Jumat, 17 Juni 2011

GURU DAN BERBAGAI PERANNYA

Guru memiliki berbagai tugas yang harus diemban, bukan hanya sekedar dalam bidang pengajaran tetapi seorang guru juga memiliki tugas yang meliputi bidang profesi, bidang kemanusiaan dan bidang kemasyarakatan. Tugas guru sebagai profesi meliputi mendidik, mengajar dan melatih. Mendidik berarti meneruskan dan mengembangkan nilai-nilai hidup dan kehidupan. Mengajar berarti meneruskan dan mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi. Sedangkan melatih berarti mengembangkan keterampilan-keterampilan pada siswa.

Peran guru tidaklah hanya berhenti sebagai pengajar yang melakukan transfer ilmu saja, karena tanpa adanya peran sebagai motivator maka sia-sialah peran guru sebagai sosok yang melakukan transfer ilmu. Guru sebagai motivator adalah guru yang mampu membangkitkan motif atau keinginan seseorang untuk melakukan suatu tindakan tertentu. Berdasarkan kedudukannya sebagai seorang guru tentu memiliki sasaran yang pasti yaitu murid-murid yang dihadapinya sehari-hari. Bangkitnya motivasi murid-muridnya untuk meraih suatu prestasi merupakan bagian dari keberhasilannya sebagai seorang motivator dan merupakan suatu kebanggaan melihat murid yang dibimbingnya memiliki suatu prestasi yang optimal. Untuk menjadi seorang motivator bagi siswa-siswinya, seorang guru juga harus dapat memberi motivasi bagi dirinya sendiri yang otomatis menjadi motivator bagi dirinya sendiri.


Guru adalah posisi yang strategis bagi pemberdayaan dan pembelajaran suatu bangsa yang tidak mungkin digantikan oleh unsur manapun dalam kehidupan sebuah bangsa sejak dahulu. Semakin signifikannya keberadaan guru melaksanakan peran dan tugasnya semakin terjamin terciptanya kehandalan dan terbinanya kesiapan seseorang. Dengan kata lain potret manusia yang akan datang tercermin dari potret guru di masa sekarang dan gerak maju dinamika kehidupan sangat bergantung dari “citra” guru di tengah-tengah masyarakat.


Guru adalah manusia biasa dan sebagai manusia biasa dalam melaksanakan peran sebagai pendidik dan sebagai pemimpin bagi anak didiknya dalam pelaksanaan PBM (Proses Belajar Mengajar) mereka memiliki gaya tersendiri. dari hasil observasi yang saya temukan, ada tiga tipe kategori dari gaya guru sebagai pendidik yaitu; gaya otoriter, gaya masa bodoh dan gaya demokrasi.


Yang pertama, kita pasti pernah berhadapan dengan guru dengan gaya atau karakter otoriter ini, dimana memperlihatkan kekuasaan mutlak atas anak didiknya selama pelaksanaan PBM (proses Belajar Mengajar) dan karakter otoriter ini juga dapat mendatangkan mimpi buruk bagi setiap anak didik. Senyuman manis dan kata- kata yang lembut merupakan barang yang langka yang diperoleh dari guru berkarakter otoriter ini. Guru killer adalah istilah lain yang diberikan oleh anak didik untuk guru berkarakter otoriter tersebut.


Kedua, guru dengan karakter masa bodoh. Karakter seperti ini cendrung menurunkan kualitas budaya sekolah. Suasana kelas akan menjadi amburadul, apalagi bila anak didik dikelas cukup banyak. Peranan guru yang berkarakter “masa bodoh” ini bisa agak bagus apa bila ia mengelola kelas dengan anak didik sedikit. Guru dengan karakter demikian perlu bersikap lebih tegas dan punya prinsip atas nilai kebenaran. Menambah kualitas ilmu dan wawasan dan kemudian bersikap lebih tegas akan mampu mengatasi karakter masa bodoh tersebut.


Terakhir, Guru yang berkarakter demokrasi adalah guru yang memiliki hati nurani yang tajam. Guru dengan karakter beginilah yang mampu menghadirkan hatinya dalam emosi anak didik selama pembelajaran. Guru berkarakter demokrasi dan memiliki wawasan yang tinggi tentu akan mampu memenangkan hati anak didik atau memotivasi mereka dalam pembelajaran. Guru yang mampu menghadirkan hatinya pada hati anak didik disebut sebagai guru yang baik dan mereka akan dikenang oleh anak didik sepanjang hayatnya. Yang lebih banyak dikenang adalah guru yang baik.


Setiap anak didik telah banyak mengenal banyak guru dalam hidupnya, ada guru yang pintar dan ada guru yang baik. Sekali lagi bahwa guru yang berkesan bagi mereka adalah guru yang menghadirkan hati atau emosinya saat melaksanakan PBM. Guru yang cerdas atau pintar namun memiliki pribadi yang kaku, mungkin juga kasar, kurang bisa bersimpati, pasti tidak banyak memberi pengaruh kepada anak didik.


Guru yang mampu memberi pengaruh untuk masa depan anak didik lewat kata- kata atau bahasanya adalah guru yang memiliki pribadi yang hangat dan juga cerdas. Untuk itu adalah sangat ideal bila setiap guru mampu meningkatkan kualitas pribadinya menjadi guru yang cerdas, yaitu cerdas intelektual, cerdas emosi dan juga cerdas spiritualnya. Maka guru- guru yang beginilah yang patut diberi hadiah dengan lagu “guru pahlawan tanpa tanda jasa”.


Guru sukses bukan sekadar profesional namun kesejahteraannya memprihatinkan. Guru sukses juga bukan guru sejahtera namun profesionalismenya rendah. Begitu pula, guru sukses bukanlah guru yang profesional dengan kesejahteraan tinggi namun martabatnya rendah. Ketiga kata kunci di atas harus menjadi satu kesatuan yang melekat pada sosok guru sukses.


Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia , sukses (a) berarti: berhasil; beruntung. Merujuk pada pengertian sukses ini, saya memberikan definisi guru sukses sebagai guru yang berhasil sekaligus beruntung. Ya, definisi sukses adalah berhasil dan beruntung.


Karena guru adalah sebuah profesi, maka keberhasilan guru sukses haruslah sesuai profesinya itu, profesi guru, bukan profesi bidang lain! Misalnya: guru nyambi dagang (dan sukses dari dagangnya) bukanlah guru suskses, melainkan pedagang sukses. Oleh Sebab itu, guru sukses haruslah guru yang profesional, yakni guru yang berhasil (sukses) menjalankan profesinya. Hasil pelaksanaan tugas guru sukses harus mencapai target mutu di atas rata-rata, Sebut saja, hasil kerja guru sukses, misalnya: muridnya sukses mencapai tujuan pembelajaran di atas rata-rata standar minimal atau rata-rata murid yang diajar oleh guru lain.

Jumat, 28 Januari 2011

SYARAT-SYARAT KALIMAT YANG BAIK dan KOMUNIKATIF

A. Syarat-Syarat Kalimat yang Baik dan
Komunikatif

Komunikasi adalah proses penyampaian pesan dari pembicara kepada pendengar melalui sarana bahasa secara lisan dan tulisan. Komunikator atau pembicara menyampaikan informasi lewat kalimat-kalimat yang dianggap dapat menjelaskan maksud yang ingin diungkapkan. Kalimat-kalimat tersebut harus dapat dipahami oleh pendengar agar nantinya mendapatkan respons berupa jawaban atau tanggapan yang sesuai. Untuk mencapai komunikasi yang baik dan lancar, kalimat yang disampaikan harus efektif dan komunikatif.

Kalimat yang baik harus memenuhi persyaratan sebagai berikut.
(1) Tidak menyimpang dari kaidah bahasa
(2) Logis atau dapat diterima nalar
(3) Jelas dan dapat menyampaikan maksud atau pesan dengan tepat

Kalimat yang tidak menyimpang dari kaidah bahasa maksudnya adalah kalimat yang cermat baik dari segi pemilihan kata dan bentukan kata maupun susunan kalimatnya memenuhi aturan sintaksis yang benar. Sebaliknya, kalimat yang menyimpang dari kaidah bahasa, susunan kalimatnya tidak sesuai dengan aturan sintaksis yang benar.
Contoh:
1.Pada jadwal di atas menunjukkan kereta eksekutif ArgoLawu berangkat pada
pukul 17.00 dari Gambir.

2.Bagi yang menitip sepeda motor harus dikunci.
3.Yang punya HP harus dimatikan.
Kalimat di atas meskipun dapat dipahami tapi terasa janggal didengar. Pada kalimat pertama terasa ada yang kurang secara sintaksis. Jabatan subjeknya tidak ada karena penggunaan kata tugas “pada”. Jika kata “pada” dihilangkan, akan terasa lebih tepat. Penggunaan kata tugas “bagi” pada kalimat kedua juga tidak pada tempatnya dan tidak perlu sebab yang dimaksud sesungguhnya adalah sepeda motor yang dititipkan bukan orangnya. Kalimat kedua mengandung pengertian bahwa yang dititipkan adalah pemilik sepeda motor atau orangnya. Demikian pula pada kalimat ketiga, yang dimatikan adalah HP bukan pemilik HP. Perbaikan kalimat di atas ialah:
1.Jadwal di atas menunjukkan kereta api eksekutif Argo Lawu berangkat pada
pukul 17.00 dari Gambir.

