Jumat, 18 Maret 2016

PELAJARAN 4 MEMBANGUN OPINI PUBLIK DENGAN BERGAYA JURNALISTIK



A.  Pengertian Teks Editorial/Opini
       Teks editorial atau disebut juga tajuk rencana merupakan teks yang berisi opini atau pendapat serta sikap resmi dari redaksi atau media massa sebagai institusi penerbitan terhadap persoalan aktual, fenomenal, atau kontroversial yang berkembang di masyarakat. Oleh sebab itu, teks editorial atau tajuk rencana disebut pula dengan teks opini.
    Isi teks editorial biasanya menyikapi berbagai persoalan yang berkembang di masyarakat. Persoalan tersebut dapat berupa aspek sosial, politik, ekonomi, kebudayaan, hukum, pemerintahan, olahraga maupun hiburan. Opini yang ditulis oleh redaksi diasumsikan mewakili redaksi sekaligus mencerminkan pendapat dan sikap resmi dari media yang bersangkutan.
      Teks opini/editorial pada umumnya bersifat aktual yang berisi analisis subjektif berdasarkan fakta dan data dengan disertai argumentasi sebagai penguat opini yang disampaikan. Penulis teks opini/editorial akan berusaha mempengaruhi dan meyakinkan orang lain melalui argumentasi tersebut sehingga pembaca akan meyakini kebenaran analisis subjektif yang disodorkan. Teks opini/editorial ini juga kerap mengungkapkan penilaian atau saran terhadap sesuatu, atau kebijakan subjek dalam memutuskan sesuatu. 
     Tujuan dari teks editorial/opini/tajuk rencana adalah untuk memberi tahu, memengaruhi, meyakinkan atau bisa saja sekedar untuk menghibur pembacanya. Oleh sebab itu, bahasa yang digunakan untuk mengekspresikan opini harus mengungkapkan tujuan. Dalam menyatakan informasi pada teks editorial/opini/tajuk rencana, kata-kata dipilih secara hati-hati karena kata-kata tersebut  mengekspresikan sikap dan sudut pandang penulis.

B.  Jenis Teks Editorial/Opini
1. Teks Editorial/Opini Analitis
       Yaitu teks editorial yang berkenaan dengan konsep atau teori tentang sesuatu. Dalam teks opini analitis, redaktur akan menyampaikan ide, gagasan, pemikiran yang berkaitan dengan suatu permasalahan yang sedang dibicarakan atau menjadi topik utama di masyarakat.
2. Teks Editorial/Opini Hortatoris
    Yaitu teks editorial yang berkenaan dengan tindakan yang perlu dilakukan atau kebijakaan yang perlu dibuat. Dalam teks opini hortatoris, redaktur memaparkan langkah-langkah, metode atau berbagai cara yang perlu diambil atau dilakukan untuk memutuskan dan menyelesaikan suatu problematika yang menjadi perbincangan publik.

C.  Ciri Teks Editorial/Opini
1.    Teks editorial/opini biasanya ditulis secara berkala, bergantung jenis terbitan media; ada yang harian (daily), mingguan (weekly), dua mingguan (biweekly), bulanan (monthly).
2.    Teks editorial/opini di dalamnya terdapat subjektivitas, tidak hanya fakta belaka.Hal itu disebabkan teks editorial/opini mengemukakan opini/pendapat dari redaktur media massa. Opini bersifat subjektif jadi tidak semua orang sependapat atau setujua dengan apa yang disampaikan oleh redaktur.
3.  Isi tajuk rencana menyikapi situasi yang berkembang di masyarakat luas, baik aspek aspek sosial, politik, ekonomi, kebudayaan, hukum, pemerintahan, olahraga maupun hiburan.
4.    Tajuk rencana berkaitan dengan kebijakan media yang bersangkutan sebab setiap media memiliki iklim tumbuh dan berkembang dalam kepentingan yang beragam. Setiap media memiliki kepentingan yang berbeda. Oleh sebab itu, tajuk rencana dari media yang berbeda akan memperlihatkan pendapat yang tidak sama dalam menyiukapi sebuah persoalan yang sama. Hal ini bergantung dari kepentingan yang menanungi media yang bersangkutan.
5. Tajuk rencana tidak ditulis atas nama penulisnya seperti halnya penulis berita atau features. Hal itu karena merupakan suara lembaga. Meskipun tajuk rencana kerap ditulis secara bergantian oleh orang yang berbeda dalam sebuah media, semangat isinya tetap harus mencerminkan suara bersama setiap jajaran redakturnya.
6. Tajuk rencana merupakan hasil pemikiran kolektif dari segenap awak media yang merupakan hasil kesepakatan bersama dalam menyikapi suatu permasalahan krusial yang sedang berkembang di tengah masyarakat.

D.  Perbedaan Artikel Opini dengan Teks Editorial
          Artikel opini dan surat pembaca merupakan pendapat pembaca terhadap fakta atau isu yang sedang berkembang di masyarakat. Artikel opini dan surat pembaca merupakan pendapat pribadi dari pembaca terhadap suatu masalah, peristiwa, kejadian di masyarakat yang mencantumkan identitas nama penulisnya.
          Teks editorial/opini/tajuk rencana merupakan pendapat dari rdaksi media massa terhadap persoalan yang aktual, fenomenal atau kontroversial yang berkembang di masyarakat. Penulisan teks editorial/opini/tajuk rencana tidak mencantumkan nama penulis pada teks karena teks editorial/opini/tajuk rencana merupakan pendapat dari lembaga atau mewakili pendapat dan sikap dari redaksi.


E.  Langkah Menyusun Teks Editorial/Opini
1.    Menentukan tema dengan mengamati persoalan yang menarik, mengikuti isu aktual yang berkembang. Berbagai isu dapat ditemukan melalui media cetak maupun media elektronik, diskusi atau wawancara.
2.   Mengumpulkan data dari berbagai sumber (buku, internet, dll) dan menemukan duduk persoalan yang sesungguhnya.
3.   Menganalisis semua informasi yang diperoleh. Membaca dan memperhatikan data yang diperoleh lalu memilih data sesuai dengan tujuan dan mendukung kekuatan tulisan.
4.  Mencoba membangun teks opini secara utuh dengan mengemukakan berbagai argumen untuk menyakinkan responden yang dituju. Jangan lupa memberikan judul untuk tulisan kalian. Judul dibuat dengan mencari sudut pandang yang menarik, dapat berwujud pernyataan atau pertanyaan. Pilihan judul yang tepat dan kalimat pembuka yang menarik sangat menentukan ketertarikan pembaca. Kalimat yang digunakan harus efektif, efisien, dan mudah dimengerti serta ringkas penyajiannya. Apabila menggunakan istilah asing, bahasa daerah maka buatlah padanannya dalam bahasa Indonesia.
5. Menyertakan argumentasi didukung dengan data penunjang untuk meyakinkan pembaca. Argumentasi merupakan “jantung” dari sebuah teks editorial/opini/tajuk rencana. Argumen yang dibangun harus konstruktif agar pesan dalam tulisan bisa diserap secara baik oleh pembaca. Namun, perlu diingat penulis juga perlu memberikan solusi yang komprehensif (ruang lingkup atau isinya luas dan lengkap sehingga dapat dipahami).
6.   Pada bagian akhir teks opini bisa diberikan pernyataan ulang pendapat yang berfungsi mempertegas gagasan yang ditawarkan penulis kepada pembaca.
7.    Mempublikasikan melalui berbagai media.

F.   Struktur Teks Editorial/Opini
 Struktur teks ini dapat dituliskan seperti berikut: pernyataan pendapat^argumentasi^pernyataan ulang pendapat (thesis statement^arguments^ reiteration).
1. Pernyataan pendapat (thesis statement).
       Sebuah teks editorial/opini/tajuk rencana diawali oleh pernyataan utama argumen. Hal utama dari argumen tersebut mengikuti pernyataan tesis yang mencakup ringkasan dari informasi utama yang akan digunakan sebagai pendukung. Bagian ini merupakan bagian teks yang berisi pernyataan pendapat mengenai topik dari sebuah permasalahan yang akan dibahas.         
2. Argumentasi (arguments)
       Bagian ini adalah bagian pendukung yang akan memperkuat opini yang hendak disampaikan. Pendukung berupa fakta-fakta tentang topik yang diangkat sehingga memberi nilai objektivitas pada tulisan daripada sekadar opini belaka. Hal tersebut digunakan untuk mempengaruhi orang lain agar membenarkan bahkan mengikuti apa yang penulis utarakan. Pada bagian ini penulis berusaha meyakinkan pembaca bahwa apa yang dikemukakan itu benar.
       Stiap paragraf yang disajikan memiliki kalimat topik yang jelas karena berfungsi untuk memperpanjang argumen utama. Kalimat dalam setiap paragraf diuraikan untuk memperluas gagasan utama. Untuk itu dibutuhkan rincian dan bukti dalam setiap paragraf agar dapat mendukung ide yang disajikan. Dalam hal ini, penulis dapat pula memasukkan kalimat antisipasi sudut pandang lawan yang berkemungkinan muncul.
3. Pernyataan ulang pendapat (reiteration)
       Bagian akhir ditutup dengan merangkum ide yang telah dipaparkan sebelumnya. Bagian ini berfungsi untuk menegaskan kembali sudut pandang penulis terhadap persoalan yang diutrakan.Pada bagian akhir teks opini ini berisi penegasan kembali pendapat yang telah dikemukakan agar pembaca atau pendengar semakin yakin dengan pandangan penulis.

G. Ciri Kebahasaan Teks Editorial/Opini 
1.    Adverbia Frekuentatif
       Dalam sebuah teks editorial/opini/tajuk rencana biasanya digunakan bahasa yang dapat mengekspresikan sikap eksposisi. Agar dapat meyakinkan pembaca, diperlukan ekspresi kepastian yang bisa dipertegas dengan kata keterangan (adverbia) frekuentatif. Adverbia frekuentatif adalah adverbia yang menggambarkan makna yang berhubungan dengan tingkat kekerapan terjadinya sesuatu yang diterangkan adverbia itu. Kata-kata yang tergolong dalam adverbia ini adalah selalu, sering, jarang,sebagian besar waktu, biasanya dan kadang-kadang. Contoh dalam kalimat :
a.    Bidu selalu menyiapkan peralatan memancingnya dengan cermat.
b.    Jarang siswa yang datang terlambat saat ujian nasional.

2.    Konjungsi
       Konjungsi yang banyal dijumpai dalam teks editorial/opini/tajuk rencana biasanya ada beberapa macam, seperti :
a.    Konjungsi yang digunakan untuk menata argumentasi
     Konjungsi ini berupa konjungsi temporal seperti pertama, kedua, selanjutnya, berikutnya, lalu, kemudian, setelah itu, dll. Contoh dalam kalimat :
1)   Pertama, pemerintah harus bertindak tegas kepada para pengedar narkoba dengan memberikan sanksi yang berat kepada mereka yang terbukti menyalahgunakan narkoba. Kedua, pemerintah jangan ragu-ragu atau tebang pilih terhadap pelaku penyalahgunaan narkoba. Apalagi jika yang tersangkut masalah adalah mereka yang memiliki kedudukan maupun jabatan di pemerintahan.
2) Apabila negara ini dengan kekayaan lautnya yang luar biasa diekploitasi oleh nelayan dari negara lain maka bisa dipastikan hasil tangkapan nelayan kita akan berkurang. Lalu, hal itu akan berdampak pada penghasilan nelayan lokal yang rendah dan tidak sebanding dengan modal yang harus dikeluarkan untuk melaut.

b.   Konjungsi yang digunakan untuk memperkuat argumentasi
     Konjungsi ini berbentuk konjungsi penegasan seperti bahkan, juga, selain itu, lagi pula, sebagai contoh, misalnya, padahal, justru, dll.Contoh dalam kalimat :
1)   Pemerintah DKI menduga jika sampah bungkus kabel yang menyumbat drainase di ring 1 adalah ulah oknum. Bahkan, Gubernur DKI-Ahok-menjelaskan kepada wartawan apabila hal ini adalah sebuah sabotase dan black campange jelang pilgub DKI.
2) Padahal banjir di Brebes Selatan sudah diantisipasi oleh pemerintah setempat misalnya dengan membangun grenjeng dan penahan dari karung berisi pasir di sepanjang sungai Keruh.

c.    Konjungsi yang digunakan untuk menyatakan hubungan sebab-akibat
     Konjungsi ini berbentuk konjungsi kausalitas seperti sebab, akibat, karena, maka, oleh sebab itu, karena itu, sehingga. Contoh dalam kalimat :
1) Akibat luapan air sungai Krukut, jalan desa yang menghubungkan dua dusun terputus.
2)   Indriyani menjadi juara olimpiade saint sehingga ia mendapatkan beasiswa S1.

d.   Konjungsi yang digunakan untuk menyatakan harapan
     Konjungsi ini berupa kata agar, supaya, biar, dll. Contoh dalam kalimat :
1)   Radit berjuang sekuat tenaga supaya dia masuk dalam 10 besar peringkat kelas.
2)   Agar warga lebih nyaman saat musin hujan, pemerintah desa meminta warganya membersihkan selokan di lingkungan masing-masing.

3.    Verba (Kata Kerja)
       Beberapa verba yang sering dijumpai dalam teks editorial/opini/tajuk rencana antara lain :
a.    Verba Material
     Adalah verba yang menunjukkan perbuatan fisik atau peristiwa. Contoh verba yang menunjukkan perbuatan fisik seperti mengunyah, membaca, mencabut, dll. Contoh dalam kalimat :
1)   Kita harus mengunyah makanan yang kita konsumsi
2)   Petani mencabuti rumput yang menjadi gulma tanaman padi.
Contoh verba yang menunjukkan peristiwa seperti pertempuran, keberhasilan, tabrakan, dll. Contoh dalam kalimat :
1)   Ini merupakan pertempuran sengit yang kesekian kali diikutinya.
2)   Ia pun lolos dari tabrakan maut di tol Jagorawi.

b.   Verba Relasional
      Adalah verba yang menunjukkan suatu hubungan antara subjek dan pelengkap. Struktur kalimat dari verba relasional : subjek+verba relasional+pelengkap. Verba relasional dapat digolongkan menjadi :
1)   Verba Relasional Identifikatif
         Merupakan verba relasional yang menunjukkan intensitas (yang mengandung pengertian A adalah B). Contoh verba relasional identifikatif ditandai dengan kata merupakan, adalah, yaitu, dll. Contoh dalam kalimat :
a)    Ayah Anisa merupakan tulang punggung keluarga satu-satunya.
b)   Kakak adalah anak tertua dalam silsilah keluarga.
       Ciri dari verba relasional identifikatif adalah terdapat partisipan (token) atau teridentifikasi (indentified) dan nilai (value) atau pengidentifikasi (identifieer). Contoh dalam kalimat :
a) Ayah Anisa (token/partisipan) merupakan (verba relasional identifikatif) tulang punggung keluarga satu-satunya (value/nilai).
b)  Kakak (token/partisipan) adalah (verba relasional identifikatif) anak tertua dalam silsilah keluarga (value/nilai).

2)   Verba Relasional Atributif
         Verba relasional atributif dapat dibedakan menjadi 2 macam yaitu :
a)    Merupakan verba relasional yang menunjukkan sirkumstansi (yang bermakna A pada/di B) contohnya kata sekelas, terlibat, dll. Contoh dalam kalimat :
1.   Rita sekelas dengan Ardi pada tingkat XI tahun pelajaran ini.
2.   Bu Dias terlibat bersma siswa KIR dalam penemuan bahan bakar alternatif.
b)Merupakan verba relasional yang menunjukkan milik (yang berarti A mempunyai B) contohnya kata mengandung, terkontaminasi, dll. Contoh dalam kalimat :
1.   Es yang diproduksi pabrik itu mengandung bakteri ecoli.
2.   Tanah di desanya terkontaminasi residu bahan kimia dari pabrik tekstil.
     Ciri dari verba relasional atributif adalah terdapat partisipan penyandang (carrier) dan sandangan (attribute). Contoh dalam kalimat :
a) Rita (carrier/penyandang) sekelas (verba relasional atributif) dengan Ardi pada tingkat XI tahun pelajaran ini (attribute/sandangan).
b)   Tanah di desanya (carrier/penyandang)  terkontaminasi (verba relasional atributif) residu bahan kimia dari pabrik tekstil (attribute/sandangan).

c.    Verba Mental
     Adalah verba yang pada umumnya digunakan untuk mengajukan klaim. Verba mental menjelaskan tentang 3 hal yaitu :
1)   Persepsi (tanggapan/penerimaan)
       Adalah tindakan menyusun, mengenali, dan menafsirkan informasi sensoris guna memberikan gambaran dan pemahaman tentang lingkungan. Persepsi meliputi semua sinyal dalam sistem saraf, yang merupakan hasil dari stimulasi fisik atau kimia dari organ pengindra. Contoh kata yang menunjukkan verba mental yang menerangkan persepsi seperti melihat, mendengar, kedinginan, merasakan, dll. Contoh dalam kalimat :
a)    Kalian harus melihat rekaman peristiwa membahagiakan ini
b) Seluruh peserta perkemahan kedinginan di tengah kabut yang menyelimuti perkemahan.

2)   Afeksi (perasaan)
       Adalah tindakan yang menyangkut sikap dan nilai. Ranah afeksi mencakup watak perilaku seperti perasaan, minat, sikap, emosi, dan nilai. Dalam hal ini dapat diwujudkan berupa perasaan atau emosi seperti khawatir, senang, kecewa. Contoh dalam kalimat :
a)    Raditya sangat senang dengan kehadiran orangtuanya di acara wisuda.
b)   Setelah satu jam berlalu tidak ada kabar, ibunya mulai khawatir.

Wujud afeksi dapat berupa minat seperti tertarik,antusias,dll. Contoh dalam kalimat :
a)    Nita sangat antusias melihat konser grup band Slank di alun-alun kota.
b)   Aku tertarik mengikuti tes SMPTN tahun ini.

Bentuk afeksi bisa berupa sikap seperti  tegas, berwibawa, dll. Contoh dalam kalimat :
a)    Ia terlihat berwibawa dalam balutan seragam tentara.
b)   Ayah tegas melarang adik ikut piknik ke pantai.

Bentuk afeksi pun dapat berupa nilai seperti baik, buruk, dll. Contoh dalam kalimat :
a) Perangainya sangat baik kepada orangtua sehingga banyak orang yang simpati kepadanya.
b)Kebiasan buruknya baru disadarinya setelah kejadian tersebut diketahui orangtuanya.

3)   Kognisi (pikiran/logika)
    Adalah segala hal yang berkaitan dengan kemampuan pikiran, logika, kecerdasan, intelegensi. Jadi, segala upaya yang menyangkut aktivitas otak termasuk dalam ranah kognisi. Hal yang berkaitan dengan kognisi dapat ditandai dengan kata mengerti, memahami, berpikir, dll.  Contoh dalam kalimat :
a)    Para guru sudah memahami kesiapan peserta didiknya jelang UN.
b)  Setiap peserta didik diminta berpikir  keras untuk menyelesaikan latihan soal UN.
Ciri verba mental di dalamnya terdapat partisipan pengindera (senser) dan fenomena. Contoh dalam kalimat :
1)  Saya (partisipan pengindera/senser) merasa (verba mental) apa yang dilakukannya sudah benar (fenomena).
2)   Para guru (partisipan pengindera/senser) sudah memahami (verba mental)  kesiapan peserta didiknya jelang UN (fenomena).

