibutuhkan rincian dan bukti dalam setiap paragraf agar dapat mendukung ide yang disajikan. Dalam hal ini, penulis dapat pula memasukkan kalimat antisipasi sudut pandang lawan yang berkemungkinan muncul.
3. Pernyataan ulang pendapat (reiteration)
       Bagian akhir ditutup dengan merangkum ide yang telah dipaparkan sebelumnya. Bagian ini berfungsi untuk menegaskan kembali sudut pandang penulis terhadap persoalan yang diutrakan.Pada bagian akhir teks opini ini berisi penegasan kembali pendapat yang telah dikemukakan agar pembaca atau pendengar semakin yakin dengan pandangan penulis.

G. Ciri Kebahasaan Teks Editorial/Opini 
1.    Adverbia Frekuentatif
       Dalam sebuah teks editorial/opini/tajuk rencana biasanya digunakan bahasa yang dapat mengekspresikan sikap eksposisi. Agar dapat meyakinkan pembaca, diperlukan ekspresi kepastian yang bisa dipertegas dengan kata keterangan (adverbia) frekuentatif. Adverbia frekuentatif adalah adverbia yang menggambarkan makna yang berhubungan dengan tingkat kekerapan terjadinya sesuatu yang diterangkan adverbia itu. Kata-kata yang tergolong dalam adverbia ini adalah selalu, sering, jarang,sebagian besar waktu, biasanya dan kadang-kadang. Contoh dalam kalimat :
a.    Bidu selalu menyiapkan peralatan memancingnya dengan cermat.
b.    Jarang siswa yang datang terlambat saat ujian nasional.

2.    Konjungsi
       Konjungsi yang banyal dijumpai dalam teks editorial/opini/tajuk rencana biasanya ada beberapa macam, seperti :
a.    Konjungsi yang digunakan untuk menata argumentasi
     Konjungsi ini berupa konjungsi temporal seperti pertama, kedua, selanjutnya, berikutnya, lalu, kemudian, setelah itu, dll. Contoh dalam kalimat :
1)   Pertama, pemerintah harus bertindak tegas kepada para pengedar narkoba dengan memberikan sanksi yang berat kepada mereka yang terbukti menyalahgunakan narkoba. Kedua, pemerintah jangan ragu-ragu atau tebang pilih terhadap pelaku penyalahgunaan narkoba. Apalagi jika yang tersangkut masalah adalah mereka yang memiliki kedudukan maupun jabatan di pemerintahan.
2) Apabila negara ini dengan kekayaan lautnya yang luar biasa diekploitasi oleh nelayan dari negara lain maka bisa dipastikan hasil tangkapan nelayan kita akan berkurang. Lalu, hal itu akan berdampak pada penghasilan nelayan lokal yang rendah dan tidak sebanding dengan modal yang harus dikeluarkan untuk melaut.

b.   Konjungsi yang digunakan untuk memperkuat argumentasi
     Konjungsi ini berbentuk konjungsi penegasan seperti bahkan, juga, selain itu, lagi pula, sebagai contoh, misalnya, padahal, justru, dll.Contoh dalam kalimat :
1)   Pemerintah DKI menduga jika sampah bungkus kabel yang menyumbat drainase di ring 1 adalah ulah oknum. Bahkan, Gubernur DKI-Ahok-menjelaskan kepada wartawan apabila hal ini adalah sebuah sabotase dan black campange jelang pilgub DKI.
2) Padahal banjir di Brebes Selatan sudah diantisipasi oleh pemerintah setempat misalnya dengan membangun grenjeng dan penahan dari karung berisi pasir di sepanjang sungai Keruh.

c.    Konjungsi yang digunakan untuk menyatakan hubungan sebab-akibat
     Konjungsi ini berbentuk konjungsi kausalitas seperti sebab, akibat, karena, maka, oleh sebab itu, karena itu, sehingga. Contoh dalam kalimat :
1) Akibat luapan air sungai Krukut, jalan desa yang menghubungkan dua dusun terputus.
2)   Indriyani menjadi juara olimpiade saint sehingga ia mendapatkan beasiswa S1.

d.   Konjungsi yang digunakan untuk menyatakan harapan
     Konjungsi ini berupa kata agar, supaya, biar, dll. Contoh dalam kalimat :
1)   Radit berjuang sekuat tenaga supaya dia masuk dalam 10 besar peringkat kelas.
2)   Agar warga lebih nyaman saat musin hujan, pemerintah desa meminta warganya membersihkan selokan di lingkungan masing-masing.