2.Sepeda motor yang dititipkan harus dikunci.
3.Yang memiliki HP agar mematikan HP-nya.

Kalimat juga harus logis atau dapat dinalar oleh akal. Meskipun secara gramatikal sesuai dengan kaidah namun jika tidak logis, kalimat tersebut tak akan dapat dipahami dengan baik bila disampaikan kepada orang lain.
Contoh:
1.Anak-anak itu sedang asyik makan pohonan.
2.Ini adalah daerah bebas parkir.
3.Di sini tempat pendaftaran buta huruf.
Ketiga kalimat di atas salah nalar. Kalimat pertama jelas tidak masuk akal. Secara akal sehat, tidak ada manusia yang memakan pohonan sebab pengertian pohonan adalah keseluruhan pohon dari akar dan batang hingga daun. Kata pohonan juga dapat dimaknai banyak pohon. Meskipun secara struktur kalimatnya benar karena ada subjek, predikat, dan objek, tapi secara nalar tidak masuk akal. Kalimat kedua dan ketiga juga tidak tepat. Pengertian bebas parkir harusnya sama dengan bebas narkoba, bebas becak, dan bebas bea yang artinya daerah tersebut tidak ada lagi narkoba, becak, atau pungutan. Tapi arti bebas parkir mengapa jadi boleh parkir tanpa bayar. Kalimat ketiga maksudnya bagi yang buta huruf agar mendaftar di tempat ini untuk mendapatkan pengajaran. Pengertian pada kalimat di atas adalah orang mendaftarkan diri agar jadi buta huruf.
Perbaikan kalimat-kalimat di atas, yaitu:

1.Anak-anak itu sedang asyik mengumpulkan pohonan.
2.Ini adalah daerah boleh parkir bebas atau parkir gratis.
3.Di sini tempat pendaftaran kursus paket A bagi yang buta huruf.

Kalimat yang baik juga harus mengandung pengertian yang jelas, tidak membingungkan serta tidak menimbulkan penafsiran ganda atau ambigu. Tidak sedikit pula kita temui kalimat-kalimat yang diucapkan oleh penutur bahasa mengandung pengertian ganda. Kalimat ini selain dapat membingungkan juga menimbulkan respons atau tanggapan yang tak sesuai karena tidak tersampaikannya pesan secara benar.
Contoh:
1.Saya melihat kelakuan anak itu bingung.
2.Mereka mengantar iring-iringan jenazah ke kuburan.
3.Semua mahasiswa fakultas yang baru agar berkumpul di ruang senat.
Ketiga kalimat di atas bermakna ganda. Kalimat pertama mengandung dua pengertian, dapat anak yang bingung atau saya yang bingung. Jika anak yang bingung, kata bingung harus mendapatkan imbuhan ke—an menjadi kebingungan. Jika saya yang bingung, kata bingung harus berada setelah kata saya. Perbaikannya ada dua varian, yaitu:
1a. Saya bingung melihat kelakuan anak itu.
1b. Saya melihat anak itu kebingungan.
Kalimat kedua bermakna jenazah yang diantar banyak. Frasa iringiringan jenazah mengandung pengertian jamak. Jadi pengertian kalimat kedua adalah mereka mengantarkan banyak jenazah ke kuburan. Apa benar? Sebenarnya maksudnya kata iring-iringan bukan ditujukan pada jenazah, tapi para pengiringnya sehingga makna sebenarnya adalah mereka mengantar para pengiring jenazah ke kuburan. Dan lebih jelas lagi jika kata mengantar dihilangkan. Perbaikannya ialah sebagai berikut:
2a. Mereka mengantar jenazah ke kuburan.
2b. Mereka mengiringi jenazah ke kuburan.
Kalimat ketiga dapat menimbulkan salah pengertian karena yang dimaksud adalah mahasiswa baru atau mahasiswa fakultas yang baru. Predikat baru ditujukan kepada mahasiswa atau pada fakultasnya. Perbaikannya ada dua varian, yaitu:
3a. Semua mahasiswa baru di fakultas itu agar berkumpul di ruang senat. atau
3b. Semua mahasiswa pada fakultas yang baru itu agar berkumpul di ruang senat.

B. Kalimat yang Komunikatif, tetapi tidak Cermat
Dalam proses komunikasi sering kita temui kalimat yang ditulis atau diucapkan tidak terlalu mengindahkan tata bahasa atau gramatikal. Artinya, kemungkinan dalam penyusunan kalimat banyak terjadi kesalahan atau kurang cermat, namun dapat dipahami karena memang sudah terbiasa didengar atau diucapkan. Namun, tetap saja ketidakcermatan penyusunan kalimat tidak menjamin terjadinya komunikasi yang efektif. Oleh sebab itu, kita harus memahami kriteria kalimat yang kurang cermat. Ketidakcermatan kalimat dapat ditinjau dari beberapa segi berikut.

1. Ketidaklengkapan unsur-unsurnya

Sebuah kalimat jika tidak lengkap unsur-unsurnya apalagi unsur tersebut seharusnya ada menjadi tidak berarti. Di dalam kalimat, terdapat minimal dua unsur, yaitu subjek dan predikat. Kalimat yang seharusnya memiliki unsur jabatan tersebut lalu secara tersurat tak terungkap membuat kalimat menjadi rancu.
Contoh:
a.Dilengkapinya perpustakaan dengan koleksi buku remaja menjadikan
bertambahnya para pengunjung perpustakaan sekolah.

(Kalimat ini tidak menjelaskan siapa yang melengkapi perpustakaan. Artinya,
kalimat ini tidak menyertakan siapa pelakunya atau subjek kalimatnya.)

b.Dengan bersemangat Pak guru menceritakan kepada anak-anak muridnya agar
mereka dapat mengambil hikmah.

Kalimat ini tidak lengkap pada objeknya. Hal apa yang diceritakanoleh pelaku tidak tertera atau dijelaskan. Jika pun strukturnya dipertahankan, supaya tidak rancu, kata menceritakan yang merupakan verba transitif diubah menjadi intransitif bercerita). Perbaikan kalimatnya ialah:
a.Dilengkapinya perpustakaan dengan koleksi buku remaja oleh kepala sekolah
menjadikan bertambahnya para pengunjung perpustakaan sekolah.

b.Dengan bersemangat Pak guru bercerita kepada murid-muridnya agar mereka
dapat mengambil hikmah.


2. Ketidaktepatan penempatan unsur-unsurnya
Kalimat yang tidak tepat kedudukan unsur-unsurnya membuat kalimat tersebut tidak dapat dipahami atau sulit dimengerti.
Contoh:
a.Petani sebelum ada kebijakan impor gula dari pemerintah, tidak pernah
mengalami kerugian hingga puluhan juta rupiah.

b.Setelah ia dan istrinya mendapat teror terus-menerus, segera melapor kepada
pihak kepolisian.

Kedua kalimat ini terasa janggal karena ada ketidaktepatan penempatan salah satu unsur kalimatnya. Jika diperhatikan, kesalahan ada pada kata petani yang seharusnya diletakkan setelah klausa keterangan sebelum ada kebijakan impor gula dari pemerintah. Begitu pula dengan kalimat kedua, kata atau subjek ia dan istrinya seharusnya diletakkan pada kalimat induk segera melaporkan kepada pihak kepolisian.
Perhatikanlah perbaikannya berikut ini.
a.Sebelum ada kebijakan impor gula dari pemerintah, petani tidak pernah
mengalami kerugian hingga puluhan juta rupiah.

b.Setelah mendapat teror terus-menerus, ia dan istrinya segera melapor kepada
pihak kepolisian.

Perhatikan kembali contoh berikut:
c. Selanjutnya saya akan berikan kekurangannya setelah pekerjaan selesai.
d. Jadi, kita harus sukseskan pilkada tahun ini.
Kedua kalimat ini juga janggal. Keterangan aspek seperti akan, belum, telah, masih, sedang, dan sebagainya tidak boleh disisipkan pada kata kerja pasif yang berupa ikatan erat antara subjek kata kerjanya.
Perhatikan perbaikannya berikut ini:
c. Selanjutnya akan saya berikan kekurangannya setelah pekerjaan selesai.
d. Jadi, harus kita sukseskan pilkada tahun ini.

3. Penggunaan unsur-unsur kalimat yang berlebihan
Ketidakcermatan kalimat juga dapat dilihat dari penggunaan unsur kalimat yang berlebihan. Unsur yang berlebihan itu dapat berupa penggunaan kata yang sama artinya atau pemakaian kata tugas yang tidak perlu.
Contoh:
a.Para ibu-ibu sedang mengikuti penyuluhan hidup sehat dan bersih.
b.Di dalam tubuhnya terdapat banyak virus-virus yang membahayakan.
c.Remaja harus mengetahui akan bahaya narkoba.
d.Bagi siswa yang mengisi acara pensi harap segera menghubungi panitia.
Kalimat pertama dan kedua berlebihan dalam hal pemakaian kata para dan banyak yang menunjukkan makna jamak. Maka, kata berikutnya tidak perlu diulang. Kalimat ketiga dan keempat tidak perlu memakai kata tugas akan dan bagi. Jadi, kalimat yang benar ialah:
a. Para ibu sedang mengikuti penyuluhan hidup sehat dan bersih.
b. Di dalam tubuhnya terdapat banyak virus yang membahayakan.
c. Remaja harus mengetahui bahaya narkoba.
d. Siswa yang mengisi acara pensi harap segera menghubungi panitia.

4. Pilihan kata tidak tepat
Ketidakefektifan atau ketidakcermatan penyusunan kalimat juga dapat disebabkan karena pilihan kata tidak tepat. Hal ini dapat dipengaruhi oleh bahasa sehari-hari atau pengaruh bahasa asing.
Selain itu, ketidakpahaman terhadap arti sebuah kata menyebabkan penggunaan kata tersebut tidak tepat.
Contoh:
a.Kepada yang pernah ke gunung ini pasti akan merasakan dinginnya udara di sini.
b.Kenikmatan mie buatannya menggemparkan warga sekitarnya.
c.Rumahnya besar sendiri dibandingkan rumah-rumah tetangganya.
Kalimat pertama terdapat ketidakcocokan antara kata pernah dan akan. Kata pernah menunjukkan sudah dilakukan, bertentangan dengan kata akan yang baru atau belum dialami. Seharusnya kata akan diganti dengan sudah. Kata depan kepada juga sebaiknya dihilangkan. Kalimat kedua ketidaktepatan pada kata menggemparkan. Kata ini berkonotasi negatif yang berarti membuat panik. Padahal kenikmatan adalah suatu kesenangan dan dalam hal ini berkaitan dengan urusan rasa. Maka, frasa yang tepat adalah membuat takjub. Kalimat ketiga kata besar sendiri dipengaruhi bahasa daerah gede dewe, yang tepat adalah paling besar. Jadi, perbaikannya.
a.Mereka yang pernah ke gunung ini pasti sudah merasakan dinginnya udara di
sini.
b.Kenikmatan mie buatannya membuat takjub warga sekitarnya.
c.Rumahnya paling besar dibandingkan dengan rumah-rumah tetangganya.


C. Kalimat yang Cermat, tetapi tidak Komunikatif
Kalimat yang disampaikan oleh pembicara secara lisan atau penulis secara tertulis mungkin saja telah sesuai dengan kaidah bahasa, namun jika penyampaiannya tidak lugas dan padat, dapat menyulitkan komunikan untuk memahaminya. Sebuah kalimat dapat saja penyusunannya sudah cermat tapi tidak komunikatif. Hal ini dapat terjadi karena hal-hal berikut ini.

1. Kalimat terlalu luas atau berbentuk kalimat majemuk kompleks.
Kalimat yang terlalu luas atau panjang dapat mengaburkan maksud yang sebenarnya dari kalimat tersebut. Meskipun penyusunannya tidak menyalahi kaidah gramatikal, namun karena kata yang dipergunakan banyak dan bercabang, dapat menyebabkan pesan yang dikandungnya jadi tidak dapat ditangkap secara utuh.
a.Karena dalam kurikulum itu bidang studi Bahasa Indonesia mendapat tempat
yang teratas berdasarkan alokasi waktu yang disediakan untuk pelajaran Bahasa
Indonesia, yaitu 8 jam pelajaran seminggu, sedangkan untuk bidang studi yang
lain berkisar dari 2 sampai dengan 6 jam seminggu, pelajaran Bahasa Indonesia
dianggap sangat penting dalam rangka mencapai pendidikan nasional
berdasarkan Pancasila, yaitu untuk meningkatkan ketaqwaan terhadap Tuhan
Yang Maha Esa, kecerdasan, keterampilan, mempertinggi budi pekerti,
memperkuat kepribadian, dan mempertebal semangat kebangsaan.

b.Bahasa Indonesia yang oleh Sumpah Pemuda pada 28 Oktober 1928 diakui
sebagai bahasa nasional dipakai di seluruh Indonesia, di daerah-daerah yang
berbeda-beda latar belakang kebahasaan, kebudayaan, kesukuan, dan di dalam
lapisan masyarakat yang berbeda-beda pula latar belakang pendidikannya.


Dua contoh kalimat di atas merupakan kalimat luas atau panjang karena terdapat klausa-klausa perluasan subjek dan predikat. Uraian kalimat yang terlalu luas itu sulit dicerna jika disampaikan secara lisan, dan juga harus dibaca lebih dari sekali untuk memahaminya dalam bentuk tulisan. Kalimat dapat diperpendek agar lebih mudah dan cepat dipahami dalam bentuk berikut ini.
a.Dalam kurikulum itu, bidang studi Bahasa Indonesia mendapat tempat teratas,
yaitu 8 jam pelajaran seminggu, sedangkan untuk bidang studi yang lain berkisar
2 sampai 6 jam seminggu. Karena itu, pelajaran Bahasa Indonesia dianggap
penting dalam rangka mencapai pendidikan nasional berdasarkan Pancasila,
yaitu untuk meningkatkan ketakwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa,
kecerdasan, keterampilan, mempertinggi budi pekerti, memperkuat kepribadian,
dan mempertebal semangat kebangsaan.

b.Bahasa Indonesia yang dalam sumpah Pemuda telah diakui sebagai bahasa
nasional dipakai di seluruh Indonesia yang memiliki keragaman bahasa, budaya,
suku, dan lapisan masyarakat yang berbeda-beda latar belakang pendidikannya.


2. Kalimat yang terperinci namun pengertiannya secara umum sudah diketahui
Kalimat yang cenderung panjang kemungkinan dibebani dengan penjelasan yang harus terperinci. Namun, adakalanya kalimat dapat panjang karena menggunakan keterangan yang tidak perlu. Keterangan tersebut secara umum sudah diketahui oleh pendengar atau pembaca. Dengan kata lain, penjelasan tersebut dapat diganti dengan kata yang sepadan tetapi lebih hemat.
Contoh:
a.Hari ini, Rudi menggunakan baju dengan kerah pendek yang biasa orang pakai
untuk salat di masjid.

b.Andi memasukkan angin ke dalam ban sepeda agar ban itu kembali dapat
dijalankan.

Kalimat di atas terlalu panjang dan tidak efektif. Kedua kalimat di atas dapat diganti dengan kalimat berikut.
a.Hari ini, Rudi memakai baju koko.
b.Andi memompa ban sepedanya agar dapat jalan lagi.

3. Kalimat tidak logis
Kalimat yang disampaikan secara cermat juga dapat tidak komunikatif karena tidak logis. Kalimat seperti ini dapat menyebabkan salah penafsiran sehingga menimbulkan pemahaman dan tanggapan yang berbeda.
Contoh:
a.Dengan mengucapkan puji syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa, selesailah
karya tulis ini.

b.Pemenang terbaik ke-2 akan mendapatkan voucher belanja seharga 2 juta rupiah.
Kalimat pertama memang tidak logis karena tidak mungkin dengan mengucapkan puji syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa dapat membuat karya tulis selesai. Kalimat kedua tidak logisnya pada kata terbaik. Makna kata terbaik adalah paling baik, jadi tidak ada terbaik kedua.
Kalimat di atas dapat diperbaiki menjadi:

a.Penulis mengucapkan puji syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa karena karya
tulis ini dapat penulis selesaikan. Atau Puji syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa
karena penulis dapat menyelesaikan karya tulis ini.

b.Pemenang ke-2 akan mendapatkan voucher belanja seharga 2 juta rupiah.

D. Menggunakan Kalimat yang Efektif dan Santun
Dalam komunikasi, bukan hanya penyampaian kalimat yang efektif dan komunikatif yang harus diperhatikan, tetapi juga kesantunan dalam berbahasa. Kalimat yang santun lebih ditujukan untuk penghormatan kepada mitra bicara atau komunikan. Penyampaian kalimat memang harus tetap efektif, cermat, dan komunikatif juga bernilai rasa bagus dan santun.
Untuk menyampaikan kalimat yang santun, harus dipertimbangkan pula penggunaan kosakata baku dan pilihan kata yang sewajarnya serta tidak berkonotasi kurang baik. Dengan kalimat yang efektif dan santun, tanggapan yang muncul dari mitra komunikasi juga akan berkesan baik.
Perhatikanlah contoh kalimat di bawah ini.

1a. Agar kami dapat memberikan nilai pada pekerjaan Saudara, kami perlu data
pribadi Saudara.

Bandingkan dengan:
1b. Agar kami dapat mengevaluasi pekerjaan Saudara, kami membutuhkan data
pribadi Saudara.

2a. Yang kami tahu selama ini, belum ada siswa yang dikeluarkan karena kasus
narkoba.

Bandingkan dengan:
2b. Sepengetahuan kami, belum ada siswa yang dikeluarkan karena kasus
narkoba.

3a. Setelah membaca surat Saudara tertanggal 4 Juli 2007 dengan nomor surat
122/PC-3/2007, maka kami kirimkan surat balasan...

Bandingkan dengan:
3b. Menjawab surat Saudara tertanggal 4 Juli 2007, Nomor 122/PC-03/2007, kami
sampaikan bahwa...

4a. Untuk menyambut tamu yang kita hormati, kami harap hadirin berdiri.
Bandingkan dengan:
4b. Untuk menyambut tamu kehormatan kita, kami mohon kesediaan hadirin untuk
berdiri.

5a. Kami ucapkan mohon maaf yang sebesar-besarnya atas kelalaian kami
tersebut.

Bandingkan dengan:
5b. Kami menyampaikan permohonan maaf atas kelalaian kami tersebut.
Kalimat b lebih terasa santun daripada kalimat a.

Selasa, 31 Agustus 2010

SASTRA ISLAMI

SASTRA ISLAMI

A. PENGARUH ISLAM DALAM KESUSASTRAAN INDONESIA
Pengaruh Islam dalam kesusastraan di Indonesia dimulai sekitar abad ke-13 yaitu ketika masuknya orang-orang Gujarat (keturunan India) dan Arab Persia ke Indonesia. Hal ttersebut berdasarkan pada bukti sejarah yang ditemukan oleh Marcopollo di Samudera Pasai (sekarang Sumatera) pada tahun 1292 yang mendapati adanya peninggalan golongan Islam di Sumatera. Dia menemukan sebuah prasasti pada batu nisan Malikussaleh (Sultan Pasai) yang memerintah di Samudera Pasai (Sumatera) pada akhir abad ke-13.
Beberapa bentuk karya sastra Islam mulai berkembang di Indonesia diawali dengan genre sastra pantun, sajak, kith’ah, hikayat, syair, nazam, gasal, kith’ah, dan roman. Karya sastra Islami yang bersifat modern bahkan kontemporer pada saat ini telah berkembang sangat pesat. Jenisnya tidak lagi hanya dalam bentuk pantun, hikayat, syair, nazam, gasal, kith’ah, dan roman saja tetapi sudah merambah ke genre cerpen, puisi, bahkan novel.

B. BENTUK SASTRA ISLAMI
1. Sajak
Merupakan bentuk genre dari pantun, cirinya pun hampir sama dengan pantun yang mengutamakan jumlah baris setiap bait, dan mengutamakan persajakan atau bunyi di akhir barisnya. Namun, keseluruhan syair adalah isi. Contoh sajak yang bernuansa Islami adalah sebagai berikut :

SUJUD

Oh, bukanlah dalam kata yang rancak
Kata yang pelik bercampur berserak
Memuji, meminta kepada pemberi nikmat dan laknat
Bukan dalam bentuk kata yang padat
Melainkan dalam maksud isinya sarat
Meratap, mengemis, menangis dalam sarikat salat

Pecah bejana lumbung dosa
Bernapas lupa termakan suka
Berduka disambung bahasa jalang
Ingat dosa berselubung malang
Mengenang sejarah tak pula kembali berulang
Karena senja kembali tidurkan petang

Besarkan budiman sertakan rayu
Dalam serikat doa menjadi padu
Pinta ampun dosa terdahulu

2. Pantun
Merupakan genre sastra tertua di Indonesia. Pantun Islami banyak berisi tentang nasihat untuk melakukan kebajikan, seruan amarma;ruf nahimungkar, dan lain-lainnya. Contoh pantun nasihat adalah sebagai berikut :

Pandang langit di ufuk barat
Merah tembaga silau mengkilat
Kurang pikir kurang siasat
Tentu dirimu kelak tersesat

Buah cempedak dimakan ulat
Ulat mati karena obat
Jaga lisan luruskan niat
Agar hidup dipenuhi rahmat

Bertanam buah di negeri kiblat
Tak berjaya air di tanah berpasir
Tetap istiqomah dirikan salat
Jangan lupakan zakat agar tidak jadi kikir

Telanlah pahitnya obat
Agar badan menjadi sehat
Terimalah pahitnya nasihat
Agar hidupmu tidak tersesat


3. Kith’ah
Adalah sejenis puisi yang berasal dari saduran atau terjemahan puisi berbahasa Arab atau Persia yang berisi terjemahan makna suatu surat Al Quran atau peribahasa Islam. Contohnya kith’ah :

Jika ku lihat dalam tanah pada ihwal sekalian insan,
Tiadalah ku dapat bedakan perihal antara rakyat dan sultan
Fana juga sekalian yang ada, dengarlah yang Alloh Azzawajalla berfirman :
“Kullu Man’alaiha Fanin”
Barang siapa yang berada di atas bumi itu senyaplah jua

Jika kau lihat gunung tinggi mengapai awan
Tiadalah kau dapat berlari ke atasnya seperti Kan’an
Ketika nyawa akan berpisah dengan badan tak ada yang kuasa menahan,
Meski gunung menantang menjulang, Tuhan akan menghancurkan
“Fazaruhaqo’an Shof-shofan”
Maka DIA akan menjadikan gunung-gunung datar sama sekali.

4. Hikayat
Merupakan cerita kuno sejenis roman yang penggambaran/pelukisan ceritanya menggunakan bahasa khayal, Isinya bersifat istana sentris (bercerita tentang kehidupan sekitar istana, putrid dan raja) atau menceritakan tentang nenek moyang yang berasal dari dewa-dewa kayangan.
Cerita digambarkan dengan penuh kejadian yang mengagumkan dan menakjubkan dan cerita berakhir dengan bertemunya putrid raja dengan kekasihnya dan menikah kemudian hidup berbahagia dalam kerajaan yang makmur.
Beberapa contoh hikayat antara lain :

a) Hikayat 1001 malam
Menceritakan seorang raja yang berkuasa tetapi memiliki kekecewaan yang begitu besar akan cinta. Raja ini selalu membunuh kekasih dan permaisurinya hanya karena dia tidak ingin kecewa karena perasaan cintanya. Setiap memiliki permaisuri yang dinikahinya maka keesokan harinya istrinya itu pasti telah ditemukan tidak bernyawa lagi.
Setelah sekian banyak korban maka ada seorang putrid cantik, alim, dan bijaksana, anak menteri kerajaan. Raja jatuh hati kepadanya, mengetahui perangai sang raja puteri itu pun bercerita setiap malam dihadapan raja dan cerita itu tidak pernah berakhir dari satu malam ke malam berikutnya. Ceritanya senantiasa bersambung sampai raja lupa akan niatnya untuk membunuh sang putrid yang telah menjadi istrinya itu. Dikisahkan jika putrid itu bercerita hingga seribu satu malam untuk menaklukkan hati sang raja sehingga raja tersadar jika sesungguhnya masa lalu yang pahit itu tidak selamanya akan mengikuti hidupnya.
Cerita ini memiliki pesan jika kesuraman masa lalu seseungguhnya adalah pelajaran dan batu pijakan untuk tetap mengayuh biduk hidup di masa depan. Cerita ini mengajarkan manusia untuk tetap optimis menatap masa depan.Kegagalan adalah kesuksesan yang tertunda.

b) Hikayat Amir Hamzah
Merupakan karya sastra tertua berbentuk hikayat jumlah kisahnya beribu-ribu. Awal masuk ke Indonesia diterjemahkan dalam bahasa Melayu. Karangan aslinya berasal dari Persia yang berbentuk sajak-sajak.
Salah satu ceritanya mengisahkan peperangan antara kaum kafir dengan muslim namun cerita dibalut dengan setting sedemikian rupa sehingga menghidupkan jalannya cerita. Peperangan yang terjadi di Mekkah itu berlangsung antara Amir Hamzah yang menjadi putra dari Abdul Muthalib dan Umar bin Khatab putra dari pembantu Abdul Muthalib yang bernama Ummaya Al Dahmri.

c) Hikayat Muhammad Ibnu Hanafiah
Merupakan cerita sage (cerita kepahlawanan) Islam, hikayat ini lahir sebelum lahirnya sejarah Melayu. Cerita ini berasal dari Arab Persia. Isi dan ceritanya pun berbeda-beda.
Keistimewaan cerita ini adalah wafatnya Muhammad Ibnu Hanafiah yang diceritakan gugur saat melawan Yazid putra Muawwiyah dari bani Ummayah. Diceritakan Muhammad Ibnu Hanafiyah meninggal dalam gua yang tertutup batu-batu. Dikalangan pengikut Ali bin Abi Thalib (kaum Syi’ah) ia dikenal sebagai ”Imam Tersembunyi” dan diyakini oleh kaum Syi’ah jika ia tidak mati dan diceritakan dia akan menjadi “Imam Ghaib”.

d) Hikayat Iskandar Zulkarnaen
Menceritakan tentang keberanian, sifat patriotisme yang tinggi dari Iskandar Zulkarnaen yang juga dikenal dengan nama Alexander yang Agung, yang berniat menaklukkan dunia dan menyatukannya dalam kekuasaan Iskandariah (kebudayaan Hellenisme). Diceritakan kerajaan Mesir, Persia, dan India berhasil ditaklukkannya tetapi saat perjalanan untuk menaklukkan Arabia dia meninggal.
Legenda yang terkenal dari cerita ini adalah ketika Iskandar Zulkarnaen mencari mata air kehidupan atau Maulhayat agar dia hidup kekal untuk dapat memimpin dunia. Namun dia tidak pernah berhasil. Ternyata kokinyalah yang berhasil menemukannya dan tanpa disadari koki (juru masak) yang waktu itu mandi di sebuah mata air yang ternyata Maulhayat yang memiliki keabadian. Iskandar Zulkarnaen marah dan berusaha membunuh kokinya tersebut dengan berbagai cara tetapi sang koki tidak dapat mati karena telah mandi di Maulhayat. Koki itu pun dibuangnya ditengah laut tetapi tetap tidak mati juga dan akhirnya koki itu menjadi hantu (penjaga) laut.
Cerita ini memiliki pesan jika hidup kekal atau abadai itu tidak mungkin bagi manusia karena hanya Alloh Azzawajalla yang abadi. Apabila benar terjadi maka tidak akan mendapatkan kebahagiaan seperti yang dialami sang koki.

5. Syair
Merupakan genre sastra yang berasal dari peradaban dan budaya Arab. Syair berasal dari kata sya’ara berarti menembang atau syu’ur bermakna tembang jadi syair bermakna kata-kata yang ditembangkan. Biasanya syair berisi nasihat, cerita, dongeng, lukisan suatu peristiwa, pengajaran, dan lain-lain. Contoh syair berisi cerita :



HIDUP SENGSARA

Setelah didengar raja bestari
Murka baginda tiada berperi
Pedang terhunus baginda sendiri
Permaisuri tua meregangkan diri
Seraya katanya, janganlah begitu…
Pandanglah mata saudaramu itu
Jika dibunuh bundanya itu
Jadilah dinda tidak bertentu
Hidup dunia berasa sepi
Puspa bermekar dipagari
Mengharap wangi melambung tinggi
Merajuk hati hidupkan yang mati
Jangan siakan gunung seribu
Sembulkan pelita memangku daku
Berpandang terang merayu
Berkaca bahagia dituntun restu

6. Roman
Adalah karya sastra yang menceritakan perubahan nasib seseorang dari kisah hidupnya yang diceritakan dari lahir hingga matinya tokohnya. Roman yang berbau Islami di Indonesia sangatlah banyak salah satu pengarang roman yang terkenal adalahHaji Abdul Karim Amrulloh atau dikenal dengan nama Hamka. Salah satu romannya yang termasyur adalah “Di bawah Lindungan Ka’bah”.
Roman ini menceritakan kisah cinta yang berbalut religiusitas tokohnya. Kisah cinta antara Hamid dan Zaenab yang tidak mampu terwujud karena orang tua Zaenab tidak merestui hubungan Zaenab dengan Hamid yang notabene adalah seorang pemuda yatim yang miskin. Hamid adalah sosok pemuda yang berperangai baik, budi bahasanya santun, dan soleh. Dalam cerita ini dikisahkan jika Zaenab dan Hamid bersekolah ditempat yang sama karena Hamid merupakan anak angkat dari keluarganya Zaenab tetapi setelah selesai masa sekolah Zaenab dipingit oleh orang tuanya. Hal ini dilakukan sebagai isyarat yang paling halus untuk melarang Zaenab melanjutkan hubungan asmara anaknya dengan Hamid, anak angkatnya itu. Orang tuanya mengatakan jika Zaenab telah memiliki calon suami dan meminta Hamid untuk menjaga jarak dengan Zaenab bahkan meminta Hamid membujuk Zaenab agar mau menerima pinangan dari calon suami pilihan orang tuanya. Hal ini membuat Hamid sangat terpukul.
Merasa kisah cintanya tidak akan terwujud, maka Hamid pun memutuskan untuk mengembara mengelili dunia dengan tujuan untuk melupakan Zaenab. Ketika Hammid sedang berada di Mekkah melakukan ibadah haji dia bertemu dengan sahabatnya pada waktu sekolah di Padang Panjang dahulu yang kebetulan isterinya adalah teman Zaenab, bernama rosna.
Pertemuan suami Rosna dengan Hamid pun samapi ke telinga Zaenab. Kemudian Zaenab meminta kepada Rosna agar menyampaikan kepada Hamid agar pulang ke Padang Panjang karena Zaenab sedang sakit parah. Lama Zaenab menunggu kedatangan Hamid tetapi akhirnya Rosna pun mengirimkan kabar kepada Hamid jika Zaenab telah meninggal. Mendengar kabar itu Hamid semakin merasa hancur. Sebagai manusia saleh dia pun tetap bertawakal menerima kenyataan tersebut, berusaha ikhlas mengahadapinya. Di hadapan Ka’bah Hamid selalu berdoa agar Zaenab mendapatkan tempat terbaik disisi-Nya. Tak lama kemudian meninggal ketika masih melakukan ibadah di Mekkah.

7. Puisi
Puisi-puisi Islami sudah sangat banyak lahir di era ini. Cirinya tentu saja sudah sangat jelas yaitu mengandung makna yang mendidik menurut ajaran Islam. Tokoh-tokoh puisi Islami juga tidak sedikit beberapa diantaranya adalah Emha Ainun Najib, Taufik Ismail, Ratih Sanggarwati, dan masih banyak lagi para pengarang dan penulis puisi Islami di Indonesia.

8. Nasyid
Merupakan syair yang didendangkan/dinyanyikan. Isi syair nasyid adalah syair yang membangun jiwa, nasihat ibadah, pujian kepada Nabi Muhammad SAW atau Alloh SWT, dan pesan moral lainnya. Nasyid merupakan kolaborasi antara sayair dan musik jadi dalam nasyid sering ada penggunaan alat musik sebagai pengiringnya.




SAJAK
Karya : Rifa’i Ali

AKHIRAT dalam DUNIA


Kalau saya mencari rosul,
Kucari rosul insan biasa,
Agar beliau dapat kususul,
Dengan hidup seperti biasa,

Saya bertemu dengan Muhammad,
Yang memandang ibadat, tiap laku,
Segala tanda gerak hayat,
Dengan syarat ada satu,

Ialah niat, kesadaran hati,
Bahwa sesuatu perbuatan
Dilakukan dengan mengerti,
Bahwa ia disukai Tuhan.

Muhammad nabiku, sudahlah tepat,
Meneladannya genap bahagia,
Sebab didalam menuju akhirat,
Aku hidup di pusat dunia.

Dari mandi bergosok gigi,
Bersisir berharum badan,
Sampai bercinta dengan istri,
Terhitung semua jadi amalan.

Sejak pencangkulan tanah di gunung,
Yang berpanas di sawah,
Hingga ke bankir di dalam gedung,
Terpandang mujahid yang berjuang.






BASMALLAH

Dengan bismillah disambut bidan
Dengan bismillah berkafan badan
Dengan bismillah hidup dan mati
Dengan bismillah diangkat bakti.





HIDUP

Ketika lahir disambut emban
Ketika mati dilepas salat,
Antara adzan dan sembahyang,
Wahai hidup alangkah singkat!

Datang ke dunia telanjang bulat
Pulang hanya berkain kafan
Jangan ke alam hati tertambat,
Alam tak dapat menolong badan!




Puisi
Karya : Chairil Anwar

DOA

Kepada Pemeluk Teguh

Tuhanku
Dalam termangu
Aku masih menyebut nama-Mu

Biar susah sungguh
Mengingat Kau penuh seluruh

Caya-Mu panas suci
Tinggal kerdip lilin di malam sunyi

Tuhanku
Aku hilang bentuk
Remuk

Tuhanku
Aku mengembara di negeri asing

Tuhanku
Di pintu-Mu aku mengetuk
Aku tidak bisa berpaling














Sajak
Karya : Taufik Ismail

NASIHAT-NASIHAT KECIL ORANG TUA PADA ANAKNYA BERANGKAT DEWASA

Jika adalah yang harus kau lakukan
Ialah menyampaikan kebenaran
Jika adalah yang tak bisa dijual-belikan
Ialah yang bernama keyakinan
Jika adalah yang harus kau tumbangkan
Ialah segala pohon-pohon kedzaliman
Jika adalah orang yang harus kau agungkan
Ialah hanya Rosul tuhan
Jika adalah kesempatan memilih mati
Ialah syahid di jalan Illahi.

Selasa, 22 Juni 2010

Model Pembelajaran Kooperatif Jigsaw


Model pembelajaran kooperatif Jigsaw memiliki beberapa kelebihan yaitu (1) efisiensi waktu pembelajaran karena siswa terbagi dalam kelompok-kelompok yang mempelajari sub-sub materi; (2) meningkatkan minat belajar karena setiap siswa merasa bertanggung jawab pada diri sendiri dan kelompoknya atas bagian materi yang dipelajarinya; dan (3) memberi kesempatan pada siswa untuk menjelaskan materi di dalam kelompoknya sehingga lebih memahami suatu materi tersebut.

Salah satu aspek penting pembelajaran kooperatif adalah selain membantu mengembangkan tingkah laku kooperatif yang lebih baik diantara siswa, pembelajaran kooperatif juga membantu siswa dalam pembelajaran akademis mereka (Ibrahim,dkk, 2000). Dalam pembelajaran kooperatif dicirikan oleh struktur tugas, tujuan dan penghargaan kooperatif. Siswa yang bekerja dalam situasi pembelajaran kooperatif didorong dan dikehendaki untuk bekerja sama mengerjakan suatu tugas secara bersama-sama, dan mereka harus mengkoordinasikan usahanya untuk menyelesaikan tugasnya. Diharapkan dengan kerjasama siswa ini keterampilan untuk belajar bersama meningkat dan kemampuan siswa juga meningkat.(Ibrahim,dkk, 2000).

Pada penelitian ini Kompetensi Dasar (KD) siswa dijabarkan menjadi bebebapa indikator yang disesuaikan dengan kemampuan siswa, waktu yang tersedia dan fasilitas yang ada di sekolah. Kemampuan siswa yang dimaksud adalah siswa mampu mendeskripsikan pengertian sinonim dan polisemi, membedakan ciri sinonim dan polisemi, memberikan contoh struktur leksikal berupa sinonim dan polisemi, mengetahui dan menjelaskan suatu struktur leksikal dapat diklasifikasikan sebagai sinonim dan polisemi. Hal tersebut merupakan indikator yang harus dicapai siswa setelah mengikuti pembelajaran materi struktur leksikal berupa sinonim dan polisemi melalui model pembelajaran kooperatif Jigsaw.

Menurut Ibrahim,dkk. (2000), unsur-unsur dasar pembelajaran kooperatif sebagai berikut:
  1. Siswa dalam kelompoknya haruslah beranggapan bahwa mereka sehidup sepenanggungan bersama.
  2. Siswa bertanggung jawab atas segala sesuatu di dalam kelompoknya.
  3. Siswa haruslah melihat bahwa semua anggota di dalam kelompoknya memiliki tujuan yang sama.
  4. Siswa haruslah membagi tugas dan tanggung jawab yang sama diantara anggota kelompoknya.
  5. Siswa akan dikenai evaluasi atau diberikan hadiah/penghargaanyang juga akan dikenakan untuk semua anggota kelompok.
  6. Siswa berbagi kepemimpinan dan mereka membutuhkan ketrampilan untuk belajar bersama selama proses belajarnya.
  7. Siswa akan diminta mempertanggungjawabkan secara individual materi yang ditangani dalam kelompok kooperatif.

Kebanyakan pembelajaran yang menggunakan model kooperatif memiliki ciri-ciri: (1) siswa bekerja dalam kelompok secara kooperatif untuk menuntaskan materi belajarnya, (2) kelompok dibentuk dari siswa yang memiliki kemampuan tinggi, sedang, dan rendah, (3) bilamana mungkin anggota kelompok berasal dari ras, budaya, suku dan jenis kelamin berbeda-beda, (4) penghargaan lebih berorientasi kelompok daripada individu.

Ada berbagai model pembelajan kooperatif, diantaranya adalah: STAD (Student Team Division Achievment), Jigsaw, Investigasi Kelompok, dan sebagainya. Dalam Jigsaw, siswa bekerja dalam tim-tim heterogen seperti STAD. Siswa ditugasi mempelajari wacana atau bahan-bahan lain untuk dibaca dan diberikan ”Lembar Ahli” yang berisi topik yang berbeda untuk anggota setiap tim agar pada saat membaca (mempelajari) perhatian siswa fokus pada topik tersebut. Apabila setiap orang telah selesai membaca, siswa dari tim berbeda dengan topik yang sama bertemu dalam sebuah ”kelompok ahli” untuk membahas topik mereka selama kurang lebih 30 menit. Para ahli ini kemudian kembali ke tim asal mereka dan secara bergantian mengajar teman satu timnya tentang topik-topik ”keahlian mereka”. Akhirnya siswa diberi kuis tentang seluruh topik, dan skor kuis tersebut menjadi skor tim seperti pada STAD. Kunci kebehasilan Jigsaw adalah saling ketergantungan, yaitu setiap siswa bergantung kepada anggota timnya untuk mendapat informasi yang dibutuhkannya agar dapat mengerjakan kuis dengan baik (Nur, 2005).

Persiapan untuk menggunakan Jigsaw adalah:
  1. Bahan ajar; membuat Lembar Ahli dan lembar kuis untuk tiap unit bahan ajar
  2. Menempatkan siswa dalam Tim heterogen
  3. Menempatkan siswa dalam kelompok ahli
  4. Penentuan skor dasar awal
  5. Mengatur jadwal kegiatan dengan urutan: membaca (tentang topik-topik ahli), diskusi kelompok ahli, laporan tim, kuis dan penghargaan tim atau kelompok.


Sabtu, 15 Mei 2010

ASAL-USUL NAMA BEBERAPA DAERAH DI KABUPATEN BREBES (“Tancep Kayon”)


Sri Baduga Maharaja (Prabu Silihwangi II) adalah seorang raja di daerah Galuh Jawa Barat sebelum berdirinya Kerajaan Pajajaran di Jawa. Baginda raja memiliki seorang permaisuri yang bernama Dewi Sri Poaci Naganingrum yang sangat ayu atau cantik dan beliau pun memiliki seorang istri selir yang bernama Dewi Pangrenyep.
Pada saat yang bersamaan kedua istri Baginda Raja ini mengandung. Istri selir; Dewi Pangrenyep, melahirkan seorang putra terlebih dahulu dan diberi nama Raden Arya Bangah. Namun, kandungan Permaisuri Dewi Sri Poaci Naganingrum belum juga menunjukkan tanda-tanda akan melahirkan padahal usia kandungannya telah tiba waktunya untuk melahirkan. Sehingga timbul praduga yang tidak baik mengenai kejadian tersebut di kalangan istana. Hal ini kemudian sengaja dimanfaatkan oleh istri selir Dewi Pangrenyep untuk membuat fitnah. Tujuannya adalah untuk menyingkirkan keberadaan Dewi Sri Poaci Naganingrum dari istana.
Untuk menjalankan aksinya, Dewi Pangrenyep kemudian menyusun siasat. Rencananya, Dewi Pangrenyep telah melakukan konspirasi dengan seorang dukun bayi. Hal ini dilakukan agar saat Dewi Sri Poaci Naganingrum akan melahirkan, maka Dewi Pangrenyep akan berpura-pura menawarkan bantuan jasa untuk membantu proses persalinannya. Kemudian saat yang dinantikan pun datang, Dewi Sri Poaci Naganingrum melahirkan. Di dalam bilik bersalin itu hanya terdapat seorang dukun bayi, Dewi Sri Poaci Naganingrum, dan Dewi Pangrenyep. Lahirlah seorang jabang bayi laki-laki, saat bayi tersebut lahir dengan segera Dewi Pangrenyep menggantinya dengan seekor anak anjing.
Setelah proses persalinan selesai, bayi laki-laki putra dari Dewi Sri Poaci Naganingrum kemudian segera dimasukkan kedalam sebuah Kandaga (tempat menyimpan perhiasan keluarga raja). Lalu dukun bayi tersebut membuang kandaga yang berisi anak dari Dewi Sri Poaci Naganingrum dan menyertakan sebutir telur di dalamya (sebagai bentuk sesajen keselamatan) dengan cara melarungnya di sungai Citandui. Tak berapa lama setelah proses persalinan Dewi Sri Poaci Naganingrum istana dibuat geger sebab ternyata anak yang dilahirkan oleh Dewi Sri Poaci Naganingrum adalah seekor anak anjing. Ulah dari Dewi Pangrenyep ini kemudian sampai ke telinga Baginda Sri Baduga Maharaja. Suasana tersebut tidak disia-siakan oleh Dewi Pangrenyep untuk mempengaruhi Sri Baduga Maharaja agar membunuh Dewi Sri Poaci Naganingrum. Kemudian disuruhlah seorang algojo dari istana untuk membunuh Dewi Sri Poaci Naganingrum karena telah mencoreng nama istana dengan kelahiran putranya tersebut. Kemudian diputuskanlah bahwa Dewi Sri Poaci Naganingrum dibunuh di luar istana agar tidak membawa nasib buruk bagi istana. Namun, ternyata algojo itu tidak tega membunuh Dewi Sri Poaci Naganingrum dan akhirnya dititipkan pada salah satu keluarga petani. Dewi Sri Poaci Naganingrum kemudian pergi bertapa ke sebuah hutan yang dipercaya sangat angker dan tidak diperbolehkan dimasuki oleh sembarangan orang, maka hidup Dewi Sri Poaci Naganingrum sebatang kara di hutan tersebut. Lalu terkenallah hutan tersebut sebagai Hutan Larangan. Artinya, hutan yang tertutup atau terlarang bagi sembarang orang.
Al kisah, bayi yang dibuang ke sungai Citandui kemudian ditemukan oleh seorang pasangan suami istri pencari ikan yang hidup di tepi hutan. Kakek nenek yang kebetulan tidak memiliki anak itu sangat senang dengan penemuan kandaga berisi bayi tersebut. Mereka bertanya-tanya siapakah gerangan orang tua bayi tersebut. Namun akhirnya mereka memutuskan untuk memelihara bayi yang mereka temukan di sungai tadi. Sesampainya di gubuk mereka telur ayam yang ada dalam kandaga kemudian mereka campurkan ke dalam sarang ayam yang sedang mengerami telur-telurnya. Kemudian telur tersebut menetas menjadi seekor jago dan diberi nama Abang Prenatas.
Belasan tahun kemudian, di istana Raden Arya Bangah Putra Dewi Pangrenyep telah beranjak menjadi remaja. Begitu pula dengan bayi Dewi Sri Poaci Naganingrum yang tumbuh sebagai sosok pemuda yang gagah. Pada suatu hari kakek nenek itu pergi ke hutan untuk mencari kayu bakar dan diajaklah anak Dewi Sri Poaci Naganingrum itu. Didalam perjalanan anak tersebut banyak bertanya tentang apa saja yang dia temui di hutan. Suatu saat dia mendengar suara burung-burung dan melihat kearah suara lalu bertanya “Kek, apa itu?” si kakek pun menjawab “Itu Ciung namanya” tak berapa lama anak itu pun mendengar suara jeritan dari atas pohon yang berasal dari kawanan monyet karena penasaran ia pun bertanya kembali pada si kakek “Kalau itu apa Kek namanya?” lalu dijawab oleh kakek “Kalau itu Wanara namanya”. Anak itu kembali bertanya pada kakek itu “Kalau aku apa namanya Kek?”, maka kakek nenek itu saling bertatap kebingungan karena anak itu memang belum diberi nama sebab mereka berdua terbius oleh rasa gembira karena menemukan anak itu. Lalu anak itu pun diberi nama Ciung Wanara.
Seiring berjalannya usia, Ciung Wanara pun mulai bertanya tentang asal muasal kehidupan penghuni hutan hingga ia bertanya tentang asal-usul kelahirannya. Pada akhirnya Ciung Wanara mengetahui bahwa kakek nenek yang selama ini membesarkannya bukanlah orang tua kandungnya. Kakek nenekitu pun menceritakan bagaimana mereka sampai menemukan Ciung Wanara yang berada di dalam kandaga beserta telur ayam yang sekarang telah menetas menjadi seekor jago yang terseret arus Citandui waktu itu. Akhirnya muncullah tekadnya untuk mencari siapa gerangan orang tua yang sesungguhnya.
Suatu hari Ciung Wanara pun berpamitan kepada orang tua asuhnya itu untuk berangkat ke kota besar sambil membawa jagonya. Ciung Wanara berniat ingin melihat sabung ayam di istana. Terdapat kebiasaan menyabung ayam sebagai hiburan para pembesar istana dengan menggunakan taruhan yang besar. Terkenal di kalangan para penyabung ayam jika jago milik Raden Arya Bangah yang bernama Liring Galing sangat hebat dan selalu menjadi pemenang dalam sabung ayam. Tibalah Ciung Wanara di alun-alun istana, di mana sabung ayam biasa dilakukan.
Singkat cerita pertarungan antara jago milik Ciung Wanara, Abang Prenatas dengan jago milik Raden Arya Bangah, Liring Galih pun terjadi. Disaksikan sebagian besar warga Bumi Pakuwon yang menggerumuni alun-alun ingin menyaksikan pertarungan jago raja mereka terkenal hebat dan telah berkali-kali memenangkan pertarungan. Di Balik pertarungan itu Ciung Wanara dan Raden Arya Bangah saling bertaruh. Taruhannya adalah apabila jagi Ciung Wanara yang menang, maka Ciung Wanara meminta separuh kerajaan di wilayah kekuasaan Raden Arya Bangah dan jika Ciung Wanara yang kalah ia rela lehernya menjadi jaminan. Pada akhirnya jagi Ciung Wanara yang menjadi pemenang tetapi perjanjian yang telah disepakati sebelumnya dilanggar oleh Raden Arya Bangah yang tidak mau membagi wilayahnya kepada Cing Wanara sebagai pemenang.
Terjadilah pertempuran hebat antara keduanya. Pada akhirnya Raden Arya Bangah hanya berhasil menguasai wilayah Pakuwon Timur bersama pendukungnya sedangkan Ciung Wanara bverhasil menguasai Pakuwon Barat. Perjanjian perdamaian memang sudah sering dilaksanakan dan disepakati antara keduabelah pihak tetapi pada kenyataannya dalam waktu singkat perjanjian itu dilanggar. Hal itu yang sering terjadi pada orang-orang di Pakuwon Timur. Sebagian besar masyarakatnya tidak mau mengakui kekalahan rajanya dengan alasan yang bermacam-macam. Ada yang masih merasa getem atau jengkel tidak terima dengan kekalahan. Di Pakuwon Barat pun demikian, bahkan sebagian warga ada yang melarang anak gadis atau bujangnya untuk menikahi warga Pakuwon Timur. Ada juga yang tidak mau berdagang dengan orang ”sabrang kali” atau orang seberang sungai perbatasan itu, maksudnya Pakuwon Barat. Namun, hal seperti itu tidak berlaku bagi warga Pakuwon Timur. Mereka menganggap hal itu sebagai Sesutu yang lumrah, wajar bagi mereka. Biasanya hal yang biasanya diangga wajar, lumrah justru sering tersingkirkan, terdesak dan dianggap kalah, pihak yang dianggap aneh. Hanya sejarah yang membuktikan bahwa siapapun yang benar akan tercatat benar sedangkan yang salah akan tetap diingat-ingat.
Kekecewaan dan kemarahan orang-orang Pakuwon Timur terus menjadi apalagi rajanya sendiri tidak mampu mencegahnya bahkan seringkali memprofokasi, memanas-manasi rakyatnya untuk menyerang orang Pakuwon Barat dibawah kekuasaan Ciung Wanara. Seiring berjalannya waktu surutlah kemakmuran dan kejayaan Pakuwon Timur hingga pada suatu waktu ketika terjadi ekspansi kekuasaan dari sebuah kerajaan besar di bumi Jawa Timur, kerajaan Raden Arya Bangah berhasil ditaklukkan sedangkan Ciung Wanara dan orang Pakuwon Barat memindahkan kekuasaannya semakin jauh ke arah barat melewati sungai Citandeui (sekarang menjadi perbatasan Jawa Barat dan Jawa Tengah).
