Jumat, 09 April 2010

ANAK KECIL DAN KEJUJURAN


Ketika seorang anak tengah duduk asik menonton acara televisi bersama ayah, ibu, dan keluarga Rata Penuhbesarnya tiba-tiba dia bertanya dengan lugunya kepada ayahnya “Pak, maling itu apa?” Pertanyaan itu terlontar ketika seorang host sebuah acara melontarkan kata maling di sela-sela retorikanya di suatu acara humor yang di tayangkan sebuah stasiun televisi swasta nasional.
“Maling itu ya mencuri, mengambil barang orang lain tanpa ijin, tidak bilang-bilang, tidak pamit dulu” ayahnya menjawab. Sebagai sosok ayah yang baik, maka ayahnya pun menyisipkan pesan di sela-sela penjelasannya itu “Adek jangan meniru perbuatan yang tidak baik seperti maling itu ya?”.
”Tapi kok waktu itu Ayah mengambil kelapa yang jatuh di pekarangan Mbah Darmo? Berarti kelapa itu kan milik Mbah Darmo tapi Ayah mengambilnya tanpa meminta ijin dulu sama Mbah Darmo, Ayah maling dong?” celetuk anaknya dengan polos.
Seperti disambar geledek, ayahnya merasa malu sekali ketika anaknya dengan polos dan lugu mengatakan hal itu di depan keluarga besarnya. Bibirnya beku, lidahnya seketika menjadi kelu, tak ada sepatah kata pun mampu keluar dari mulut sang ayah, yang terlahir hanya diam dan suasana lengang di ruang keluarga itu.
Untungnya waktu itu sang istri menjadi pahlawan penyelamat muka sang suami yang memerah memendam malu dan marah dengan mengatakan “Lah, ibu sudah bilang dulu sama Mbah Darmo kalau nanti sore ayah mau mengambil kelapa-kelapa tua yang jatuh di pekarangannya Mbah Darmo” kata ibu itu menerangkan kepada anaknya.
Seusai menonton acara televisi itu sang ayah langsung mengajak anaknya ke luar rumah dan menjewer kuping anak yang dianggapnya bermulut ember itu. Anaknya pun menangis sejadi-jadinya, sambil tersengal-sengal ditengah tangisnya anak itu bertanya “Apa salah adek, yah?”
“Jujur!! Itu kesalahanmu.”
Dari cerita tersebut dapat kita ketahui adanya degradasi nilai moral, hilangnya kepekaan, lunturnya panji-panji kejujuran, dan nurani kemanusiaan dari sosok ayah yang telah dianggap dewasa (baik pikiran, perbuatan, dan ucapan) dan di sisi lain, sosok anak yang dengan polos, lugu, tanpa tendensi, tak ada pretensi yang macam-macam, jujur, dan spontan mampu mengutarakan pikiran dan perasaannya melalui tuturannya.
Lihatlah fenomena yang nyata seperti itu telah tumbuh subur pada lingkungan di sekitar kita saat ini. Ketika seseorang telah ber-usia dan dianggap telah “dewasa” (baik pikiran, perbuatan, dan ucapan) bahkan telah dianggap bijaksana, mereka seperti memendam dalam-dalam dan menyembunyikan jauh-jauh di relung hati segala sesuatu yang seharusnya diutarakan. Tentang apa saja.
Orang “dewasa” akhir-akhir ini seringkali memilih berdiam diri, mengunci pintu hati dan nurani rapat-rapat ketika kedzaliman, ketidakadilan, dan kemunafikan sedang berjalan, bahkan menari-nari di depannya. Mereka enggan, sungkan, bahkan cenderung malas untuk sekedar mengingatkan, dan menegur ketika menyaksikan kedzaliman, ketidakadilan, dan kemunafikan itu berlangsung di depannya. Mereka tahu tapi tidak mau tahu dan tak ingin memberitahu (kebenaran). Sebagaimana Firman Alloh SWT : Mereka menjadikan sumpah mereka sebagai perisai, lalu mereka menghalangi orang lain dari jalan Alloh SWT, sungguh amat buruk apa yang mereka lakukan. Yang demikian itu karena merekatelah beriman, kemudian menjadi kafir kembali lalu hati mereka dikunci (tertutup dari menerima kebenaran), maka sesungguhnya mereka tidak memahami. (Q.S. Al Munafiquun : 2-3)
Dengan berdiam diri, kebanyakan orang merasa telah bersikap bijaksana. Padahal berdiam diri ketika kedzaliman, ketidakadilan, dan kemunafikan merajalela di depannya merupakan perbuatan yang tidak dianjurkan sama sekali. Alloh SWT berfirman : Berjuanglah menghadapi orang kafir dan orang munafik serta bersikap keraslah terhadap mereka. Tempat mereka neraka jahanam, tempat tinggal yang amat buruk. (Q.S. At Taubah :73)
Pada kenyataannya acapkali seseorang lebih merasa nyaman dengan berdiam diri terhadap kedzaliman, ketidakadilan, dan kemunafikan sebab hal itu menjadi pilihan yang secara logis akan menjauhkan seseorang dari cibiran, omongan, dan tuduhan orang lain terhadap dirinya yang nanti akan dicap sebagai orang yang sok pahlawan, sok suci, sok, bersih, sok cari perhatian, sok tahu, penjilat, usil, reseh. Apabila perasaan aman dan “nyaman” itu dibiarkan hidup yang akan terjadi adalah kejahatan, kedzaliman, ketidakadilan, dan kemunafikan akan semakin menguasai hati dan nurani kemanusiaan yang hakikinya menolak jika seseorang itu sendiri yang berada pada posisi sebagai yang terdzalimi, yang tidak diperlakukan dan tidak mendapatkan keadilan. Namun, ketika kedzaliman, ketidakadilan, dan kemunafikan berpihak pada orang lain, orang itu malah bertindak masa bodoh, acuh tak acuh, tidak tahu dan tidak mau tahu.
Mereka beranggapan, itu kan hidup mereka bukan hidup saya, itu kan urusan mereka bukan urusan saya, itu kan masalah mereka bukan masalah saya. Biarlah hidup berlangsung seperti apa adanya, berjalan seperti air mengalir, tanpa saya harus bersusah payah terlibat upaya reformasi keadaan biarkan hidup dan kehidupan ini menjadi berjalan sebagaimana mestinya. Saya bisa menikmati hidup, saya bisa bahagia dan tertawa karena saya tidak sengsara seperti mereka. Hidup ini sudah susah jangan dibuat tambah susah dengan mengambil resiko mencemaskan urusan hidup yang menimpa orang lain. Kalau begitu kan lebih enak toh? Mantep Toh? ha-ha-ha.
Janganlah berprinsip senang melihat orang lain susah, dan susah melihat orang lain senang. Jangan menjadi independent karena anda telah mampu menghandle semua permasalahan sendiri sehingga anda menjadi acuh dan tidak peduli terhadap keadaan di sekitar anda. jangan anda merasa nyaman, aman, dan puas dengan kehidupan yang anda ciptakan di dunia anda sendiri. Jangan merasa dengan konsep diri yang telah terbentuk kuat justru (memungkinkan) anda merasa terusik dengan keberadaan masalah di sekitar anda. Nilai pribadi yang anda miliki seharusnya mampu menjadi motifasi yang baik bagi terbentuknya iklim kondusif bagi terciptanya peningkatan kualitas iman dan takwa anda.
Belajarlah dari anak kecil yang berani berkata jujur mengungkapkan perasaan dan pikirannya tentang kebenaran. Jangan malah menganggap jika ada orang dewasa yang berkata jujur kemudian dia terdzalimi karena disalahkan atas kejujurannya, lalu dipojokkan, dijauhi, dan ia menangis (bersedih) karena mengatakan sebuah fakta kebenaran dan membela keadilan dikatakan sebagai orang yang cengeng seperti anak kecil, dijuluki orang lemah yang mudah menyerah. Namun, anda sendiri merasa nyaman berada dalam posisi diam tanpa melakukan apa-apa sedangkan orang tersebut berani berlaku jujur, maka sesungguhnya anda sama saja dengan pengecut dan pecundang. Apabila demikian, maka anda sesungguhnya lebih rendah dari orang itu.
Kejujuran memang terkadang terasa sangat menyakitkan, sekalipun telah digunakan alat yang tepat dan cara paling akurat untuk menyampaikannya. Pertanyaan saya sekarang adalah sudahkah anda jujur? Beranikah anda untuk jujur? Jujur terhadap diri sendiri dan jujur terhadap keadaan lingkungan di sekitar anda yang semakin menumbuhkembangkan kedzaliman, ketidakadilan, dan kemunafikan. Jawabannya ada pada hati anda, tanyakanlah pertanyaan ini kepada hati anda. Sekarang!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar