Minggu, 25 Mei 2014

MEMBACA UNTUK MEMAHAMI MAKNA KATA, BENTUK KATA DAN UNGKAPAN



MEMBACA UNTUK MEMAHAMI MAKNA KATA, BENTUK KATA, DAN UNGKAPAN

A.     Klasifikasi Kata Berdasarkan Kelas Kata
       Kata merupakan unsur yang sangat penting dalam membangun suatu kalimat. Setiap kata mempunyai fungsi dan peranan yang berbeda sesuai dengan kelas kata atau jenis kata. Secara umum kelas kata terdiri atas 7 macam, yaitu:
1)   kata kerja (verba)

2)   kata sifat (adjektiva )

3)   kata keterangan (adverbia)

4)   kata benda (nomina)

5)   kata ganti (pronomina)

6)   kata bilangan (numeralia)

7)   kata tugas (preposisi, konjungsi, artikula, interjeksi, partikel)

1.   Kata Kerja (Verba)
       Kata kerja ialah kata yang menyatakan perbuatan atau tindakan. Kata

kerja biasanya berfungsi sebagai predikat. Suatu kata dapat digolongkan ke dalam kelas kata kerja apabila memenuhi persyaratan berikut.

a.   Dapat diikuti gabungan kata (frasa) dengan + kata sifat

Contoh: pergi (pergi dengan gembira), tidur (tidur dengan nyenyak)

b.   Dapat diberi aspek waktu, seperti akan, sedang, dan telah.

Contoh: (akan) pergi, (sedang) tidur, (telah) pergi

c.   Dapat diingkari dengan kata tidak.

Contoh: (tidak) pergi, (tidak) tidur

d.   Berawalan me- dan ber-

Contoh: melatih, merakit, berpikir, berusaha

2.   Kata Sifat (Adjektiva)
       Kata sifat ialah kata yang dipakai untuk mengungkapkan sifat atau keadaan sesuatu, misalnya keadaan orang, binatang, benda. Kata sifat berfungsi sebagai predikat.Suatu kata dapat digolongkan ke dalam kelas kata sifat apabilamemenuhi persyaratan berikut.

a.   Dapat diawali dengan kata sangat, paling dan diakhiri dengan kata sekali.

Contoh: indah (sangat indah/paling indah/indah sekali), baik (sangat baik/paling baik/baik sekali)

b.   Dapat diberi awalan se- dan ter-.

Contoh: luas (seluas/terluas), mudah (semudah/termudah)

c.   Dapat diingkari dengan kata tidak.

Contoh: (tidak) murah, (tidak) luas, (tidak) sulit

3.   Kata Keterangan (Adverbia)
       Kata keterangan atau adverbia adalah kata yang memberi keterangan pada verba, adjektiva, nomina predikatif, atau kalimat. Jenis-jenis keterangan :
No
Jenis Keterangan
Preposisi/ Konjungsi
Contoh
1
Tempat
di
ke
dari
(di) dalam
pada
di kamar, di kota
ke Mekah, ke rumahnya
dari Bandung, dari sawah
(di) dalam rumah, dalam laci
pada saya, pada permukaan
2
waktu
-
pada
dalam
se-
sebelum
sesudah
selama
sepanjang
sekarang, kemarin, besok
pada pukul 5, pada hari ini
dalam minggu ini, dalam dua hari
setiba di rumah, sepulang dari sekolah
sebelum mandi, sebelum pukul 3
sesudah makan, sesudah belajar
selama dua hari, selama bekerja
sepanjang tahun, sepanjang hari
3
Alat
dengan
dengan (memakai) sandal, dengan mobil
4
Tujuan
agar/supaya
untuk
bagi
demi
agar /supaya pintar
untuk kemenangan
bagi masa depan
demi kekasihnya
5
Cara
dengan
secara
dengan cara
dengan jalan
dengan diam-diam
secara perlahan
dengan cara damai
dengan jalan berunding
6
Penyerta
dengan
bersama
beserta
dengan sahabatnya
bersama orang tua
beserta adiknya
7
Perbandingan
seperti
bagaikan
laksana
seperti bidadari
bagaikan malaikat
laksana bintang
8
Sebab
karena
sebab
karena perempuan itu
sebab kecerdikannya
9
Jumlah
-
banyak, kurang, cukup, sedikit

4.   Kata Benda (Nomina)
       Kata benda ialah kata yang mengacu pada benda, orang, konsep, ataupun pengertian yang berfungsi sebagai objek dan subjek. Suatu kata dapat digolongkan ke dalam kelas kata benda apabila memenuhi persyaratan berikut.

a.   Dapat diikuti oleh frasa yang + sangat.

Contoh: mobil (mobil yang bagus/mobil yang sangat bagus)

b.   Berimbuhan pe-, -an, pe + an, per + an, ke + an.

Contoh: pemain, mainan, pekerjaan, pertunjukan, kesehatan

c.   Dapat diingkari dengan kata bukan.

Contoh: saya (bukan saya), kursi (bukan kursi)

5.   Kata Ganti (Pronomina)
       Kata ganti atau pronomina adalah kata yang dipakai untuk mengacu pada nomina lain. Pronomina berfungsi untuk mengganti kata benda atau nomina. Beberapa pronomina antara lain: aku, saya, ia, dia, -nya, ini, itu, kami, kita, kamu, -mu, kalian, mereka, dll. Contoh:

a.   Aku sudah mencoba membujuknya.      c. Dia terlalu menyayangimu.

b.   Kami sangat berharap kepada kalian.   d. Itu memang miliknya.

6.   Kata Bilangan (Numeralia)
       Kata bilangan atau numeralia adalah kata yang dipakai untuk menghitung banyaknya orang, binatang, dan benda. Contoh:

a.   Ibu membeli gelas selusin. (sekodi, seikat, seunting, sebungkus, sehektar, sekilo, se- bermakna  satu)

b.   Ia mendapat peringkat pertama di kelasnya. (kedua, ketiga, awal, terakhir, dst.)

c.   Bapak Bardi memiliki dua puluh ekor kambing. (satu, dua, tiga, dst.)

d.   Sepertiga dari harta warisan itu disumbangkan ke panti asuhan. (seperempat, setengah, sebagian, separo, dll.)

7.   Kata Tugas
a.   Kata Depan (Preposisi)
       Kata depan adalah kata yang menghubungkan dua kata atau dua kalimat. Contoh: di (sebelah) utara = menunjuk arah,  ke timur = menunjuk arah,  dari pasar = menunjuk tempat, pada hari senin = menunjuk waktu.

b.   Kata Hubung (Konjungsi)
Kata sambung adalah kata yang menghubungkan dua satuan bahasa yang sederajat: kata dengan kata; frasa dengan frasa, klausa dengan klausa. Contoh :
dan, atau, tetapi, karena, lalu,

c.   Kata Sandang (Artikula)
       Kata sandang adalah kata tugas yang membatasi makna nomina. Contoh:
sang guru (sang bermakna tunggal), para pemimpin (para bermakna jamak), si cantik (si bermakna netral), sri baginda (sri bermakna yang terhormat)

d.   Kata Seru (Interjeksi)
       Kata seru adalah tugas yang digunakan untuk mengungkapkan seruan

hati. Contoh: Aduh, Astaga, Ayo,Wah, Wow, Astagfirullah, Ah, Idih, Ih, dll.

e.   Partikel
       Partikel adalah kategori atau unsur yang bertugas memulai, mempertahankan atau mengukuhkan sebuah kalimat dalam komunikasi. Unsur ini digunakan dalam kalimat tanya, perintah, dan pernyataan (berita).Contoh partikel: -lah, -kah, -tah, -deh, -dong, -kek, dan –pun.


B. Klasifikasi Kata Berdasarkan Bentuk Kata
Dari segi bentuknya, kata dapat dibedakan atas empat macam, yaitu :
1.   Kata Dasar

2.   Kata Turunan

3.   Kata Ulang

4.   Kata Majemuk

1. Kata Dasar
       Kata dasar adalah kata yang tidak berimbuhan atau yang belum diberikan awalan, akhiran, sisipan, dan penggabungan awalan akhiran. Contoh kata-kata seperti baik, getar, kerja, sakit, gunung disebut sebagai kata dasar karena kata-kata itu tidak berimbuhan atau belum diberi imbuhan. Jika kata-kata itu diberi imbuhan, hasilnya antara lain terbaik, getaran, pekerja, kesakitan, dan pegunungan. Jika sudah mengalami penambahan atau pengimbuhan, kata tersebut sudah dikategorikan ke dalam kata turunan.

2. Kata Turunan
       Sebuah kata dapat menyampaikan beberapa pengertian melalui bentukan-bentukannya. Dari satu kata pula, kita dapat membuat atau mengembangkannya menjadi beberapa kata turunan. Dari kata turunan tersebut, kita dapat mengungkapkan satu bahkan beberapa ide/perasaan. Pemekaran kata dengan memberi imbuhan itu pun akan membuat kata-kata tersebut mengalami perubahan jenis atau kelas katanya. Perhatikan tabel berikut dengan cermat.
Kata Dasar
Pelaku
Proses
Hal/Tempat
Perbuatan
Hasil
asuh
pengasuh
pengasuhan
-
mengasuh
asuhan
baca
pembaca
pembacaan
-
membaca
bacaan
bangun
pembangun
pembangunan
-
membangun
bangunan
buat
pembuat
pembuatan
perbuatan
membuat
buatan
cetak
pencetak
pencetakan
percetakan
mencetak
cetakan
edar
pengedar
pengedaran
pengedaran
mengedarkan
edaran
potong
pemotong
pemotongan
perpotongan
memotong
potongan
sapu
penyapu
penyapuan
persapuan
menyapu
sapuan
tulis
penulis
penulisan
-
menulis (kan)
tulisan
ukir
pengukir
pengukiran
-
mengukir
ukiran
impor
pengimpor
pengimporan
-
mengimpor
imporan

3. Kata Ulang (reduplikasi)
       Kata ulang adalah kata yang mengalami proses pengulangan bentuk baik seluruh kata maupun sebagian. Semua kata ulang wajib ditulis dengan memakai tanda penghubung (-). Macam-macam kata ulang antara lain:
a.   Kata ulang seluruh kata dasar
Contoh:
                   1)    anak-anak                              3) meja-meja
                   2)    buku-buku                             4) ibu-ibu

b.   Kata ulang berimbuhan
Contoh:
                   1)    berjalan-jalan                          4) bermanja-manja
                   2)    dibesar-besarkan                   5) dipukul-pukulkan
                   3)    berlari-larian                           6) menarik-narik

c.   Kata ulang berubah bunyi
Contoh:
                   1)    gerak-gerik                            6) caci-maki
                   2)    mondar-mandir                       7) compang-camping
                   3)    huru-hara                               8) terang-benderang
                   4)    bolak-balik                             9) carut-marut
                   5)    lauk-pauk                               10) compang-camping

d.   Kata ulang semu (reduplikasi zero)
Contoh:
                   1)    biri-biri                                   5) ubur-ubur
                   2)    kunang-kunang                      6) alun-alun
                   3)    kupu-kupu                             7) mata-mata
                   4)    agar-agar                               8) kura-kura

Ditiinjau dari maknanya, bentuk kata ulang dapat memiliki makna :
1.   Keragaman            : umbi-umbian, buah-buahan, sayur-sayuran
Makna                   : berbagai jenis umbi, berbagai jenis buah
2.   Kekolektifan          : bangunan-bangunan, rumah-rumah
              Makna                   : banyak bangunan, banyak rumah
3.   Kemiripan              :
a.   Rupa                : orang-orangan, kuda-kudaan, langit-langit
Makna rupa      : mirip dengan orang, mirip kuda, mirip langit
b.   Sifat                 : kekanak-kanakan, kebarat-baratan
Makna sifat      : memiliki sifat seperti anak-anak

4. Kata Majemuk (Komposisi)
       Adalah gabungan dua kata atau lebih yang memiliki satu arti.Setiap kata ditulis terpisah tanpa menggunakan ktanda hubung (-). Contoh :
a.   Rumah tahanan
b.   Kendaraan roda dua
c.   Pasukan pengawal presiden
d.   Bangunan bersejarah
e.   Senjata laras panjang
f.    Rumah sakit umum
g.   Rumah makan padang

C.  Klasifikasi Kata Berdasarkan Makna Kata
1. Makna Kata Berdasarkan Hubungan Referensial
a.   Makna denotatif
       Makna denotatif ialah makna yang paling dekat dengan bendanya (makna konseptual), atau kata yang mengandung arti sebenarnya. Contoh:
                   1)    Bunga mawar itu dipetik Sita dan disuntingkan di rambutnya.
                   2)    Penjual menawarkan barang kepada pembeli.
b.   Makna konotatif
       Makna konotatif ialah makna kiasan atau diartikan makna yang cenderung lain dengan benda nyata (makna kontekstual) disebut juga makna tambahan. Contoh :
                   1)    Ayahnya mendapat kursi sebagai anggota dewan. kursi artinya jabatan/kekuasaan
                   2)    Hatiku berbunga-bunga setelah anakku mendapat juara pertama. berbunga-bunga artinya gembira
Dalam pengertian lain makna konotasi berkaitan dengan cakupan makna halus dan cakupan makna kasar. Contoh cakupan makna halus:
1.   Neneknya sudah meninggal dua hari yang lalu.
2.   Istri Pak Dadang seorang perawat di rumah sakit pusat.
3.   Ibunya Rosita sedang hamil lima bulan.
4.   Mari kita doakan para pahlawan yang telah gugur agar arwahnya diterima oleh Allah.
Contoh cakupan makna kasar:
1.   Pamannya sudah mampus seminggu yang lalu.
2.   Kakakku sedang bunting, dia harus berhati-hati.
3.   Bininya seorang dokter.
4.   Pahlawan telah mati di medan laga.

c. Makna idiomatik (ungkapan)
       Secara umum ungkapan berarti gabungan kata yang memberi arti khusus atau kata-kata yang dipakai dengan arti lain dari arti yang sebenarnya. Ungkapan dapat juga diartikan makna leksikal yang dibangun dari beberapa kata, yang tidak dapat dijelaskan lagi lewat makna kata-kata pembentuknya. Contoh:
                   1)    ringan tangan        = rajin bekerja, suka memukul
                   2)    gerak langkah        = perbuatan
                   3)    dipeti-eskan          = dibekukan atau tidak digunakan
                   4)    tertangkap basah   = terlihat saat melakukan
                   5)    banting stir            = mengubah haluan
                   6)    jantung hati           = kekasih
       Ungkapan berfungsi menghidupkan, melancarkan serta mendorong perkembangan bahasa Indonesia supaya dapat mengimbangi perkembangan kebutuhan bahasa terhadap ilmu pengetahuan dan keindahan sehingga tidak membosankan. Tata bahasa ibarat kebun, ungkapan ibarat kembang-kembangnya.
       Dilihat dari bentuk dan prosesnya, ungkapan dapat diperinci ke dalam beberapa jenis berikut.
                   1)    Ungkapan satu kata
a.   kursi = jabatan
b.   tenggelam = tidak sadar
c.   gula-gula = simpanan
                   2)    Ungkapan dua kata
a.   mencari akal = mencari ide
b.   mengadu domba = memprovokasi, memecah belah
c.   timah panas = ditembak
                   3)    Ungkapan tiga kata
a.   diam seribu bahasa = membisu
b.   membuka pintu hati = memberi kesempatan, menyadarkan
c.   sepertiga malam terakhir = tengah malam jelang dini hari

2. Makna Kata Berdasarkan Hubungan Antarmakna
     Makna kata berdasarkan hubungan antarmakna terdiri atas sinonim, antonim, homonym, homofon, homograf, polisemi, dan hiponim.
a.   Sinonim
     Sinonim ialah pasangan kata atau kelompok kata yang mempunyai arti mirip atau hampir sama. Walaupun sinonim menunjukkan kesamaan arti kata, sesungguhnya arti kata-kata itu tidaklah sama betul. Dalam kalimat tertentu, suatu kata mungkin dapat digunakan tetapi dalam kalimat lain tidak dapat digunakan atau penggunaannya selalu dipertimbangkan oleh unsur nilai rasa atau lingkungan penuturnya (kontekstual). Contoh :
                   1)    Bung Hatta telah wafat (wafat = meninggal; bernilai rasa sopan; pantas)
                   2)    Bung Hatta telah mati (mati = meninggal; bernilai rasa kasar; tidak pantas)

b.   Antonim
     Antonim adalah kata-kata yang berlawanan maknanya/berlawanan artinya. Contoh :
                   1)    Keras lemahnya bunyi tergantung dari kuat lemahnya energi.
                   2)    Baik buruknya semua keputusan pasti ada risikonya.

c.   Homonim
       Homonim adalah dua kata atau lebih yang tulisan dan lafalnya sama tetapi maknanya berbeda. Contoh :
                   1)    Genting (makna : 1. atap rumah, 2. keadaan gawat)
                   2)    Utara (makna : 1. arah mata angin, 2. menyampaikan)
                   3)    Roman (makna : 1. raut muka, 2. jenis prosa)

d.   Homofon
       Homofon adalah dua kata atau lebih yang lafalnya sama tetapi tulisan dan maknanya berbeda. Contoh :
                   1)    Bank = lembaga penyimpanan; Bang = Panggilan akrab pria dewasa
                   2)    Sangsi = ragu; Sanksi = hukuman


e.   Homograf
       Homograf adalah dua kata atau lebih yang tulisannya sama tetapi pelafalan dan maknannya berbeda. Contoh :
                   1)    Seri = seimbang; Seri-seri = gembira
                   2)    Apel = upacara; Apel = jenis buah

f.    Polisemi
       Polisemi adalah kata yang memiliki banyak makna tetapi saling berhubungan. Contoh :
                   1)    Jatuh = jatuh hati, jatuh sakit, jatuh bangun
                   2)    Kepala = kepala sekolah, kepala surat


g.   Hipernim
       Hipernim adalah kata yang maknanya telah tercakup pada kata yang lain. Hiponim juga bermakna kata yang memiliki hubungan hierarkis dengan beberapa kata yang lain. Hubungan hierarki ini terdiri atas satu kata yang merupakan induk (hipernim), yang memiliki semua komponen makna kata lainnya yang menjadi unsur bawahannya (hiponim). Proses hiponim dan hipernim menimbulkan istilah kata umum dan kata khusus. Contoh :
                   1)    Kelapa, palem, pinang, dan enau termasuk tumbuhan palma.
                   2)    Mengintip, melirik, memandang, memperhatikan masih dikategorikan melihat.

Kata khusus
Kata umum
kelapa, palem, enau, pinang
tumbuhan palma
mengintip, melirik, memandang
melihat

h.   Hiponim
       Hiponim adalah kata yang maknanya mencakup beberapa kata yang lain. Contoh :
                   1)    Ada beberapa macam jenis unggas yakni ayam, angsa, bebek, itik, mentok.
                   2)    Yang termasuk dalam jenis logam diantaranya emas, perak, platina, baja, besi.

Kata umum
Kata khusus
unggas
ayam, angsa, bebek, itik, mentok
logam
emas, perak, platina, baja, besi

Selasa, 03 September 2013

MENYAMPAIKAN LAPORAN ATAU PRESENTASI LISAN 


A.PENGERTIAN LAPORAN 
Laporan adalah suatu cara berkomunikasi (tertulis/lisan) yang berisi informasi sebagai hasil dari sebuah tanggung jawab yang dibebankan kepada pembuatnya. Dengan kata lain, laporan merupakan bukti pertanggungjawaban penerima tugas kepada pemberi tugas atas tugas yang telah dilaksanakan. Laporan juga berarti sebuah dokumentasi yang berisi informasi (fakta-fakta) dari hasil penyelidikan suatu masalah sebagai bahan acuan pemikiran, penilaian serta tindakan. Sifat laporan berhubungan secara struktural atau kedinasan antara pihak yang mendapat tugas dan pihak yang memberi tugas. Laporan lebih banyak disampaikan dalam bentuk tertulis dan juga bisa disampaikan secara lisan. 

 B. MANFAAT LAPORAN 
  1. Alat pertanggungjawaban secara tertulis. 
  2. Pendokumentasian data. 
  3. Bahan pertimbangan dan acuan dalam mengambil keputusan. 
  4. Alat merumuskan suatu penilaian/evaluasi. 
  5. Bahan penilaian/evaluasi terhadap pekerjaan. 
  6. Melatih berpikir dan bekerja sistematis/berurutan dan terarah. 

C. CIRI-CIRI LAPORAN 
Suatu laporan yang baik harus memenuhi mutu berikut ini: 
  1. Cermat 
  2. Tepat waktu 
  3. Memadai 
  4. Jelas 
  5. Sederhana 

Jika mutu tersebut terpenuhi, laporan yang baik (berbentuk tulisan maupun lisan) akan menunjukkan ciri-ciri atau kriteria dilihat dari tiga hal berikut : 
  1. Isi laporan mencakup kelengkapan fakta, data yang akurat, faktual, dan objektif. 
  2. Penyajian mencakup penggunaan bahasa yang baik, jelas dan tepat, sistematik serta menarik 
  3. Penyajian lisan harus disampaikan dengan vokal yang jelas, pengucapan, lafal, intonasi yang tepat dan gaya ekspresif yang sesuai. 

Penyajian secara tertulis memperhatikan sistematika penulisan yang sesuai jenis laporan. 

 D. JENIS LAPORAN 
1. Berdasarkan Bentuknya 
  • Laporan berbentuk formulir; berupa blangko dan kita tinggal mengisi 
  • Laporan berbentuk memorandum/memo; berupa perintah yang diuraikan singkat, dibuat untuk orang-orang dalam satu instansi. 
  • Laporan berbentuk surat; berupa lembar kerja yang melaporkan berbagai topik. 
  • Laporan berbentuk naskah; berupa makalah; terdiri dari beberapa topik dan subtopik. 
  • Laporan berbentuk buku, disusun dalam bentuk buku seperti skripsi, tesis, dan disertasi. 

2. Berdasarkan Cara Penyampaiannya 
a. Laporan Formal 
Yaitu laporan yang struktur penulisannya lengkap; meliputi : 
  1. halaman judul 
  2. halaman pengesahan 
  3. kata pengantar 
  4. daftar isi 
  5. daftar tabel (jika ada) 
  6. daftar grafik (jika ada) 
  7. pendahuluan, berisi latar belakang, tujuan, manfaat, ruang lingkup masalah/objek, pembatasan masalah/objek. 
  8. bagian isi, berisi uraian pembahasan tentang masalah atau objek yang dilaporkan serta hasil yang dicapai 
  9. simpulan dan saran, berisi hal-hal pokok atau intisari dari pembahasan laporan serta penyampaian keinginan pelapor terhadap hal-hal yang berkaitan dengan laporan yang belum atau seharusnya ada. 

Laporan formal sangat terikat oleh struktur penulisan. Contoh laporan formal ialah laporan tentang keadaan dan perkembangan proyek yang sedang dilaksanakan, laporan penelitian ilmiah, dan laporan percobaan. 

b. Laporan Nonformal 
Yaitu laporan yang struktur penulisannya sederhana; memiliki sistematika penulisan sendiri/tidak bersifat standar. Jenis laporan nonformal meliputi : 
  1. Laporan Perjalanan 
  2. Laporan Pengamatan/Observasi 
  3. Laporan Praktikum/Penyelidikan/Eksperimen 
  4. Laporan Studi Literatur 




E. POLA PENYAJIAN LAPORAN 
Sebelum menyajikan laporan secara lisan, laporan dapat disusun terlebih dahulu secara tertulis. Laporan yang sudah disusun dapat disampaikan secara lisan atau dipresentasikan. Untuk menyampaikan laporan secara lisan, hal-hal yang perlu diperhatikan, yaitu seperti berikut : 
  1. Memberi tahu jenis laporan yang akan disampaikan. 
  2. Menyampaikan pengantar sekilas tentang latar belakang pembuatan laporan 
  3. Menyampaikan proses memperoleh bahan laporan 
  4. Memberikan gambaran secara umum tentang sistematika laporan 
  5. Menyampaikan isi laporan dengan bahasa yang baik, formal, dan efektif 
  6. Memberikan penekanan pada uraian mengenai fakta jika berbentuk laporan naratif dan deskriptif 
  7. Memberikan penekanan pada alur proses atau tahapan jika laporan berbentuk ekspositoris 

Bentuk uraian laporan dapat disajikan dengan pola penyajian narasi, deskripsi, ekspositoris, argumentatif dan persuasif. 
1. Pola penyajian laporan bersifat narasi 
Laporan ini lebih menekankan uraian secara kronologis, yaitu berdasarkan rangkaian waktu. Isi laporan bersifat penceritaan atau pemaparan peristiwa tentang objek yang dilaporkan. Yang termasuk laporan ini misalnya, laporan perjalanan, laporan peliputan peristiwa, dan laporan berita (reportase). Laporan ini bersifat pengungkapan fakta pada sebuah peristiwa atau keadaan. Oleh sebab itu, laporan ini dituntut harus faktual (berdasarkan yang ada), aktual berkaitan realita dengan kejadian yang baru terjadi, akurat berdasarkan bukti -bukti yang dapat dipertanggungjawabkan dan objektif (apa adanya). Sebagaimana sebuah berita, pengungkapan informasinya bermuatan 5 W + I H (what: apa, who: siapa, where: dimana, when: kapan, why: mengapa dan how: bagaimana). 

2. Pola penyajian laporan bersifat deskripsi. 
 Laporan ini lebih terfokus pada penggambaran mengenai lokasi, tempat, dan bentuk fisik serta ciri-ciri objek yang dilaporkan. Yang termasuk laporan deskripsi ialah laporan pengamatan, laporan kunjungan, laporan observasi, dan sebagainya. 

3. Pola penyajian laporan bersifat ekspositoris. 
Laporan ini berupa uraian yang berisi langkah-langkah kerja, proses kejadian, atau pemaparan mengenai tahapantahapan perkembangan objek yang dilaporkan. Yang termasuk laporan bersifat ekspositoris adalah laporan penelitian, laporan percobaan, laporan pertanggungjawaban uraian pekerjaan yang menggunakan tahapan, dan sebagainya. 

4. Pola penyajian laporan bersifat argumentatif 
Laporan ini berupa penyampaian pendapat/opini yang disertai alasan/argumen untuk membuktikan suatu kebenaran sehingga pembaca meyakininya. Contohnya opini pembaca di surat kabar, artikel surat kabar, dll. 

5. Pola penyajian laporan bersifat persuasif 
Laporan ini berupa pernyataan-pernyataan yang bertujuan mempengaruhi, mengajak, atau memprovokasi pembaca untuk mengikuti apa yang disampaikan oleh pembicara. Contoh laporan persuasif adalah laporan berupa penjualan barang/jasa, laporan pelaksanaan kegiatan, dll.

Senin, 06 Agustus 2012

SUKSESKAN DIRI ANDA!!! (???)

     Sebagian besar bahkan semua orang pasti ingin meraih kesuksesan dalam hidupnya. Tingkat kesuksesan itu relatif bagi setiap orang. Apa sih orang sukses itu? Sebenarnya orang yang sukses adalah orang yang mampu menyukseskan dirinya dan mampu menyukseskan orang lain. Segala potensi dan kompetensi diri yang kita miliki (ilmu, harta, tenaga, dan pikiran) harus mampu membangkitkan dan memberikan motivasi bagi diri dan orang lain.
     Tidak seorang pun yang akan menolak kesuksesan tetapi tidak sedikit orang yang belum tahu bahkan tidak tahu cara mengoptimalkan setiap potensi dan kompetensi dirinya untuk dapat mencapai kesuksesan. Sesungguhnya ada berbagai cara untuk dapat meraih kesuskesan yang hakiki. Untuk mencapai kesuksesan yang hakiki sudah pasti memerlukan proses dan perlu menempuh jalan panjang. Namun, ada rumus sederhana agar setiap potensi diri kita mampu menjadi alat penunjang dalam meraih kesuksesan. Caranya adalah dengan mengaplikasikan dan mengimplementasikan rumus 7 B. Jika setiap tahapan dan proses menuju kesuksesan itu dilaksanakan dengan baik maka kesuksesan sudah menjadi ,ilik kita.
     Kita awali dengan B yang pertama yaitu beribadah dengan benar sesuai dengan keyakinan yang dianut. Jika seseorang benar dalam beribadah, selalu melakukan kebaikan dan menjauhi segala perbuatan yang dilarang dan bertentangan dengan norma agama maka maka jalan kesuksesan akan terbuka.  
     B yang kedua yaitu bertingkah laku yang baik. Artinya, dalam berinteraksi dengan orang lain senantiasa menerapkan pola 3 S yaitu senyum, salam, dan sapa.
      B yang ketiga yaitu belajar tiada henti. Setiap hari problematika hidup terus tumbuh seiring dengan perkembangan dan pertumbuhan manusia. Bagaimana manusia mampu mengatasi dan menyelesaikan masalahnya jika ilmunya masih seadanya. Oleh karena itu, manusia harus selalu meningkatkan kualitas dirinya dengan terus belajar. Orang yang merindukan dan mendamba kesuksesan maka dia akan mencintai ilmu dan terus belajar.
     B yang keempat yaitu bekerja keras dengan cerdas dan ikhlas. Banyak orang yang bekerja dengan keras untuk mencapai kesuksesan tetapi dia kurang mengoptimalkan akal dan hatinya dalam bekerja sehingga hidupnya pun selalu keras.  
     B yang kelima adalah bersahaja dalam hidup. Mungkin Anda ingat dengan pepatah “hemat pangkal kaya” untuk meraih kesuksesan maka seseorang harus mampu mengelola hidupnya. Mampu memanajemen waktunya dengan budaya disiplin, mampu mengelola keuangan dengan menerapkan budaya hidup sederhana dan berhemat.
     B yang keenam adalah Bantu sesama. Membantu tidak berarti dengan uang atau harta benda tetapi juga bisa dalam bentuk tenaga dan pikiran. Kita bisa membantu dengan memotivasi teman yang membutuhkan saran kita (curhat), menolong anak kecil yang jatuh dari sepedanya, dan lain-lainnya.  
      B yang ketujuh adalah bersihkan hati. Penyakit hati yang dibiarkan tumbuh dalam diri kita akan menghambat kemajuan kita dalam meraih kesuksesan. Rasa malas, cepat puas, penunda, takut risiko, tidak berdisiplin dalam waktu, santai, tidak mau lelah, merendahkan orang lain dan sombong adalah beberapa jenis penyakit hati yang menjadi batu penghalang kita dalam menempuh jalan menuju kesuksesan.
Semoga kita mampu menaiki setiap anak tangga menuju puncak kesuksesan yang kita cita-citakan. Amin Allohumma Amin.

Rabu, 25 Juli 2012

SENI TEATER INDONESIA


Seni Pertunjukan Indonesia
A.   SEJARAH TEATER
          Di antaranya teori tentang asal mula teater adalah sebagai berikut.
1.    Berasal dari upacara agama primitif. Unsur cerita ditambahkan pada upacara semacam itu yang akhirnya berkembang menjadi pertunjukan teater. Meskipun upacara agama telah lama ditinggalkan  tapi teater ini hidup terus hingga sekarang.
2.    Berasal dari nyanyian untuk menghormati seorang pahlawan di kuburannya. Dalam acara ini seseorang mengisahkan riwayat hidup sang pahlawan yang lama kelamaan diperagakan dalam bentuk teater.
3.    Berasal dari kegemaran manusia mendengarkan cerita. Cerita itu kemudian juga dibuat dalam bentuk teater
          The Theatre berasal dari kata Yunani Kuno, Theatron yang berarti seeing place atau tempat menyaksikan atau tempat dimana aktor mementaskan lakon dan orang-orang menontonnya. Sedangkan istilah teater atau dalam bahasa Inggrisnya theatre mengacu kepada aktivitas melakukan kegiatan dalam seni pertunjukan, kelompok yang melakukan kegiatan itu dan seni pertunjukan itu sendiri. teater selalu dikaitkan dengan kata drama yang berasal dari kata Yunani Kuno, Draomai yang berarti bertindak atau berbuat. Kata drama juga dianggap telah ada sejak era Mesir Kuno (4000-1580 SM), sebelum era Yunani Kuno (800-277 SM). Hubungan kata teater dan drama bersandingan sedemikian erat seiring dengan perlakuan terhadap teater yang mempergunakan drama ’lebih identik sebagai teks atau naskah atau lakon atau karya sastra.
          Dari penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa istilah “teater” berkaitan langsung dengan pertunjukan, sedangkan “drama” berkaitan dengan lakon atau naskah cerita yang akan dipentaskan. Jadi, teater adalah visualisasi dari drama atau drama yang dipentaskan di atas panggung dan disaksikan oleh penonton. Jika “drama” adalah lakon dan “teater” adalah pertunjukan maka “drama” merupakan bagian atau salah satu unsur dari “teater”. 

      Di Indonesia, pada tahun 1920-an, belum muncul istilah teater. Yang ada adalah sandiwara atau tonil (dari bahasa Belanda: Het Toneel). Istilah Sandiwara konon dikemukakan oleh Sri Paduka Mangkunegoro VII dari Surakarta. Kata sandiwara berasal dari bahasa Jawa “sandi” berarti “rahasia”, dan “wara” atau “warah” yang berarti, “pengajaran”
       Menurut Ki Hajar Dewantara “sandiwara” berarti “pengajaran yang dilakukan dengan perlambang” (Harymawan, 1993). Rombongan teater pada masa itu menggunakan nama Sandiwara, sedangkan cerita yang disajikan dinamakan drama. Sampai pada Zaman Jepang dan permulaan Zaman Kemerdekaan, istilah sandiwara masih sangat populer. Istilah teater bagi masyarakat Indonesia baru dikenal setelah Zaman Kemerdekaan (Kasim Achmad, 2006).
          Terlepas dari sejarah dan asal kata yang melatarbelakanginya, seni teater merupakan suatu karya seni yang rumit dan kompleks, sehingga sering disebut dengan collective art atau synthetic art artinya teater merupakan sintesa dari berbagai disiplin seni yang melibatkan berbagai macam keahlian dan keterampilan. Seni teater menggabungkan unsur-unsur audio, visual, dan kinestetik (gerak) yang meliputi bunyi, suara, musik, gerak serta seni rupa. Seni teater merupakan suatu kesatuan seni yang diciptakan oleh penulis lakon,  sutradara, pemain (pemeran), penata artistik, pekerja teknik, dan diproduksi oleh sekelompok orang produksi. Sebagai seni kolektif, seni teater dilakukan bersama-sama yang mengharuskan semuanya sejalan dan seirama serta perlu harmonisasi dari keseluruhan tim.


B.   DEFINISI TEATER
        Teater berasal dari kata Yunani, theatron” (bahasa Inggris, Seeing Place) yang artinya tempat atau gedung pertunjukan. Dalam perkembangannya, dalam pengertian lebih luas kata teater diartikan sebagai segala hal yang dipertunjukkan di depan orang banyak. Dapat disimpulkan teater adalah pertunjukan lakon yang dimainkan di atas pentas dan disaksikan oleh penonton.
        Keterikatan antara teater dan drama sangat kuat. Teater tidak mungkin dipentaskan tanpa lakon (drama). Artinya, sebelum sebuah teater dapat ditampilkan perlu diawalai denganan adanya seni atau tekhnik penulisan drama (naskah) yang penyajiannya dalam bentuk teater. Seni atau teknik ini dikenal dengan istilah dramaturgi. Dramaturgi merupakan kegiatan membahas proses penciptaan teater mulai dari penulisan naskah hingga pementasannya.
       Ada formula atau tahapan dasar untuk mempelajari dramaturgi. Tahapan ini dikenal dengan formula 4 M yaitu menghayal, menulis, memainkan dan menyaksikan. Penjelasannya adalah sebagai berikut :
      M1 atau menghayal, dapat dilakukan oleh seseorang atau sekelompok orang karena menemukan sesuatu gagasan yang merangsang daya cipta. Gagasan itu timbul karena perhatian ditujukan pada suatu persitiwa baik yang disaksikan, didengar maupun dibaca dari literatur tertentu.
      M2 atau menulis, adalah proses seleksi atau pemilihan situasi yang harus dihidupkan begi keseluruhan lakon oleh pengarang. Dalam sebuah lakon, situasi merupakan kunci aksi. Setelah menemukan kunci aksi ini, pengarang mulai mengatur dan menyusun kembali situasi dan peristiwa menjadi pola lakon tertentu. Di sini seorang pengarang memiliki kisah untuk diceritakan, kesan untuk digambarkan, suasana hati para tokoh untuk diciptakan, dan semua unsur pembentuk lakon untuk dikomunikasikan.
      M3 atau memainkan, merupakan proses para aktor memainkan kisah lakon di atas pentas. Tugas actor dalam hal ini adalah mengkomunikasikan ide serta gagasan pengarang secara hidup kepada penonton. Proses ini melibatkan banyak orang yaitu, sutradara sebagai penafsir pertama ide dan gagasan pengarang, aktor sebagai komunitakor, penata artsitik sebagaiyang mewujudkan ide dan gagasan secara visual serta penonton sebagai komunikan orang .
      M4 atau menyaksikan, merupakan proses penerimaan dan penyerapan informasi atau pesan yang disajikan oleh para pemain di atas pentas oleh para penonton. Pementasan teater dapat dikatakan berhasil jika pesan yang hendak disampaikan dapat diterima dengan baik oleh penonton. Penonton pergi menyaksikan pertunjukan dengan maksud pertama untuk memperoleh kepuasan atas kebutuhan dan keinginannya terhadap tontonan tersebut.



C.  TEATER INDONESIA
1.    Teater Tradisional Indonesia
       Teater tradisional merupakan bagian dari suatu upacara keagamaan ataupun upacara adat-istiadat dalam tata cara kehidupan masyarakat Indonesia. Setelah melepaskan diri dari kaitan dengan upacara, unsur-unsur teater berkembang menjadi seni pertunjukan rakyat. Beberapa seni pertunjukan rakyat yang tergolong teater adalah :



a.    Wayang (Kulit/Orang)
       Wayang Kulit merupakan suatu bentuk teater tradisional yang sangat tua. Pada Prasasti Balitung dengan tahun 907 Masehi diketahui bahwa pada saat itu telah dikenal adanya pertunjukan wayang. Petunjuk lain, dalam sebuah kakawin Arjunawiwaha karya Mpu Kanwa, pada Zaman Raja Airlangga dalam abad ke-11.
       Awal mula adanya wayang, yaitu saat Prabu Jayabaya bertakhta di Mamonang pada tahun 930. Sang Prabu ingin mengabadikan wajah para leluhurnya dalam bentuk gambar yang kemudian dinamakan Wayang Purwa. Dalam gambaran itu diinginkan wajah para dewa dan manusia Zaman Purba. Pada mulanya hanya digambar di dalam rontal (daun tal). Orang sering menyebutnya daun lontar. Kemudian berkembang menjadi wayang kulit sebagaimana dikenal sekarang.
       Wayang Orang adalah bentuk teater tradisional Jawa yang berasal dari Wayang Kulit yang dipertunjukan dalam bentuk berbeda: dimainkan oleh orang, lengkap dengan menari dan menyanyi, seperti pada umumnya teater tradisional dan tidak memakai topeng. Pertunjukan wayang orang terdapat di Jawa Tengah dan Jawa Timur. Sedangkan di Jawa Barat ada juga pertunjukan wayang orang (terutama di Cirebon) tetapi tidak begitu populer.

LONGSER
      b.    Longser
       Ada pendapat yang mengatakan bahwa longser berasal dari kata melong (melihat) dan seredet (tergugah). Artinya barang siapa melihat menonton) pertunjukan, hatinya akan tergugah. Pertunjukan longer sama dengan pertunjukan kesenian rakyat yang terdapat di Jawa Barat, termasuk kelompok etnik Sunda. Ada beberapa jenis teater rakyat di daerah etnik Sunda serupa dengan longser, yaitu banjet. Ada lagi di daerah (terutama, di Banten), yang dinamakan ubrug, doger, dan lengger.

c.    Ketoprak
KETOPRAK
       Paling populer, terutama di daerah Yogyakarta dan daerah Jawa Tengah dan Jawa Timur. Pada mulanya ketoprak merupakan permainan orang-orang desa yang sedang menghibur diri dengan menabuh lesung pada waktu bulan purnama, yang disebut gejogan. Ketoprak merupakan salah satu bentuk teater rakyat yang sangat memperhatikan bahasa yang digunakan. Bahasa sangat memperoleh perhatian, meskipun yang digunakan bahasa Jawa, namun harus memperhatikan penggunaan tingkat-tingkat (unggah-ungguh) bahasa, tetapi juga kehalusan bahasa.

LUDRUK
   d.    Ludruk
       Ludruk merupakan teater tradisionaldi daerah Jawa Timur, berasal dari daerah Jombang. Bahasa yang digunakan adalah bahasa Jawa dengan dialek Jawa Timuran. Pemain ludruk semuanya adalah pria. Untuk peran wanitapun dimainkan oleh pria. Hal ini merupakan ciri khusus ludruk. Padahal sebenarnya hampir seluruh teater rakyat di berbagai tempat, pemainnya selalu pria (randai, dulmuluk, mamanda, ketoprak), karena pada zaman itu wanita tidak diperkenankan muncul di depan umum.

MAKYONG
e.    Makyong
       Suatu jenis teater tradisional yang paling tua dan terdapat di pulau Mantang, salah satu pulau di daerah Riau. Dimainkan dengan menggunakan media ungkap tarian, nyanyian, laku, dan dialog dengan membawa cerita-cerita rakyat yang sangat populer di daerahnya. Cerita-cerita rakyat tersebut bersumber pada sastra lisan Melayu.

RANDAI
   f.      Randai
       Merupakan suatu bentuk teater tradisional yang bersifat kerakyatan yang terdapat di daerah Minangkabau, Sumatera Barat. Randai bertolak dari sastra lisan yang disebut “kaba” (dapat diartikan sebagai cerita). Bakaba artinya bercerita. Ada dua unsur pokok yang menjadi dasar Randai, yaitu unsur penceritaan dan unsur laku serta gerak/tari (dasar silat Minangkabau).


g. Lenong
 Lenong merupakan teater rakyat Betawi. Pemakaian kata daerah “Betawi”, dan bukan Jakarta, menunjukan bahwa yang dibicarakan adalah teater masa lampau. Pada saat itu, di Jakarta, yang masih bernama Betawi (orang Belanda menyebutnya: Batavia) terdapat empat jenis teater tradisional yang disebut topeng Betawi, lenong, topeng blantek, dan jipeng atau jinong. Pada kenyataannya keempat teater rakyat tersebut banyak persamaannya. Perbedaan umumnya hanya pada cerita yang dihidangkan dan musik pengiringnya.

h.    Ubrug
       Ubrug merupakan teater tradisional bersifat kerakyatan yang terdapat di daerah Banten. Ubrug menggunakan bahasa daerah Sunda, campur Jawa dan Melayu, serupa dengan topeng banjet yang terdapat di daerah Karawang. Ubrug dapat dipentaskan di mana saja, seperti halnya teater rakyat lainnya. Dipentaskan bukan saja untuk hiburan, tetapi juga untuk memeriahkan suatu “hajatan”, atau meramaikan suatu “perayaan”. Gaya penyajian cerita umumnya dilakukan seperti pada teater rakyat, menggunakan gaya humor (banyolan), dan sangat karikatural sehingga selalu mencuri perhatian para penonton.

Coming Soon :

2.    Teater Modern Indonesia
a.    Teater Transisi
b.    Teater Indonesia Tahun 1920-an
c.    Teater Indonesia Tahun 1940-an
d.    Teater Indonesia Tahun 1950-an
e.    Teater Indonesia Tahun 1970-an
f.      Teater Indonesia Tahun 1980 s.d. 1990-an
g.    Teater Indonesia Kontemporer


Kamis, 10 Mei 2012

KAPA NARKOBA SMK MUHAMMADIYAH LARANGAN BREBES

    DRUG IS  TICKET TO THE HELL
      Narkoba (singkatan dari Narkotika, Psikotropika dan Bahan Adiktif berbahaya lainnya) adalah bahan/zat yang jika dimasukan dalam tubuh manusia, baik secara oral/diminum, dihirup, maupun disuntikan, dapat mengubah pikiran, suasana hati atau perasaan, dan perilaku seseorang. Narkoba dapat menimbulkan ketergantungan (adiksi) fisik dan psikologis. 
      Saat ini penyalahgunaan narkoba di Indonesia sudah sangat merajalela. Hal ini terlihat dengan makin banyaknya pengguna narkoba dari semua kalangan dan peredaran narkoba yang terus meningkat. Namun yang lebih memperihatinkan, penyalahgunaan narkoba saat ini justru banyak dari kalangan remaja dan anak muda, yaitu para pelajar dan mahasiswa. Padahal mereka merupakan generasi penerus bangsa yang nantinya akan menjadi pemimpin-peminpin dinegeri tercinta ini. Apa jadinya negara ini dimasa yang akan datang, dengan tantangan yang semakin berat dan persaingan yang begitu ketat, apabila generasi penerusnya saat ini sudah merusak dirinya sendiri dengan menggunakan narkoba.
      Institusi pendidikan merupakan salah satu pihak yang berkewajiban dan bertanggung jawab dalam upaya pencegahan penyalahgunaan narkoba dikalangan pelajar dan mahasiswa. Karena pelajar dan mahasiswa merupakan objek yang secara emosional masih labil, sehingga sangat rentan untuk menggunakan narkoba. Mulai dari rasa ingin tahu, mau coba-coba, ikut-ikutan teman, rasa solidaritas group yang kuat dan memilih lingkungan yang salah sampai dengan faktor keluarga yang kurang perhatian dan lain-lain. 
      Disamping dari objek sasarannya yang labil, sekolah dan kampus yang menjadi tempat yang rentan untuk peredaran narkoba. Penyalahgunaan Narkoba Kebanyakan zat dalam narkoba sebenarnya digunakan untuk pengobatan dan penefitian. Tetapi karena berbagai alasan - mulai dari keinginan untuk coba-coba, ikut trend/gaya, lambang status sosial, ingin melupakan persoalan, dll. - maka narkoba kemudian disalahgunakan. Penggunaan terus menerus dan berianjut akan menyebabkan ketergantungan atau dependensi, disebut juga kecanduan. 
      Tingkatan penyalahgunaan biasanya sebagai berikut: 
  1. Coba-coba 
  2. Senang-senang 
  3. Menggunakan pada saat atau keadaan tertentu 
  4. Penyalahgunaan 
  5. Ketergantungan 
      
      Dampak penyalahgunaan narkoba pada seseorang sangat tergantung pada jenis narkoba yang dipakai, kepribadian pemakai dan situasi atau kondisi pemakai. Secara umum, dampak kecanduan narkoba dapat terlihat pada fisik, psikis maupun sosial seseorang.
  
DRUG NO!!!!! HUGS YES

Dampak Fisik: 
  1. Gangguan pada system syaraf (neurologis) seperti: kejang-kejang, halusinasi, gangguan kesadaran, kerusakan syaraf tepi 
  2. Gangguan pada jantung dan pembuluh darah (kardiovaskuler) seperti: infeksi akut otot jantung, gangguan peredaran darah 
  3. Gangguan pada kulit (dermatologis) seperti: penanahan (abses), alergi, eksim 
  4. Gangguan pada paru-paru (pulmoner) seperti: penekanan fungsi pernapasan, kesukaran bernafas, pengerasan jaringan paru-paru 
  5. Sering sakit kepala, mual-mual dan muntah, murus-murus, suhu tubuh meningkat, pengecilan hati dan sulit tidur 
  6. Dampak terhadap kesehatan reproduksi adalah gangguan padaendokrin, seperti: penurunan fungsi hormon reproduksi (estrogen, progesteron, testosteron), serta gangguan fungsi seksual 
  7. Dampak terhadap kesehatan reproduksi pada remaja perempuan antara lain perubahan periode menstruasi, ketidakteraturan menstruasi, dan amenorhoe (tidak haid) 
  8. Bagi pengguna narkoba melalui jarum suntik, khususnya pemakaian jarum suntik secara bergantian, risikonya adalah tertular penyakit seperti hepatitis B, C, dan HIV yang hingga saat ini belum ada obatnya 
  9. Penyalahgunaan narkoba bisa berakibat fatal ketika terjadi Over Dosis yaitu konsumsi narkoba melebihi kemampuan tubuh untuk menerimanya. Over dosis bisa menyebabkan kematian 

Dampak Psikis: 
  1. Lamban kerja, ceroboh kerja, sering tegang dan gelisah 
  2. Hilang kepercayaan diri, apatis, pengkhayal, penuh curiga 
  3. Agitatif, menjadi ganas dan tingkah laku yang brutal 
  4. Sulit berkonsentrasi, perasaan kesal dan tertekan 
  5. Cenderung menyakiti diri, perasaan tidak aman, bahkan bunuh diri 

Dampak Sosial: 
  1. Gangguan mental, anti-sosial dan asusila, dikucilkan oleh lingkungan 
  2. Merepotkan dan menjadi beban keluarga
  3. Pendidikan menjadi terganggu, masa depan suram 

      Dampak fisik, psikis dan sosial berhubungan erat. Ketergantungan fisik akan mengakibatkan rasa sakit yang luar biasa (sakaw) bila terjadi putus obat (tidak mengkonsumsi obat pada waktunya) dan dorongan psikologis berupa keinginan sangat kuat untuk mengkonsumsi (bahasa gaulnya sugest). Gejala fisik dan psikologis ini juga berkaitan dengan gejala sosial seperti dorongan untuk membohongi orang tua, mencuri, pemarah, manipulatif, dll. 

Pentingnya Dukungan
      Setelah beban fisik pengguna narkoba suntikan dapat diatasi, maka masih ada beban psikologis dan sosial. Beban psikologis dan sosial ini kadang-kadang amat berat sehingga dapat menyebabkan remaja kambuh kembali menggunakan narkoba suntikan. Oleh karena itu, perlu diwujudkan lingkungan yang mendukung. 
      Di Indonesia lingkungan yang paling penting adalah keluarga. Kesediaan keluarga untuk menerima remaja yang pernah menggunakan narkoba suntikan di tengah keluarga merupakan dukungan yang amat berharga. Sebagian remaja dapat meneruskan pendidikannya dan memperoleh pekerjaan. Namun, sebagian lagi tak mungkin meneruskan sekolah dan harus menghadapi kenyataan bahwa mereka harus berjuang untuk hidup dengan bekal pendidikan yang terbatas. 
      Hendaknya kita dapat meningkatkan berbagai potensi yang ada di tengah masyarakat. Kita perlu bergandeng tangan untuk mencegah remaja menggunakan narkoba. Adapun bagi remaja yang telah menggunakan diperlukan layanan yang terpadu untuk membawa mereka kembali ke tengah masyarakat. Layanan tersebut rumit dan memerlukan upaya jangka panjang, tetapi semua upaya itu patut kita kerjakan karena sebagian masa depan Indonesia ada di tangan mereka mereka.