Perpindahan dan kemunduran kekuasaan itu tidak serta merta menghapus jejak peninggalan yang telah tertanam di Bumi Pakuwon Barat (Ciung Wanara). Meskipun sejarahnya tidak banyak tertulis di dalam buku tetapi tersimpan dalam dongeng, legenda, babad, riwayat, dan kisah-kisah yang dituturkan para sesepuh, Meskipun banyak hulu cerita yang kabur dan tidak jelas mengenai symbol, perlambang, pantangan, tradisi, asal-usul nama tempat di Brebes dan beberapa kota di sekitarnya ini tetapi muaranya jatuh pada sebuah cerita yang berkaitan dengan Ciung Wanara. Ternyata bermacam cerita yang berhasil dirangkum dari berbagai sumber berbagi cerita, dongeng, riwayat, dan legenda itu diwariskan oleh Kerajaan Pakuwon yang pada saat itu berada di wilayah yang sekarang bernama Bumiayu wilayah di sebelah selatan Kabupaten Brebes.
Apabila serius diteliti dimungkinkan peninggalan berupa sisa-sisa bangunan kerajaan, candi, prasasti, atau barang-barang antic peninggalan kejayaan Kerajaan pakuwon bisa ditemukan. Namun, diluar bukti-bukti otentik itu pun Bumi Pakuwon telah banyak meninggalkan bukti berupa kisah, dongeng, riwayat, babad, dan legenda yang pantas dijadikan pelajaran dan dipetik hikmahnya bagi pelajaran kehidupan warga Brebes saat ini.
Legenda Ciung wanara dari Bumi Pakuwon ini pasti mengingatkan orang pada legenda yang sama dari bumi Pajajaran di Jawa Barat. Disana pernah juga berdiri Kerajaan Pakuan yang dalam pelafalan atau pengucapan sesungguhnya tidak jauh berbeda dengan Kerajaan Pakuwon. Lantas jika dipertanyakan apakah Pakuan itu sama dengan Pakuwon? Jawabannya tentu lebih tepat jika ahli sejarah yang memberikannya sebab keterbatasan pengetahuan penulis dan tidak dilakukannya penelitian lebih dalam mengenai dua kerajaan itu oleh penulis.
Yang jelas, legenda Ciung Wanara dari Bumi Pakuwon telah melahirkan nama-nama daerah di Brebes dan sekitarnya. Kata lain atau sinonim dari kata pantangan adalah pepali (sansekerta) yang bunyinya dekat sekali dengan nama sungai di Brebes yaitu Pemali. Dikisahkan pula bahwa sungai pemali itulah yang memisahkan dan menjadi pembatas wilayah antara Kerajaan Pakuwon Barat dan Pakuwon Timur. Diceritakan pula bahwa sungai Pemali itu menyimpan cerita ketika terjadi peperangan antara kedua wilayah bahwa munculnya pantangan (pepali) yang mengingatkan siapa saja warga Pakuwon Timur agar tidak menyeberangi sungai untuk menyerang atau ingin berbuat jahat pada Pakuwon Barat yang notabene tidak pernah mempermasalahkan pertikaian yang telah terjadi antara rajanya dulu. Oleh karena itu, kemudian jadilah nama sungai itu menjadi Sungai Pemali seperti sekarang ini. Bahkan sampai saat ini masih ada kepercayaan yang mengatakan sungai Pemali akan menghapus kekuatan gaib atau ilmu hitam (guna-guna, tenung, santet) yang melintas atau menyeberaninya untuk suatu kejahatan.
Pada saat terjadi perebutan kekuasaan kedua pangeran muda tersebut kemudian dikisahkan berpisah karena adanya ekspansi dari salah satu penguasa dari Jawa Timur sehingga Pakuwon Timur bisa ditaklukkan dan Raden Arya Bangah maupun Ciung Wanara masing-masing mengambil keputusan untuk meninggalkan Bumi Pakuwon. Perjalanan keduanya saat meninggalkan Bumi Pakuwon menyusuri aliran anak sungai Pemali yang merambat (jawa; merembet) melewati bukit-bukit di gunung Kumbang di sekitar hutan Larangan itu kemudian menjadi cerita lahirnya nama anak sungai Pemali yaitu Sungai Rambatan yang juga melewati desa Larangan.
Di sekitar sungai Rambatan itu dahulu banyak mengalir sungai-sungai kecil dari bukit-bukit anak dari gunung Kumbang yang masih berada di sekitar hutan Larangan dan sungai-sungai kecil itu banyak ditumbuhi oleh tanaman pandan liar. Sungai-sungai kecil tersebut dalam bahasa jawa dikenal dengan nama kalen dan dari situ kemudian lahir sebuah desa di sekitar aliran sungai Rambatan yang banyak dilewati sungai-sungai kecil (jawa; kalen) yang ditumbuhi tanaman pandan yaitu Desa Kalenpandan.
Ketika terjadi peperangan yang tidak berkesudahan itu, antara Raden Arya Bangah dan Ciung Wanara diceritakan mereka berjalan menyusuri sungai Pemali ke arah selatan dan beristirahat untuk berfikir tentang peperangan yang telah menelan banyak korban itu dan dirasakan peperangan hanya membawa kerugian saja. Perasaan (jawa; pangrasan) yang muncul dari kedua pangeran dari kerajaan Pakuwon itu saat beristirahat di suatu tempat ketika memikirkan peperangan yang selama ini berlangsung kemudian menjadikan tempat itu sekarang bernama Desa Pangarasan. Dikisahkan pula saat sering terjadi permusuhan dan penyerangan terjadi pula perundingan dan perundingan itu kerapkali dilakukan di sebuah batu karang yang lebar dan besar yang rata berbentuk seperti meja (balai) sehingga kemudian muncul nama Desa Karangbale.
Namun, perang masih sering berlangsung dan menelan banyak korban. Untuk itu di sekitar sungai Pemali di daerah Pasanggrahan Brebes kota ada sebuah desa yang bernama Desa Terlaya. Nama Terlaya sesungguhnya berasal dari bahasa Jawa kuno (sansekerta) yaitu Pralaya yang berarti mati. Desa itu sesungguhnya lahir untuk mengingatkan kematian para prajurit Pakuwon Timur yang mati saat menyerang Pakuwon Barat di sekitar Desa Pasanggrahan. Nama Pasanggrahan sendiri merupakan bahasa Jawa yang bermakna tempat peristirahatan. Ketika siang para prajurit berperang dan malam hari mereka beristirahat dan tempat peristirahatan itu kemudian dijadikan nama Desa yaitu Desa Pesanggrahan.
Di daerah Bumiayu sendiri ada sebuah nama hutan yang dulu menjadi tempat pembuangan sekaligus tempat bersemedi Dewi Sri Poaci Naganingrum dan hutan itu tertutup atau terlarang bagi sembarang orang untuk memasukinya. Riwayat itu terkait erat dengan kisah Dewi Sri Poaci Naganingrum yang waktu itu hendak dibunuh oleh Prabu Silihwangi II (ayah Raden Arya Bangah) karena difitnah Dewi Pangrenyep dengan mengatakan Dewi Sri Poaci Naganingrum telah melahirkan anak anjing. Ternyata oleh sang algojo ia ditipkan kepada seorang petani dan selanjutnya bertapa di hutan yang terlarang dimasuki oleh sembarang orang. Dari situ muncullah nama hutan larangan dan wilayah hutan itu sangat luas hingga berada di tepian sungai pemali bagian selatan melawati perbukitan gunung kumbang. Hutan ini berada di wilayah Bumiayu; Bumiayu berasal dari suatu wilayah (bumi) dimana ada seorang putri cantik (jawa; ayu) yaitu Dewi Sri Poaci Naganingrum yang pernah tinggal di daerah tersebut sehingga muncul nama Desa Bumiayu.
Telah diikisahkan pula di atas bahwa sungai Pemali itulah yang memisahkan dan menjadi pembatas wilayah antara Kerajaan Pakuwon Barat dan Pakuwon Timur. Sungai Pemali menjadi pembatas (jawa; pepalih) yang berarti menjadi pantangan sekaligus larangan pada siapa saja warga Pakuwon Timur agar tidak menyeberangi sungai untuk menyerang atau ingin berbuat jahat pada Pakuwon Barat. Dari peristiwa itulah kemudian muncul nama Desa Larangan.
Ketika terjadi pertarungan yang sangat dasyat antara jago milik Ciung Wanara, Abang Prenatas dengan jago milik Raden Arya Bangah, Liring Galih diceritakan bahwa ketika jago-jago mereka itu selesai bertarung jago mereka dimandikan untuk menghapus luka dan noda darah di sebuah sumur di sekitar hutan Larangan yang banyak ditumbuhi pula oleh rotan (jawa ; kayu penjalin). Jago-jago mereka kemudian ditenggerkan di antara rumpun sulur rotan-rotan yang menggelantung di sekitar sumur. Tempat memandikan dan menenggerkan (menaruh jago) untuk dimandikan itu kemudian menjadi nama Desa Penjalinbanyu (gabungan kata rotan dan air). Ketika memandikan jago, air yang diambil dari sumur itu ditempatkan di sebuah kandaga (guci atau gentong yang terbuat dari tembaga) dan kemudian hal itu dikisahkan yang memunculkan nama Desa Kendaga.
Kabupaten Brebes merupakan wilayah perbatasan antara Provinsi Jawa Tengah dan Jawa Barat. Sebelah barat berbatasan dengan Kabupaten Cirebon, sebelah timur berbatasan dengan Kabupaten Tegal, sebelah selatan berbatasan dengan Kabupaten Cilacap sedangkan sebelah utara berbatasan dengan Laut Jawa. Kabupaten Brebes resmi berdiri pada hari Senin Kliwon 18 Januari 1678 dengan Bupati pertamanya bernama Raden Arya Suryalaya.
Bagaimana dengan nama Brebes itu sendiri? Nama Brebes diperkirakan ada hubungannya dengan nama Gunung Beribis yang berada di daerah selatan hutan Larangan. Dari gunung Beribis itulah dikisahkan mengalir sebuah sungai yang bernama Sungai Beribis dan bermuara ke Laut Jawa. Sungai Beribis itu kemudian lebih dikenal dengan nama Sungai Pemali. Nama Beribis kemudian banyak diucapkan bèrébés sehingga kemudian menjadi brebes. Dengan demikian, nama Brebes merupakan penyesuaian pelafalan atau pengucapan nama Gunung Beribis dan Sungai Beribis yang menjadi sumber kehidupan masyarakan Bumi Pakuwon yang agraris (hidup dari pertanian) saat itu.
Ada kisah lain yang menyebutkan jika nama Brebes lahir dari pemahaman masyarakat mengenai kondisi alam yang saat itu berupa hamparan tanah yang sangat luas yang selalu basah karena digenangi oleh air. Sangat wajar apabila hamparan tanah yang sangat luas itu merupakan endapan dari luapan Sungai Pemali sehingga membentuk seperti rawa-rawa. Tanah luas juga ada yang menyebutnya dengan istilah bara dan banyaknya air yang membuat tanah meyerap air (jawa; merembès) sehingga menjadi basah kemudian berubah karena penyesuaian pengucapan dari bara merembès ¬menjadi bèrébés kemudian berubah menjadi bribes yang berarti tanah luas yang selalu basah.