3.    Verba (Kata Kerja)
       Beberapa verba yang sering dijumpai dalam teks editorial/opini/tajuk rencana antara lain :
a.    Verba Material
     Adalah verba yang menunjukkan perbuatan fisik atau peristiwa. Contoh verba yang menunjukkan perbuatan fisik seperti mengunyah, membaca, mencabut, dll. Contoh dalam kalimat :
1)   Kita harus mengunyah makanan yang kita konsumsi
2)   Petani mencabuti rumput yang menjadi gulma tanaman padi.
Contoh verba yang menunjukkan peristiwa seperti pertempuran, keberhasilan, tabrakan, dll. Contoh dalam kalimat :
1)   Ini merupakan pertempuran sengit yang kesekian kali diikutinya.
2)   Ia pun lolos dari tabrakan maut di tol Jagorawi.

b.   Verba Relasional
      Adalah verba yang menunjukkan suatu hubungan antara subjek dan pelengkap. Struktur kalimat dari verba relasional : subjek+verba relasional+pelengkap. Verba relasional dapat digolongkan menjadi :
1)   Verba Relasional Identifikatif
         Merupakan verba relasional yang menunjukkan intensitas (yang mengandung pengertian A adalah B). Contoh verba relasional identifikatif ditandai dengan kata merupakan, adalah, yaitu, dll. Contoh dalam kalimat :
a)    Ayah Anisa merupakan tulang punggung keluarga satu-satunya.
b)   Kakak adalah anak tertua dalam silsilah keluarga.
       Ciri dari verba relasional identifikatif adalah terdapat partisipan (token) atau teridentifikasi (indentified) dan nilai (value) atau pengidentifikasi (identifieer). Contoh dalam kalimat :
a) Ayah Anisa (token/partisipan) merupakan (verba relasional identifikatif) tulang punggung keluarga satu-satunya (value/nilai).
b)  Kakak (token/partisipan) adalah (verba relasional identifikatif) anak tertua dalam silsilah keluarga (value/nilai).

2)   Verba Relasional Atributif
         Verba relasional atributif dapat dibedakan menjadi 2 macam yaitu :
a)    Merupakan verba relasional yang menunjukkan sirkumstansi (yang bermakna A pada/di B) contohnya kata sekelas, terlibat, dll. Contoh dalam kalimat :
1.   Rita sekelas dengan Ardi pada tingkat XI tahun pelajaran ini.
2.   Bu Dias terlibat bersma siswa KIR dalam penemuan bahan bakar alternatif.
b)Merupakan verba relasional yang menunjukkan milik (yang berarti A mempunyai B) contohnya kata mengandung, terkontaminasi, dll. Contoh dalam kalimat :
1.   Es yang diproduksi pabrik itu mengandung bakteri ecoli.
2.   Tanah di desanya terkontaminasi residu bahan kimia dari pabrik tekstil.
     Ciri dari verba relasional atributif adalah terdapat partisipan penyandang (carrier) dan sandangan (attribute). Contoh dalam kalimat :
a) Rita (carrier/penyandang) sekelas (verba relasional atributif) dengan Ardi pada tingkat XI tahun pelajaran ini (attribute/sandangan).
b)   Tanah di desanya (carrier/penyandang)  terkontaminasi (verba relasional atributif) residu bahan kimia dari pabrik tekstil (attribute/sandangan).

c.    Verba Mental
     Adalah verba yang pada umumnya digunakan untuk mengajukan klaim. Verba mental menjelaskan tentang 3 hal yaitu :
1)   Persepsi (tanggapan/penerimaan)
       Adalah tindakan menyusun, mengenali, dan menafsirkan informasi sensoris guna memberikan gambaran dan pemahaman tentang lingkungan. Persepsi meliputi semua sinyal dalam sistem saraf, yang merupakan hasil dari stimulasi fisik atau kimia dari organ pengindra. Contoh kata yang menunjukkan verba mental yang menerangkan persepsi seperti melihat, mendengar, kedinginan, merasakan, dll. Contoh dalam kalimat :
a)    Kalian harus melihat rekaman peristiwa membahagiakan ini
b) Seluruh peserta perkemahan kedinginan di tengah kabut yang menyelimuti perkemahan.

2)   Afeksi (perasaan)
       Adalah tindakan yang menyangkut sikap dan nilai. Ranah afeksi mencakup watak perilaku seperti perasaan, minat, sikap, emosi, dan nilai. Dalam hal ini dapat diwujudkan berupa perasaan atau emosi seperti khawatir, senang, kecewa. Contoh dalam kalimat :
a)    Raditya sangat senang dengan kehadiran orangtuanya di acara wisuda.
b)   Setelah satu jam berlalu tidak ada kabar, ibunya mulai khawatir.

Wujud afeksi dapat berupa minat seperti tertarik,antusias,dll. Contoh dalam kalimat :
a)    Nita sangat antusias melihat konser grup band Slank di alun-alun kota.
b)   Aku tertarik mengikuti tes SMPTN tahun ini.

Bentuk afeksi bisa berupa sikap seperti  tegas, berwibawa, dll. Contoh dalam kalimat :
a)    Ia terlihat berwibawa dalam balutan seragam tentara.
b)   Ayah tegas melarang adik ikut piknik ke pantai.

Bentuk afeksi pun dapat berupa nilai seperti baik, buruk, dll. Contoh dalam kalimat :
a) Perangainya sangat baik kepada orangtua sehingga banyak orang yang simpati kepadanya.
b)Kebiasan buruknya baru disadarinya setelah kejadian tersebut diketahui orangtuanya.

3)   Kognisi (pikiran/logika)
    Adalah segala hal yang berkaitan dengan kemampuan pikiran, logika, kecerdasan, intelegensi. Jadi, segala upaya yang menyangkut aktivitas otak termasuk dalam ranah kognisi. Hal yang berkaitan dengan kognisi dapat ditandai dengan kata mengerti, memahami, berpikir, dll.  Contoh dalam kalimat :
a)    Para guru sudah memahami kesiapan peserta didiknya jelang UN.
b)  Setiap peserta didik diminta berpikir  keras untuk menyelesaikan latihan soal UN.
Ciri verba mental di dalamnya terdapat partisipan pengindera (senser) dan fenomena. Contoh dalam kalimat :
1)  Saya (partisipan pengindera/senser) merasa (verba mental) apa yang dilakukannya sudah benar (fenomena).
2)   Para guru (partisipan pengindera/senser) sudah memahami (verba mental)  kesiapan peserta didiknya jelang UN (fenomena).

4.    Modalitas
       Adalah cara seseorang dalam menyatakan sikap dalam sebuah komunikasi. Tujuan modalitas dalam teks editorial.opini adalah untuk membangun opini yang mengarah kepada saran atau anjuran. Beberapa bentuk modalitas antara lain :
a.    Modalitas untuk menyatakan kepastian
Ditandai dengan penggunaan kata seperti memang, niscaya, pasti, sungguh, tentu, tidak, bukan, bukannya, dll. Contoh dalam kalimat :
1)   Peristiwa Gerhana Matahari Total (GMT)  memang sudah diprediksi oleh BMKG.
2) Kejadian fenomenal itu tentu tidak akan dilewatkan oleh para netizen untuk diabadikan.
b.   Modalitas untuk menyatakan pengakuan
Ditandai dengan penggunaan kata seperti iya, memang benar, betul, sebenarnya, malahan, dll. Contoh dalam kalimat :
1)   Iya, betul, sayalah yang memberikan hadiah itu” terang Dita.
2)   Kebijakan pemerintah sebenarnya ditujukan demi kebaikan rakyat.
c.    Modalitas untuk menyatakan kesangsian
Ditandai dengan penggunaan kata seperti agaknya, sepertinya, entah, mungkin, rasanya, rupanya,kira-kira, dll. Contoh dalam kalimat :
1)   Saat dia mengambil keputusan itu agaknya dia masih tidak percaya diri.
2)   Entah terpengaruh lingkungan, entah bakat terpendam yang membuatnya menjadi kreatif.
d.   Modalitas untuk menyatakan keinginan
Ditandai dengan penggunaan kata seperti semoga, mudah-mudahan, berharap, insya allah, dll. Contoh dalam kalimat :
1) Mari berharap agar produk Indonesia mampu bersaing dengan produk negara ASEAN lainnya.
2)   Kita selalu berdoa semoga keberhasilan menghampiri pembalap F1 dari Indonesia.
e.    Modalitas untuk menyatakan ajakan
Ditandai dengan penggunaan kata seperti hendaknya, mari, ayo, dll. Contoh dalam kalimat :
1)   Ayo kita sukseskan Pekan Imunisasi Nasional (PIN) pada 8 s.d. 15 Maret 2016.
2)   Seluruh pelajar Indonesia mari tingkatkan prestasi.
f.     Modalitas untuk menyatakan larangan
Ditandai dengan penggunaan kata seperti  jangan, tidak diperkenankan, dilarang, dll. Contoh dalam kalimat :
1)   Kepada penumpang KRL dilarang naik di atas gerbong KRL, berbahaya!
2)   Jangan lupa belajar yang giat dan tekun untuk menghadapi Ujian Nasional (UN).
g.    Modalitas untuk menyatakan keheranan
Ditandai dengan penggunaan kata seperti  mustahil, tidak masuk akal, tidak mungkin, dll. Contoh dalam kalimat :
1)   Kejadian tadi mustahil bisa analisis tanpa bantuan mikroskop.
2)   Tidak mungkin seseorang mampu berjalan dengan bertelanjang kaki di atas bara.

5.    Reduplikasi
       Adalah proses pengulangan kata atau unsur kata. Bentuk ulang (reduplikasi) merupakan sebuah bentuk gramatikal yang berwujud penggandaan sebagian atau seluruh bentuk dasar sebuah kata. Dalam Bahasa Indonesia terdapat bermacam-macam bentuk ulang. Pengulangan dapat dilakukan pada :
a.    Pengulangan Kata Dasar (Kata Ulang Utuh)
Merupakan penggulangan bentuk dasar, contoh :
1)   meja (kata dasar) mengalami proses reduplikasi menjadi meja-meja.
2)   lari (kata dasar) mengalami proses reduplikasi menjadi lari-lari.
b.   Pengulangan Kata Berimbuhan
Merupakan pengulangan kata dasar dengan menambah imbuhan (afiks) baik pada kata pertama atau kedua dari kata yang diulang, contoh :
1) Rumah (kata dasar) mengalami proses reduplikasi (sufiks) -an menjadi rumah-rumahan.
2)   Senang (kata dasar) mengalami proses reduplikasi (prefiks) ber- menjadi bersenang-senang.
c.    Pengulangan Semu
Reduplikasi pada kata ulang semu terjadi pada kata dasar yang sebenarnya bukan hasil reduplikasi itu sendiri. Perbedaan dengan kata ulang utuh adalah kata yang direduplikasi tidak akan memiliki makna jika dipisah. Contoh :
1)   Ubur-ubur (kata dasar)

2)   Alun-alun (kata dasar), dll.

Kamis, 17 Maret 2016

PELAJARAN 3 MENARIK PERHATIAN KONSUMEN MELALUI KEINDAHAN BAHASA IKLAN



A.  Pengertian Teks Iklan
    Teks iklan adalah berita yang dimaksudkan untuk mendorong masyarakat agar memenuhi permintaan di dalam iklan. Iklan merupakan bentuk pemakaian bahasa yang digunakan sedemikian rupa sehingga pesan yang terdapat didalamnya dapat diterima oleh masyarakat kemudian masyarakat memberikan umpan balik berupa keuntungan bagi perusahaan pengiklan. Keberhasilan sebuah iklan dapat diterima oleh masyarakat sangat bergantung dari kemahiran penggunaan unsur-unsur kebahasaan sebagai titik tolak penulisan iklan.
    Proses penyampaian pesan oleh pengirim pesan kepada penerima pesan disebut komunikasi. Adanya komunikasi dalam iklan dimanfaatkan produsen sebagai tanda (sarana) untuk menawarkan prosuknya. Tanda (sarana) mempengaruhi bagaimana proses komunikasi tercipta. Tanda (sarana) yang digunakan oleh produsen kepada konsumen pada akhirnya dapat dicermati, dipertimbangkan untuk mengambil keputusan agar membeli atau tidak suatu produk yang merupakan inti iklan.
       Pesan komunikasi terdiri atas isi dan lambang. Pada dasarnya iklan harus dikemas dengan menarik agar orang mau memperhatikan dan menyimak iklan tersebut. Diperlukan materi (isi) iklan yang memiliki daya tarik yang kuat dan dilakukan berdasarkan kebenaran atas apa yang diinformasikan. Tanda atau lambang (sarana) dalam iklan dapat berupa gerakan/isyarat, tulisan, angka, lambang, simbol, gambar, dan rambu.

B.  Struktur Teks Iklan
1. Orientasi
Merupakan bagian awal yang memberikan gambaran tentang produk yang diiklankan.
2. Tubuh Iklan
Merupakan bagian inti dari iklan berupa tulisan atau kaidah bahasa tertentu.
3. Justifikasi
Penilaian terhadap kualitas produk sekaligus keputusan pembaca/penyimak/pemirsa untuk memenuhi atau tidak memenuhi apa yang diharapkan oleh oleh sisi iklan (tertarik, membeli, menggunakan atau tidak tertarik, tidak membeli, tidak menggunakan).

C.  Elemen Iklan
       Elemen pada iklan diperlukan untuk menarik perhatian masyarakat atau agar suatu produk sesuai dengan keinginan. Elemen iklan tersebut antara lain :
1.    Heard Words
Yaitu kata-kata yang terdengar dalam iklan.
2.    Music
Yaitu musik yang terdapat dalam tayangan iklan.
3.    Seen Words
Yaitu kata-kata yang terlihat dalam iklan.
4.    Picture
Yaitu gambar atau tayangan yang terdapat dalam iklan.
5.    Colour
Yaitu komposisi atau keserasian warna gambar serta pengaturan cahaya yang terdapat dalam tampilan iklan.
6.    Movement
Yaitu gerakan yang terdapat dalam iklan.

D.  Genre Teks Iklan
      Teks iklan termasuk dalam genre makro yang kompleks. Teks iklan dapat dikategorikan menjadi tiga bentuk  yaitu :
1.    Cetak
     Yaitu iklan yang berbentuk kata, klausa, kalimat atau gabungan dari ketiganya namun dapat pula berupa gambar. Keberhasilan iklan cetak selain dari bahasa yang digunakan juga dipengaruhi oleh layout, jenis font, dan warna. Salah satu bentuk iklan cetak adalah story board. Elemen visual dan audio digunakan pula dalam story board yaitu dengan mengolah elemen desain grafis berupa gambar, huruf dan warna serta tata letak.
     Pada teks iklan di surat kabar, ruang untuk iklan memiliki tempat tersendiri. Ada iklan yang mengisi satu halaman penuh, ada pula iklan baris. Iklan baris pada media cetak merupakan iklan yang hanya terdiri dari dua s.d. tiga baris dengan kalimat yang disingkat sedemikian rupa sehingga pembaca iklan perlu mencermati singkatan tersebut untuk memahami maksudnya. Contoh iklan baris :
jual cpt tnh jln. A. Yani Brbs No. 121 strgs pst kota LT 12x26m dpn htl Indragiri hub. 0283121811

 
 Iklan baris di atas ditulis dengan kata yang disingkat, apabila ditulis lengkap maka iklan tersebut akan berbunyi seperti ini :
Jual cepat tanah jalan Ahmad Yani Brebes Nomor 121 strategis pusat kota luas tanah 12 x 26 meter depan hotel Indragiri hubungi 0283121811



2.    Audio
     Yaitu bentuk iklan yang berupa suara sebagai pengisi utama iklan. Biasanya terdapat dalam iklan radio. Ciri iklan radio antara lain :
a.    Memiliki bahasa, batasan waktu dan perisitlahan yang khusus.
b. Skrip menggunakan kode tertentu yang diketahui secara umum oleh kalangan periklanan.
c.    Durasi waktu iklan radio dihitung berdasarkan detik. Ketentuan waktu dalam iklan radio adalah 60 detik; ada pula yang hanya 30 s.d. 45 detik. Rincian pembagian waktu iklan radio secara umum yaitu :
1)   5 s.d. 10 detik pertama sebagai building situation (pendengar sudah mengetahui setting dan tokoh),
2)   11 s.d. 45 detik berikutnya berisi konflik,
3)   45 s.d. 60 detik terakhir berupa solusi.
     Agar iklan radio lebih menarik, tidak datar, dan tidak membosankan perlu kata pemancing yang unik di akhir dialog. Keberhasilan iklan radio ditentukan oleh suara manusia, musik, jinggle, efek suara (SFX).
3.    Audiovisual
     Yaitu iklan yang berbentuk audio dan visual. Iklan di televisi menuntut estetika menyangkut indra pendengaran dan penglihatan. Karakteristik iklan di televisi adalah produk dapat dikomunikasikan secara total dalam bentuk audio, visual, dan gerak. Iklan televisi berperan penting dalam mengembangkan dan membangun citra positif bagi pemasang iklan (perusahaan dan produk) yang dihasilkan.
     Berdasarkan isinya, iklan televisi ada tiga jenis yaitu :
a.    Iklan Spot
          Adalah iklan yang berisi informasi tentang produk dari suatu perusahaan untuk mencapai penjualan maksimal, bersifat komersial murni, bertujuan untuk merangsang minat pembeli atau pemakai produk. Contoh iklan spot seperti iklan produk makanan, minuman, obat-obatan, dll.
b.    Iklan Tidak Langsung
          Adalah iklan yang berisi tentang produk atau pesan tertentu dari perusahaan atau lembaga pemerintah atau swasta yang disampaikan secara tidak langsung ke dalam materi iklan atau program siaran. Contoh iklan tidak langsung seperti iklan produk susu anak yang di dalamnya mengandung pesan moral untuk orang tua agar memberikan nutrisi terbaik untuk anak pada usia tertentu, iklan PLN tentang listrik pintar, dll.
c.    Iklan Layanan Masyarakat
        Adalah iklan yang berisi informasi tentang suatu kegiatan atau pesan-pesan moral dan sosial untuk menarik perhatian pemirsanya secara maksimal agar berpartisipasi dan bersimpati terhadap kegiatan atau masalah tertentu yang diselipkan dalam iklan. Contoh iklan ini adalah iklan tentang bahaya narkoba, iklan global warming, iklan menjadi relawan korban perang, bukan sekedar like, iklan konservasi lingkungan, iklan kesehatan tentang rokok, iklan anti bulying, dll.

E.  Hal Yang Harus Diperhatikan Dalam Menyusun Iklan
1.    Iklan harus disajikan dalam bahasa yang bisa dipahami oleh khalayak sasrannya.
2. Iklan harus menjelaskan secara khas keunggulan yang ditonjolkan oleh suatu produk yang dapat dibuktikan dengan pernyataan tertulis dari otoritas terkait atau sumber yang otentik.
3. Iklan yang mencantumkan label “halal” harus dilakukan oleh produk yang telah memperoleh sertifikat resmi dari Majelis Ulama Indonesia (MUI).
4. Iklan tidak boleh menggunakan kata-kata superlatif seperti “paling”, nomor satu”, “sangat top” atau kata-kata yang berawalan “ter” dan atau yang bersinonim dengan kata superlatif.
5.  Iklan tidak boleh menggunakan kata “satu-satunya” atau yang bersinonim dengan kata tersebut, tanpa secara khas menyebutkan dalam  hal apa produk yang diiklankan menjadi satu-satunya dan hal itu harus dapat dibuktikan dan dipertanggungjawabkan.
6.  Penggunaan kata “gratis”, “diskon” atau kata lain yang bermakna sama sebenarnya tidak boleh dicantumkan dalam iklan jika ternyata konsumen harus membayar biaya lain.

F.   Ciri Kebahasaan Teks Iklan
          Ciri kebahasaan dalam teks iklan adalah jenis kalimat yang digunakan di dalamnya. Jenis kalimat tersebut ditunjukkan dengan adanya kaidah pernyataan berisi bujukan untuk menganjurkan hal yang tertera dalam iklan tersebut. Jenis kalimat tersebut dapat berupa kalimat tanya, kalimat perintah, kalimat seruan, kalimat persilaan, kalimat ajakan, dan kalimat larangan.
          Bentuk bahasa yang digunakan dalam iklan biasanya bahasa retoris yaitu bentuk bahasa baik tulis  maupun lisan untuk mempengaruhi dan meyakinkan penyimak atau pembaca. Gaya retoris sangat diperlukan dalam menentukan keberhasilan iklan. Bahasa iklan mengandung fakta dan opini. Fakta iklan merupakan peristiwa nyata sedangkan opini dalam iklan berupa pernyataan uuntuk menarik minat konsumen. Namun opini dalam iklan harus didukung data-data berupa fakta yang ada di dalam produk yang ditawarkan.
          Pelanggaran dalam iklan khususnya kaidah gramatikal masih cukup banyak terjadi baik berupa kalimat pleonasme maupun kalimat yang rancu. Selain itu secara semantis, bahasa iklan pun masih banyak menimbulkan penafsiran yang beragam (ambigu). Banyak pula ditemukan penggunaan bahasa inggris maupun bahasa daerah yang bercampur dalam iklan berbahasa Indonesia.