4.    Modalitas
       Adalah cara seseorang dalam menyatakan sikap dalam sebuah komunikasi. Tujuan modalitas dalam teks editorial.opini adalah untuk membangun opini yang mengarah kepada saran atau anjuran. Beberapa bentuk modalitas antara lain :
a.    Modalitas untuk menyatakan kepastian
Ditandai dengan penggunaan kata seperti memang, niscaya, pasti, sungguh, tentu, tidak, bukan, bukannya, dll. Contoh dalam kalimat :
1)   Peristiwa Gerhana Matahari Total (GMT)  memang sudah diprediksi oleh BMKG.
2) Kejadian fenomenal itu tentu tidak akan dilewatkan oleh para netizen untuk diabadikan.
b.   Modalitas untuk menyatakan pengakuan
Ditandai dengan penggunaan kata seperti iya, memang benar, betul, sebenarnya, malahan, dll. Contoh dalam kalimat :
1)   Iya, betul, sayalah yang memberikan hadiah itu” terang Dita.
2)   Kebijakan pemerintah sebenarnya ditujukan demi kebaikan rakyat.
c.    Modalitas untuk menyatakan kesangsian
Ditandai dengan penggunaan kata seperti agaknya, sepertinya, entah, mungkin, rasanya, rupanya,kira-kira, dll. Contoh dalam kalimat :
1)   Saat dia mengambil keputusan itu agaknya dia masih tidak percaya diri.
2)   Entah terpengaruh lingkungan, entah bakat terpendam yang membuatnya menjadi kreatif.
d.   Modalitas untuk menyatakan keinginan
Ditandai dengan penggunaan kata seperti semoga, mudah-mudahan, berharap, insya allah, dll. Contoh dalam kalimat :
1) Mari berharap agar produk Indonesia mampu bersaing dengan produk negara ASEAN lainnya.
2)   Kita selalu berdoa semoga keberhasilan menghampiri pembalap F1 dari Indonesia.
e.    Modalitas untuk menyatakan ajakan
Ditandai dengan penggunaan kata seperti hendaknya, mari, ayo, dll. Contoh dalam kalimat :
1)   Ayo kita sukseskan Pekan Imunisasi Nasional (PIN) pada 8 s.d. 15 Maret 2016.
2)   Seluruh pelajar Indonesia mari tingkatkan prestasi.
f.     Modalitas untuk menyatakan larangan
Ditandai dengan penggunaan kata seperti  jangan, tidak diperkenankan, dilarang, dll. Contoh dalam kalimat :
1)   Kepada penumpang KRL dilarang naik di atas gerbong KRL, berbahaya!
2)   Jangan lupa belajar yang giat dan tekun untuk menghadapi Ujian Nasional (UN).
g.    Modalitas untuk menyatakan keheranan
Ditandai dengan penggunaan kata seperti  mustahil, tidak masuk akal, tidak mungkin, dll. Contoh dalam kalimat :
1)   Kejadian tadi mustahil bisa analisis tanpa bantuan mikroskop.
2)   Tidak mungkin seseorang mampu berjalan dengan bertelanjang kaki di atas bara.

5.    Reduplikasi
       Adalah proses pengulangan kata atau unsur kata. Bentuk ulang (reduplikasi) merupakan sebuah bentuk gramatikal yang berwujud penggandaan sebagian atau seluruh bentuk dasar sebuah kata. Dalam Bahasa Indonesia terdapat bermacam-macam bentuk ulang. Pengulangan dapat dilakukan pada :
a.    Pengulangan Kata Dasar (Kata Ulang Utuh)
Merupakan penggulangan bentuk dasar, contoh :
1)   meja (kata dasar) mengalami proses reduplikasi menjadi meja-meja.
2)   lari (kata dasar) mengalami proses reduplikasi menjadi lari-lari.
b.   Pengulangan Kata Berimbuhan
Merupakan pengulangan kata dasar dengan menambah imbuhan (afiks) baik pada kata pertama atau kedua dari kata yang diulang, contoh :
1) Rumah (kata dasar) mengalami proses reduplikasi (sufiks) -an menjadi rumah-rumahan.
2)   Senang (kata dasar) mengalami proses reduplikasi (prefiks) ber- menjadi bersenang-senang.
c.    Pengulangan Semu
Reduplikasi pada kata ulang semu terjadi pada kata dasar yang sebenarnya bukan hasil reduplikasi itu sendiri. Perbedaan dengan kata ulang utuh adalah kata yang direduplikasi tidak akan memiliki makna jika dipisah. Contoh :
1)   Ubur-ubur (kata dasar)

2)   Alun-alun (kata dasar), dll.

2 komentar:

  1. THANKS .... MATERI INI SANGATLAH MEMBANTU SEMOGA BERMANFAAT

    BalasHapus
  2. THANKS .... MATERI INI SANGATLAH MEMBANTU SEMOGA BERMANFAAT

    BalasHapus