Rabu, 13 Januari 2010

KEUTAMAAN ORANG-ORANG FAKIR


Nabi SAW bersabda : ”Sebaik-baiknya umat ialah yang fakir diantara mereka dan yang paling lemah diantara mereka adalah yang paling cepat masuk surga.”Diriwayatkan bahwa sesungguhnya dianatara para nabi yang terakhir masuk ke dalam surga adalah Nabi Sulaiaman AS karena kedudukannya sebagai seorang raja yang kaya raya. Sedangkan diantara sahabat yang paling terakhir masuk ke surga adalah Abdurrahman bin Auf karena beliau adalah seorang sahabat yang kaya raya sehingga harus mempertanggungjawabkan semua kekayaannya di hadapan Alloh Azzawajalla.
Dikisahkan oleh Nabi SAW : ”Ketika Aku masuk surga, Aku mendengar derap kaki di depanku lalu Aku melihatnya dan Aku mendapati diantara mereka adalah Bilal dan orang-orang fakir dari umatku. Aku melihat mereka menempati tempat di atas surga kemudian Aku pun melihat ke bawah dan aku menyaksikan ternyata di surga paling bawah itu aku melihat orang-orang kaya dan para wanita, tetapi jumlah mereka sangat sedikit, maka Aku bertanya kepada Alloh SWT : “Wahai Tuhanku, bagaimana kondisinya seperti itu? Mengapa bisa begitu?” lalu Alloh SWT berfirman : “Para wanita dipersulit dan sedikit yang berada disurga dikarenakan mereka selalu disibukkan dengan oleh dua hal yaitu emas dan sutera (kekayaan dan segala hal keduniawian). Sedangkan orang-orang kaya, mereka dipersulit dan disibukkan oleh lamanya hisab harta bendanya”. Dari Umar r.a. diriwayatkan Rosulallah bersabda : “Orang-orang fakir akan masuk surga terlebih dahulu sebelum orang-orang kaya jaraknya terpaut dalam jangka waktu selama lima ratus tahun, seorang laki-laki diantara mereka ada yang masuk dalam kelompok itu yang banyak dan berdesak-desakan namun kemudian ia dipegang tangnnya, diangkat, dan dikeluarkan.”
Dikisahkan bahwa sahabat Abdurrahman bin Auf datang tergesa-gesa dan menangis kepada Rosulallah SAW ketika masuk ke surga. Nabi bertanya : “Para sahabatku telah datang mengunjungiku, apa yang membuat engkau datang terlambat kepadaku?” Ia menjawab : “Ya Rasulallah, kiranya aku tidak akan samapai bertemu denganmu hingga kudapati rambutku beruban dan aku tidak bisa melihat Anda” Nabi bertanya : “Kenapa?”, Abdurrahman bin Auf menjawab : “Aku menunggu penghisaban (perhitungan) atas hartaku”.
Dari kisah tersebut diketahui bahwa Abdurrahman bin Auf yang notabene adalah salah satu dari sahabat nabi yang tergolong sepuluh orang istimewa yang dijamin oleh Rasulallah SAW akan masuk sebagai penghuni surga. Rosulallah bersabda : “Hadiah paling berharga bagi kaumku yang beriman di dunia ini adalah kefakiran”
Aisyah r.a. membagi-bagikan seratus ribu dirham pemberian Mu’awwiyah dan Ibnu Amir serta yang lainnya dalam sehari kepada orang-orang fakir padahal baju Aisyah r.a. sendiri terdapat tambalan-tambalan. Dikishkan pula ketika Aisyah sedang berpuasa , seorang Jariyah berkata kepadanya : ”Seandainya aku membeli satu dirham daging kepadamu untuk berbuka, apakah anda mau?” Aisyah menjawab : “Seandainya aku mau, maka aku akan melakukannya. Namun, Rasulallah SAW berwasiat kepadaku : ”Jika Engkau ingin bertemu dan bersamaku (di surga), maka hiduplah sebagaimana kehidupan orang-orang fakir dan takutlah engkau duduk bersama-sama di dalam majlis orang-orang kaya dan janganlah engkau melepas pakaianmu sekalipun pakaian itu bertambalan”.
Namun, perlu diingat dan digaris bawahi bahwa orang fakir dan sifat kefakiran yang akan mendapatkan balasan surga berlaku bagi orang-orang yang qona’ah yaitu mereka yang ridho dengan pemberian Alloh SWT. Nabi SAW bersabda : “Tidak ada seorangpun yang lebih mulia daripada orang fakir, jika ia adalah orang yang ridho”. Jadi, sifat kefakiran yang penuh dengan keridhoan kepada Alloh SWT lah yang akan mendapatkan pahala atas kefakirannya. Sementara orang yang tamak dan rakus, maka ia tidak akan mendapatkan pahala atas kefakirannya. NAbi SAW bersabda : “Wahai orang-orang fakir persembahkanlah keridhoan kepada Alloh SWT dari dalam hati anda, maka engkau akan mendapatkan keburuntungan pahala atas kefakiran anda. Jika tidak, maka anda tidak akan mendapatkannya. Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang diberi petunjuk untuk memeluk Islam karena hidupnya akan terjaga dan merasa puas dengan apa yang diberikan Alloh SWT kepadanya.”
Oleh karena itu wahai saudaraku, ketika kita dilebihkan oleh Alloh SWT dengan limpahan rizki (bukan sekedar materi, harta kekayaan semata; ilmu, anak, istri, kesehatan, umur yang panjang, dan lain-lainnya), maka kelak itu semua akan dipertanyakan dihadapan pengadilannya Alloh Azzawajalla. Sesungguhnya sangat celaka manusia jika tidak berbuat kemanfaatan dari hartanya yang selalu bertambah, sementara umurnya terus berkurang. Sedikit harta yang dimiliki itu lebih baik dari pada berlimpahan harta namun malah membuat manusia durhaka.
Saudaraku, bertadharru’lah kepada Alloh SWT jangan bertadharru untuk “menjilat” kepada manusia. Merasa puaslah dengan apa yang engkau miliki yang merupakan pemberian Alloh SWT sebagai implementasi kasih sayang Alloh SWT kepada hamba-hambanya. Saudaraku, esensinya Alloh SWT maha tahu apa yang sesungguhnya engkau butuhkan dari pada apa yang engkau harapkan.
Secara fundamental, kemuliaan dunia itu berada pada pemutusan keinginan terhadap apa yang berada di tangan orang lain. Jadilah engkau orang kaya (tidak membutuhkan) terhadap apa yang dimiliki orang lain. Ketahuilah bahwa orang kaya itu bukan dinilai dari banyaknya harta, kekayaan, atau jabatan yang dimilikinya melainkan orang kaya itu lebih dinilai dari kekayaan yang dimiliki di dalam hatinya, yaitu orang yang selalu merasa cukup (dengan apa yang telah dimilikinya dan tidak menginginkan apa yang dimiliki orang lain untuk ia miliki juga).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar