Jumat, 05 Agustus 2011

TEKNIK DASAR BERMAIN DRAMA

Drama adalah kisah hidup dan kehidupan manusia yang diceritakan di atas pentas dengan media percakapan(dialog), gerak dan tingkah laku. Naskah merupakan hal utama dalam bermain drama (modern) karena ia merupakan panduan bagi para pemeran (aktor) di atas pentas. Selain naskah, ada unsur-unsur lain yang sangat menentukan yaitu dekorasi (setting), musik, lighting, make up,kostum,nyanyian, tarian, dan unsur penunjang lainnya.

NASKAH


Naskah disini diartikan sebagai bentuk tertulis dari suatu drama. Sebuah naskah walaupun telah dimainkan berkali-kali, dalam bentuk yang berbeda-beda, naskah tersebut tidak akan berubah mutunya. Sebaliknya sebuah atau beberapa drama yang dipentaskan berdasarkan naskah yang sama dapat berbeda mutunya. Hal ini tergantung pada penggarapan dan situasi, kondisi, serta tempat dimana dimainkan naskah tersebut. Selain dialog, sebuah naskah yang baik harus memiliki tema, tokoh dan plot atau rangka cerita.


Tema


Tema adalah rumusan inti sari cerita yang dipergunakan dalam menentukan arah dan tujuan cerita. Dari tema inilah kemudian ditentukan tokoh-tokohnya


Tokoh


Dalam cerita drama tokoh merupakan unsur yang paling aktif yang menjadi penggerak cerita.oleh karena itu seorang tokoh haruslah memiliki karakter, agar dapat berfungsi sebagai penggerak cerita yang baik. Disamping itu dalam naskah akan ditentukan dimensi-dimensi sang tokoh. Biasanya ada 3 dimensi yang ditentukan yaitu:

1. Dimensi fisiologi (ciri-ciri badani) antara lain usia, jenis kelamin, keadaan tubuh, cirri-ciri muka,dll.

2. Dimensi sosiologi (latar belakang) kemasyarakatan misalnya status sosial, pendidikan, pekerjaan, peranan dalam masyarakat, kehidupan pribadi, pandangan hidup, agama, hobby, dan sebagainya.

3. Dimensi psikologis (latar belakang kejiwaan) misalnya temperamen, mentalitas, sifat, sikap dan kelakuan, tingkat kecerdasan, keahlian dalam bidang tertentu, kecakapan, dan lain sebagainya.
Apabila kita mengabaikan salah satu saja dari ketiga dimensi diatas, maka tokoh yang akan kita perankan akan menjadi tokoh yang kaku, timpang, bahkan cenderung menjadi tokoh yang mati.


Plot


Plot adalah alur atau kerangka cerita. Plot merupakan suatu keseluruhan peristiwa didalam naskah. Secara garis besar, plot drama dapat dibagi menjadi beberapa bagian yaitu:

1. Pemaparan (eksposisi)

Bagian pertama dari suatu pementasan drama adalah pemaparan atau eksposisi. Pada bagian ini diceritakan mengenai tempat, waktu dan segala situasi dari para pelakunya. Kepada penonton disajikan sketsa cerita sehingga penonton dapat meraba dari mana cerita ini dimulai. Jadi eksposisi berfungsi sebagai pengantar cerita. Pada umumnya bagian ini disajikan dalam bentuk sinopsis.

2. Komplikasi awal atau konflik awal

Kalau pada bagian pertama tadi situasi cerita masih dalam keadaan seimbang maka pada bagian ini mulai timbul suatu perselisihan atau komplikasi. Konflik merupakan kekuatan penggerak drama.

3. Klimaks dan krisis

Klimaks dibangun melewati krisis demi krisis. Krisis adalah puncak plot dalam adegan. Konflik adalah satu komplikasi yang bergerak dalam suatu klimaks.

4. Penyelesaian (denouement)

Drama terdiri dari sekian adegan yang di dalamnya terdapat krisis-krisis yang memunculkan beberapa klimaks. Satu klimaks terbesar dibagian akhir selanjutnya diikuti adegan penyelesaian.

5. Dialog
Dialog berisikan kata-kata. Dalam drama para tokoh harus berbicara dan apa yang diutarakan mesti sesuai dengan perannya, dengan tingkat kecerdasannya, pendidikannya, dsb. Dialog berfungsi untuk mengemukakan persoalan, menjelaskan perihal tokoh, menggerakkan plot maju, dan membukakan fakta.


LATIHAN DASAR


Dalam bermain drama ada yang disebut dengan akting. Akting adalah pelafalan dialog (yang tertulis di dalam naskah) disertai dengan gerak atau gesture. Seorang aktor dikatakan baik apabila ia sanggup membawakan dialog sesuai dengan karakter tokoh yang diperankannya. Dialog itu bisa terdengar (volume baik), jelas (artikulasi baik), dimengerti (lafal benar), dan aktor bisa menghayati sesuai dengan tuntutan/jiwa peran yang ditentukan dalam naskah. Seorang aktor yang baik akan mampu membawakan dialog tersebut dengan gerak yang pas (tidak berlebihan atau dibuat-buat). Ia bergerak dengan leluasa (blocking baik) tidak ragu ragu ( meyakinkan), dimengerti (sesuai dengan hukum gerak dalam kehidupan), dan juga bisa menghayati sesuai dengan tuntutan peran yang ditentukan dalam naskah.


BLOCKING


Yang dimaksud dengan blocking adalah kedudukan aktor pada saat di atas pentas. Dalam permainan drama, blocking yang baik sangat diperlukan, oleh karena itu pada waktu bermain kita harus selalu mengontrol tubuh kita agar tidak merusak blocking. Blocking tersebut harus seimbang, utuh, bervariasi dan memiliki titik pusat perhatian serta wajar.Jelas, tidak ragu ragu, meyakinkan. Kesemuanya itu mempunyai pengertian bahwa gerak yang dilakukan jangan setengah setengah dan jangan sampai berlebihan. Kalau ragu ragu terkesan kaku sedangkan kalau berlebihan terkesan over acting

Bocking harus dimengerti (wajar). Apa yang kita wujudkan dalam bentuk gerak tidak menyimpang dari hukum gerak dalam kehidupan. Misalnya bila mengangkat barang yang berat dengan tangan kanan, maka tubuh kita akan miring ke kiri, dsb.

Blocking harus memiliki motivasi yang jelas berarti gerak-gerak anggota tubuh maupun gerak wajah harus sesuai tuntutan peran dalam naskah.


Seimbang

Seimbang berarti kedudukan pemain, termasuk juga benda-benda yang ada diatas panggung (setting) tidak mengelompok di satu tempat, sehingga mengakibatkan adanya kesan berat sebelah. Jadi semua bagian panggung harus terwakili oleh pemain atau benda-benda yang ada di panggung. Penjelasan lebih lanjut mengenai keseimbangan panggung ini akan disampaikan pada bagian mengenai "Komposisi Pentas".


Utuh

Utuh berarti blocking yang ditampilkan hendaknya merupakan suatu kesatuan. Semua penempatan dan gerak yang harus dilakukan harus saling menunjang dan tidak saling menutupi.


Bervariasi

Bervariasi artinya bahwa kedudukan pemain tidak disuatu tempat saja, melainkan membentuk komposisi-komposisi baru sehingga penonton tidak jenuh. Keadaan seorang pemain jangan sama dengan kedudukan pemain lainnya. Misalnya sama-sama berdiri, sama-sama jongkok, menghadap ke arah yang sama, dsb. Kecuali kalau memang dikehendaki oleh naskah.


Memiliki titik pusat

Memiliki titik pusat artinya setiap penampilan harus memiliki titik pusat perhatian. Hal ini penting artinya untuk memperkuat peranan lakon dan mempermudah penonton untuk melihat dimana sebenarnya titik pusat dari adegan yang sedang berlangsung. Antara pemain juga jangan saling mengacau sehingga akan mengaburkan dimana sebenarnya letak titik perhatian.


Wajar

Wajar artinya setiap penempatan pemain ataupun benda-benda haruslah tampak wajar, tidak dibuat-buat. Disamping itu setiap penempatan juga harus memiliki motivasi dan harus beralasan.
Dalam drama kontemporer kadang-kadang naskah tidak menuntut blocking yang sempurna, bahkan kadang-kadang juga sutradara atau naskah itu sendiri sama sekali meninggalkan prinsip-prinsip blocking. Ada juga naskah yang menuntut adanya gerak-gerak yang seragam diantara para pemainnya.

MEDITASI


Secara umum arti meditasi adalah mencoba untuk menenangkan pikiran. Dalam teater dapat diartikan sebagai suatu usaha untuk menenangkan dan mengosongkan pikiran dengan tujuan untuk memperoleh kestabilan diri.


Tujuan Meditasi:


Mengosongkan pikiran.

Kita mencoba mengosongkan pikiran kita, dengan jalan membuang segala sesuatu yang ada dalam pikiran kita, tentang berbagai masalah baik itu masalah keluarga, sekolah, pribadi dan sebagainya. Kita singkirkan semua itu dari otak kita agar pikiran kita bebas dari segala beban dan ikatan.


Meditasi sebagai jembatan.

Disini alam latihan kita sebut sebagai alam "semu", karena segala sesuatu yang kita kerjakan dalam latihan adalah semu, tidak pernah kita kerjakan dalam kehidupan sehari-hari. Jadi setiap gerak kita akan berbeda dengan kelakuan kita sehari-hari. Untuk itulah kita memerlukan suatu jembatan yang akan membawa kita dari alam kehidupan kita sehari-hari ke alam latihan.


Cara meditasi:


Posisi tubuh tidak terikat, dalam arti tidak dipaksakan. Tetapi yang biasa dilakukan adalah dengan duduk bersila, badan usahakan tegak. Cara ini dimaksudkan untuk memberi bidang/ruangan pada rongga tubuh sebelah dalam.


Atur pernapasan dengan baik, hirup udara pelan-pelan dan keluarkan juga dengan perlahan. Rasakan seluruh gerak peredaran udara yang masuk dan keluar dalam tubuh kita. Kosongkan pikiran kita, kemudian rasakan suasana yang ada disekeliling kita dengan segala perasaan. Kita akan merasakan suasana yang hening, tenang, bisu, diam tak bergerak. Kita menyuruh syaraf kita untuk lelap, kemudian kita siap untuk berkonsentrasi.


Catatan:


Pada suatu saat mungkin kita kehilangan rangsangan untuk berlatih, seolah-olah timbul kelesuan dalam setiap gerak dan ucapan. Hal ini sering terjadi akibat diri terlalu lelah atau terlalu banyak pikiran. Jika hal ini tidak diatasi dan kita paksakan untuk berlatih, maka akan sia-sia belaka. Cara untuk mengatasi adalah dengan MEDITASI. Meditasi juga perlu dilakukan bila kita akan bermain di panggung, agar kita dapat mengkonsentrasikan diri kita dengan peran yang hendak kita bawakan.

KONSENTRASI


Konsentrasi secara umum berarti "pemusatan". Dalam teater kita mengartikannya dengan pemusatan pikiran terhadap alam latihan atau peran-peran yang akan kita bawakan agar kita tidak terganggu dengan pikiran-pikiran lain, sehingga kita dapat menjiwai segala sesuatu yang kita kerjakan.


Cara konsentrasi:


Kita harus melakukan dahulu meditasi. Kita kosongkan dulu pikiran kita, dengan cara-cara yang sudah ditentukan. Kita kerjakan sesempurna mungkin agar pikiran kita benar-benar kosong dan siap berkonsentrasi.


Setelah pikiran kita kosong, mulailah memasuki otak kita dengan satu unsur pikiran. Rasakan bahwa saat ini sedang latihan, kita memasuki alam semu yang tidak kita dapati dalam kehidupan sehari-hari. Jangan memikirkan yang lain, selain bahwa kita saat ini sedang latihan teater.


Catatan:


Pada saat kita akan membawakan suatu peran, misalnya sebagai ayah, nenek, gadis pemalu dan sebagainya, baik itu dalam latihan atau pementasan, konsentrasikan pikiran kita pada hal tersebut. Jangan sekali-kali memikirkan yang lain.


PERNAPASAN


Seorang artis panggung, baik itu dramawan ataupun penyanyi, maka untuk memperoleh suara yang baik ia memerlukan pernapasan yang baik pula. Oleh karena itu ia harus melatih pernapasan/alat-alat pernapasannya serta mempergunakannya secara tepat agar dapat diperoleh hasil yang maksimum, baik dalam latihan ataupun dalam pementasan.


Ada empat macam pernapasan yang biasa dipergunakan:


Pernapasan dada


Pada pernapasan dada kita menyerap udara kemudian kita masukkan ke rongga dada sehingga dada kita membusung. Di kalangan orang orang teater pernapasan dada biasanya tidak dipergunakan karena disamping daya tampung atau kapasitas dada untuk udara sangat sedikit, juga dapat mengganggu gerak/akting sang aktor, karena bahu menjadi kaku.


Pernapasan perut


Dinamakan pernapasan perut jika udara yang kita hisap kita masukkan ke dalam perut sehingga perut kita menggelembung. Pernapasan perut dipergunakan oleh sebagian dramawan, karena tidak banyak mengganggu gerak dan daya tampungnya lebih banyak dibandingkan dada.


Pernapasan lengkap


Pada pernapasan lengkap kita mempergunakan dada dan perut untuk menyimpan udara, sehingga udara yang kita serap sangat banyak (maksimum). Pernapasan lengkap dipergunakan oleh sebagian artis panggung yang biasanya tidak terlalu mengutamakan akting, tetapi mengutamakan vokal.


Pernapasan diafragma


Diafragma adalah bagian tubuh kita yang terletak diantara rongga dada dan perut. Sedangkan yang dimaksud dengan Pernapasan diafragma adalah ketika sang aktor itu mengambil udara sebanyak-banyaknya kemudian disimpan di diafragma dan rasakan bahwa diafragma itu benar-benar mengembang. Hat ini dapat kita rasakan dengan mengembangnya perut, pinggang, bahkan bagian belakang tubuh di sebelah atas pinggul kita juga turut mengembang.


Menurut perkembangan akhir akhir ini, banyak orang teater yang mempergunakan pernapasan diafragma, karena tidak banyak mengganggu gerak dan daya tampungnya lebih banyak dibandingkan dengan pernapasan perut.


Latihan latihan pernapasan:


Pertama kita menyerap udara sebanyak mungkin. Kemudian masukkan ke dalam dada, kemudian turunkan ke perut, sampai di situ napas kita tahan. Dalam keadaan demikian tubuh kita gerakkan turun sampai batas maksimurn bawah. Setelah sampai di bawah, lalu naik lagi ke posisi semula, barulah napas kita keluarkan kembali.

Cara kedua adalah menarik napas dan mengeluarkannya kembali dengan cepat.


Cara berikutnya adalah menarik napas dalam dalam, kemudian keluarkan lewat mulut dengan mendesis, menggumam, ataupun cara cara lain. Di sini kita sudah mulai menyinggung vokal.
*Catatan: Bila sudah menentukan pernapasan apa yang akan kita pakai, disarankan agar janganlah beralih ke bentuk pernapasan yang lain.


VOKAL


Untuk menjadi seorang pemain drama yang baik, maka dia harus mernpunyai dasar vokal yang baik pula. "Baik" di sini diartikan sebagai berikut:

- dapat terdengar (dalam jangkauan penonton, sampai penonton, yang paling belakang),

- jelas (artikulasi/pengucapan yang tepat),

- tersampaikan misi (pesan) dari dialog yang diucapkan, dan

- tidak monoton.


Untuk mempunyai vokal yang baik ini, maka perlu dilakukan latihan latihan vokal. Banyak cara, yang dilakukan untuk melatih vokal, antara lain:


1. Tariklah napas, lantas keluarkan lewat mulut sambil menghentakan suara "wah…" dengan energi suara. Lakukan ini berulang kali.

2. Tariklah napas, lantas keluarkan lewat mulut sambil menggumam "mmm…mmm…" (suara keluar lewat hidung).

3. Sama dengan latihan kedua, hanya keluarkan dengan suara mendesis,"ssss……."
4. Hirup udara banyak banyak, kemudian keluarkan vokal "aaaaa……." sampai batas napas yang terakhir. Nada suara jangan berubah.

5. Sama dengan latihan di atas, hanya nada (tinggi rendah suara) diubah-ubah naik turun (dalam satu tarikan napas)

6. Keluarkan vokal "a…..a……" secara terputus-putus.

7. Keluarkan suara vokal "a i u e o", "ai ao au ae ", "oa oi oe ou", "iao iau iae aie aio aiu oui oua uei uia ......" dan sebagainya.

8. Berteriaklah sekuat kuatnya sampai ke tingkat histeris.

9. Bersuara, berbicara, berteriak sambil berialan, jongkok, bergulung gulung, berlari, berputar putar dan berbagai variasi lainnnya.


*Catatan:
Apabila suara kita menjadi serak karena latihan latihan tadi, janganlah takut. Hal ini biasa terjadi apabila kita baru pertama kali melakukan. Sebabnya adalah karena lendir lendir di tenggorokan terkikis, bila kita bersuara keras. Tetapi bila kita sudah terbiasa, tenggorokan kita sudah agak longgar dan selaput suara (larink) sudah menjadi elastis. Maka suara yang serak tersebut akam menghilang dengan sendirinya. Dan ingat, janganlah terlalu memaksa alat alat suara untuk bersuara keras, sebab apabila dipaksakan akan dapat merusak alat alat suara kita. Berlatihlah dalam batas-batas yang wajar.


Latihan ini biasanya dilakukan di alam terbuka. misalnya di gunung, di tepi sungai, di dekat air terjun dan sebagainya. Di sana kita mencoba mengalahkan suara suara di sekitar kita, disamping untuk menghayati karunia Tuhan.


ARTIKULASI


Artikulasi yang dimaksud adalah pengucapan kata melalui mulut agar terdengar dengan baik dan benar serta jelas, sehingga telinga pendengar/penonton dapat mengerti pada kata kata yang diucapkan. Pada pengertian artikulasi ini dapat ditemukan beberapa sebab yang mongakibatkan terjadinya artikulasi yang kurang/tidak benar, yaitu:

Cacat artikulasi alam: cacat artikulasi ini dialami oleh orang yang berbicara gagap atau orang yang sulit mengucapkan salah satu konsonon, misalnya "r", dan sebagainya.


Artikulasi jelek ini bukan disebabkan karena cacat artikulasi, melainkan terjadi sewaktu waktu. Hal ini sering terjadi pada pengucapan naskah/dialog.


Misalnya:


Kehormatan menjadi kormatan, menyambung menjadi mengambung, dan sebagainya.


Artikulasi jelek disebabkan karena belum terbiasa pada dialog, pengucapan terlalu cepat, gugup, dan sebagainya. Sedangkan artikulasi menjadi tak tentu: hal ini terjadi karena pengucapan kata/dialog terlalu cepat, seolah olah kata demi kata berdempetan tanpa adanya jarak sama sekali.


Untuk mendapatkan artikulasi yang baik maka kita harus melakukan latihan:


Mengucapkan alfabet dengan benar, perhatikan bentuk mulut pada setiap pengucapan. Ucapkan setiap huruf dengan nada nada tinggi, rendah, sengau, kecil, besar, dsb. Juga ucapkanlah dengan berbisik.

Variasikan dengan pengucapan lambat, cepat, naik, turun, dsb Membaca kalimat dengan berbagai variasi seperti di atas. Perhatikan juga bentuk mulut.


GESTIKULASI


Gestikulasi adalah suatu cara untuk memenggal kata dan memberi tekanan pada kata atau kalimat pada sebuah dialog. Jadi seperti halnya artikulasi, gestikulasi pun merupakan bagian dari dialog, hanya saja fungsinya yang berbeda. Gestikulasi tidak disebut pemenggalan kalimat karena dalam dialog satu kata dengan satu kalimat kadang kadang memiliki arti yang sama. Misalnya kata "Pergi !!!!" dengan kalimat "Angkat kaki dari sini !!!". Juga dalam drama bisa saja terjadi sebuah dialog yang berbentuk "Lalu ?" , "Kenapa ?" atau "Tidak !" dan sebagainya. Karena itu diperlukan suatu ketrampilan dalam memenggal kata pada sebuah dialog.


Gestikulasi harus dilakukan, sebab kata kata yang pertama dengan kata berikutnya dalam sebuah dialog dapat memiliki maksud yang berbeda. Misalnya: "Tuan kelewatan. Pergi!". Antara "Tuan kelewatan" dan "Pergi" harus dilakukan pemenggalan karena antara keduanya memiliki maksud yang berbeda. Hal ini dilakukan agar lebih lancar dalam memberikan tekanan pada kata. Misalnya "Tuan kelewatan"....... (mendapat tekanan), "Pergi…." (mendapat tekanan).



INTONASI


Seandainya pada dialog yang kita ucapkan, kita tidak menggunakan intonasi, maka akan terasa monoton, datar dan membosankan. Yang dimaksud intonasi di sini adalah tekanan tekanan yang diberikan pada kata, bagian kata atau dialog. Dalam tatanan intonasi, terdapat tiga macam, yaitu:


Tekanan Dinamik (keras lemah)


Ucapkanlah dialog pada naskah dengan melakukan penekanan penekanan pada setiap kata yang memerlukan penekanan. Misainya saya pada kalimat "Saya membeli pensil ini" Perhatikan bahwa setiap tekanan memiliki arti yang berbeda. Misal:

SAYA membeli pensil ini. (Saya, bukan orang lain)

Saya MEMBELI pensil ini. (Membeli, bukan, menjual)

Saya membeli PENSIL ini. (Pensil, bukan buku tulis)


Tekanan Nada (tinggi)


Cobalah mengucapkan kalimat/dialog dengan memakai nada/aksen, artinya tidak mengucapkan seperti biasanya. Yang dimaksud di sini adalah membaca/mengucapkan dialog dengan Suara yang naik turun dan berubah ubah. Jadi yang dimaksud dengan tekanan nada ialah tekanan tentang tinggi rendahnya suatu kata.


Tekanan Tempo


Tekanan tempo adalah memperlambat atau mempercepat pengucapan. Tekanan ini sering dipergunakan untuk lebih mempertegas apa yang kita maksudkan. Untuk latihannya cobalah membaca naskah dengan tempo yang berbeda beda. Lambat atau cepat silih berganti.


WARNA SUARA


Hampir setiap orang memiliki warna suara yang berbeda. Demikian pula usia sangat mempengaruhi warna suara. Misalnya saja seorang kakek, akan berbeda warna suaranya dengan seorang anak muda. Seorang ibu akan berbeda warna suaranya dengan anak gadisnya.


Apalagi antara laki laki dengan perempuan, akan sangat jelas perbedaan warna suaranya. Jadi jelaslah bahwa untuk membawakan suatu dialog dengan baik, maka selain harus memperhatikan artikulasi, gestikulasi dan intonasi, harus memperhatikan juga warna suara. Sebagai latihan dapat dicoba merubah rubah warna suara dengan menirukan warna suara seorang tua, pengemis, anak kecil, dan lain sebagainya.


Selain mengenai dasar dasar vokal di atas, dalam sebuah dialog diperlukan juga adanya suatu penghayatan. Mengenai penghayatan ini akan diterangkan dalam bagian tersendiri. Untuk latihan cobalah membaca naskah berikut ini dengan menggunakan dasar dasar vokal seperti di atas.


(Kang Dul masuk tergopoh gopoh)

Kang Dul: Aduh Mas….e…..e…..itu, Mas…. Anu…. Mas….a….a….ada mahasiswa bawa mobil, pakaiannya bagus. Saya takut, Mas, mungkin dia orang kota, Mas.

Bambang: Goblog ! Kenapa Takut ? Kenapa tidak kau kumpulkan saja orang-orangmu untuk mengusirnya ?
Pak Slamet: (kepada Bambang) Kau lebih-lebih Goblog ! Kau membohongi saya ! Kau tadi lapor apa ?! Sudah tidak ada orang kota yang masuk ke daerah kita, hei ! (sambil mencengkeram Bambang).

Bambang: Sungguh, Pak, sudah lama tidak ada orang kota yang masuk.

Pak Slamet: (membentak sambil mendorong) Diam Kamu ! (kepada Kang Dul) Di mana dia sekarang ?
Kang Dul: Di sana Pak, nongkrong di kantin sambil main leptop.



OLAH TUBUH


Sebelum kita melangkah lebih jauh untuk mempelajari seluk beluk gerak, maka terlebih dahulu kita harus mengenal tentang olah tubuh. Olah tubuh (bisa juga dikatakan senam), sangat perlu dilakukan sebelum kita mengadakan latihan atau pementasan. Dengan berolah tubuh kita akan, mendapat keadaaan atau kondisi tubuh yang maksimal. Selain itu olah tubuh juga mempunyai tujuan melatih atau melemaskan otot otot kita supaya elastis, lentur, luwes dan supaya tidak ada bagian bagian tubuh kita yang kaku selama latihan-latihan nanti.


Pelaksanaan olah tubuh:


Pertama sekali mari kita perhatikan dan rasakan dengan segenap panca indera yang kita punyai. Dengan memakai rasa kita perhatikan seluruh tubuh kita, mulai dari ujung rambut sampai ujung kaki.

Sekarang mari kita menggerakkan tubuh kita.

Jatuhkan kepala ke depan. Kemudian jatuhkan ke belakang, ke kiri, ke kanan. Ingat kepala/leher dalam keadaan lemas, seperti orang mengantuk.


Putar kepala pelan pelan dan rasakan lekukan lekukan di leher, mulai dari muka. kemudian ke kiri, ke belakang dan ke kanan. Begitu seterusnya dan lakukan berkali kali. Ingat, pelan pelan dan rasakan !
Putar bahu ke arah depan berkali kali, juga ke arah belakang. Pertama satu-persatu terlebih dahulu, baru kemudian bahu kiri dan kanan diputar serentak.


Putar bahu kanan ke arah depan, sedangkan bahu kiri diputar ke arah belakang. Demikian pula sebaliknya.


Rentangkan tangan kemudian putar pergelangan tangan, putar batas siku, putar tangan keseluruhan. Lakukan berkali kali, pertama tangan kanan dahulu, kemudian tangan kiri, baru bersama sama.


Putar pinggang ke kiri, depan, kanan, belakang. Juga sebaliknya.


Ambil posisi berdiri yang sempurna, lalu angkat kaki kanan dengan tumpuan pada kaki kiri. Jaga jangan sampai jatuh. Kemudian putar pergelangan kaki kanan, putar lutut kanan, putar seluruh kaki kanan. Kerjakan juga pada kaki kiri sesuai dengan cara di atas.


Sebagai pembuka dan penutup olah tubuh ini, lakukan iari lari di tempat dan meloncat loncat.


Macam Macam Gerak:


Setiap orang memerlukan gerak dalam hidupnya. Banyak gerak yang dapat dilakukan manusia. Dalam latihan dasar teater, kita juga harus mengenal dengan baik bermacam macam gerak Latihan latihan mengenai gerak ini harus diperhatikan secara khusus oleh seseorang yang berkecimpung dalam bidang teater.


Pada dasarnya gerak dapat dibagi menjadi dua, yaitu :


Gerak teaterikal


Gerak teaterikal adalah gerak yang dipakai dalam teater, yaitu gerak yang lahir dari keinginan bergerak yang sesuai dengan apa yang dituntut dalam naskah. Jadi gerak teaterikal hanya tercipta pada waktu memainkan naskah drama.


Gerak non teaterikal


Gerak non teaterikal adalah gerak kita dalam kehidupan sehari hari. Gerak yang dipakai dalam teater (gerak teaterikal) ada bermacam macam, secara garis besar dapat kita bagi menjadi dua, yaitu gerak halus dan gerak kasar.


Gerak Halus


Gerak halus adalah gerak pada raut muka kita atau perubahan mimik, atau yanq lebih dikenal lagi dengan ekspresi. Gerak ini timbul karena pengaruh dari dalam/emosi, misalnya marah, sedih, gembira, dan sebagainya.


Gerak Kasar


Gerak kasar adalah gerak dari seluruh/sebagian anggota tubuh kita. Gerak ini timbul karena adanya pengaruh baik dari luar maupun dari dalam. Gerak kasar masih dapat dibagi menjadi empat bagian. yaitu:


Business, adalah gerak gerak kecil yang kita lakukan tanpa penuh kesadaran Gerak ini kita lakukan secara spontan, tanpa terpikirkan (refleks). Misalnya:

- sewaktu kita sedang mendengar alunan musik, secara tak sadar kita menggerak gerakkan tangan atau kaki mengikuti irama musik.

- sewaktu kita sedang belajar/membaca, kaki kita digigit nyamuk. Secara refleks tangan kita akan memukul kaki yang tergigit nyamuk tanpa kehilangan konsentrasi kita pada belajar.


Gestures, adalah gerak gerak besar yang kita lakukan. Gerak ini adalah gerak yang kita lakukan secara sadar. Gerak yang terjadi setelah mendapat perintah dari diri/otak kita Untuk melakukan sesuatu, misalnya saja menulis, mengambil gelas, jongkok, dsb.


Movement, adalah gerak perpindahan tubuh dari tempat yang satu ke tempat yang lain. Gerak ini tidak hanya terbatas pada berjalan saja, tetapi dapat juga berupa berlari, bergulung gulung, melompat, dsb.


Guide, adalah cara berjalan. Cara berjalan disini bisa bermacam-macam. Cara berjalan orang tua akan berbeda dengan cara berjalan seorang anak kecil, berbeda pula dengan cara berjalan orang yang sedang mabuk, dsb.


Setiap gerakan yang kita lakukan harus mempunyai arti, motif dan dasar. Hal ini harus benar-benar diperhatikan dan harus diyakini benar-benar oleh seorang pemain apa maksud dan maknanya ia melakukan gerakan yang demikian itu. Dalam latihan gerak, kita mengenal latihan "gerak-gerak dasar". Latihan mengenai gerak-gerak dasar ini kita bagi menjadi tiga bagian, yaitu:

- Gerak dasar bawah: posisinya dalam keadaan duduk bersila. Di sini kita hanya boleh bergerak sebebasnya mulai dari tempat kita berpijak sampai pada batas kepala kita.

- Gerak dasar tengah: posisi kita saat ini dalam keadaan setengah berdiri. Di sini kita diperbolehkan bergerak mulai dari bawah sampai diatas kepala.
- Gerak dasar atas: di sini kita boleh bergerak sebebas-bebasnya tanpa ada batas.

Dalam melakukan gerak-gerak dasar diatas kita dituntut untuk berimprovisasi / menciptakan gerak-gerak yang bebas, indah dan artistik.


Latihan-latihan gerak yang lain:


Latihan cermin.


Dua orang berdiri berhadap-hadapan satu sama lain. Salah seorang lalu membuat gerakan dan yang lain menirukannya, persis seperti apa yang dilakukan temannya, seolah-olah sedang berdiri didepan cermin. Latihan ini dilakukan bergantian.


Latihan gerak dan tatap mata


Sama dengan latihan cermin, hanya waktu berhadapan mata kedua orang tadi saling tatap, seolah kedua pasang mata sudah saling mengerti apa yang akan digerakkan nanti.


Latihan melenturkan tubuh


Seseorang berdiri dalam keadaan lemas. Kemudian seorang lagi membantu mengangkat tangan temannya. Setelah sampai atas dijatuhkan. Dapat juga sebelum dijatuhkan lengan / tangan tersebut diputar-putar terlebih dahulu.


Latihan gerak bersama


Suatu kelompok yang terdiri dari beberapa orang melakukan gerakan yang sama seperti dilakukan oleh pemimpin kelompok tersebut, yang berdiri didepan mereka.


Latihan gerak mengalir


Suatu kelompok yang terdiri beberapa orang saling bergandengan tangan, membentuk lingkaran. Kemudian salah seorang mulai melakukan gerakan ( menggerakkan tangan atau tubuh ) dan yang lain mengikuti gerakan tangan orang yang menggandeng tangannya. Selama melakukan gerakan, tangan kita jangan sampai terlepas dari tangan teman kita. Latihan ini dilakukan dengan memejamkan mata dan konsentrasi, sehingga akan terbentuk gerakan yang artistik.


GERAK DAN VOKAL


Setelah kita berlatih tentang vokal dan gerak secara terpisah, maka sekarang kita mencoba untuk memadukan antara vokal dan gerak. Banyak bentuk-bentuk latihan yang dapat dilakukan, antara lain mengucapkan kalimat yang panjang sambil berlari-lari, melompat, jongkok, bergulung-gulung, atau juga bisa dengan memutar-mutar kepala, memutar-mutar tubuh, dan sebagainya. Latihan ini berguna sekali bagi kita pada waktu acting. Tujuannya adalah agar vokal dan gerak kita selalu serasi, agar gerak kita tidak terlalu banyak berpengaruh pada vokal.


PENGGUNAAN PANCAINDERA


Manusia yang normal dikaruniai Tuhan dengan lima panca indera secara utuh. Dalam kehidupan sehari-hari kita selalu menggunakan panca indera kita tersebut, baik secara bersama-sama ataupun sendiri-sendiri. Dalam teater kita juga harus menggunakan indera kita dengan baik agar dapat memainkan suatu peran dengan baik pula.


Supaya alat-alat indera kita dapat bekerja semaksimal mungkin, tentu saja harus dilatih. Hal ini sangat perlu dalam teater untuk membantu kita dalam membentuk ekspresi. Bentuk-bentuk latihan yang dapat dilakukan, antara lain:


Mata


Duduk bersila sambil menatap suatu titik di dinding. Konsentrasi hanya pada titik tersebut. Usahakan menatap titik tersebut tanpa berkedip, selama mungkin.


Telinga


Duduk bersila, pejamkan mata. Sementara itu seseorang mengetuk-ngetuk sesuatu pada beberapa macam benda, dimana setiap benda memiliki nada / suara yang berlainan. Hitunglah berapa kali ketukan pada benda yang sudah ditentukan.


Duduklah ditepi jalan yang ramai, sambil memejamkan mata. Cobalah untuk mengenali suara apa saja yang masuk ke telinga, misalnya suara truk, bus, sepeda motor, suara tawa seseorang diatas sepeda motor, suara sepatu diatas trotoar,dsb.


Hidung


Duduk ditepi jalan sambil memejamkan mata, kemudian cobalah untuk mengenali bau apa yang ada disekitar kita. Misalnya bau keringat orang yang lewat didepan kita, bau parfum, asap knalpot, asap rokok, atau tanah yang baru disiram hujan, dsb.

Ciumlah tangan, kaki, pakaian, dan jika bisa seluruh tubuh kita, rasakan dan hayati benar-benar bagaimana baunya.


Kulit


Rabalah tangan, kaki, kepala dan seluruh tubuh kita, juga pakaian kita. Rasakan dan kenalilah tubuh kita itu, cari perbedaan antara setiap tubuh.

Rabalah dinding, lantai, meja, atau benda-benda lain. Perhatikanlah bagaimana rasanya, dingin atau panas. Juga sifatnya halus atau kasar dan coba juga mengenali bentuknya. Lakukan latihan ini dengan mata terpejam.


Lidah


Rabalah dengan lidah bagaimana bentuk mulut kita, bagaimana bentuk gigi, langit-langit, bibir, dan sebagainya. Rasakan dengan menjilat, bagaimana rasa dari sebuah kancing baju, sapu tangan, batang pensil, tangan yang berkeringat,dsb.


KARAKTERISASI


Karakterisasi adalah suatu usaha untuk menampilkan karakter atau watak dari tokoh yang diperankan. Tokoh-tokoh dalam drama, adalah orang-orang yang berkarakter. Jadi seorang pemain drama yang baik harus bisa menampilkan karakter dari tokoh yang diperankannya dengan tepat. Dengan demikian penampilannya akan menjadi sempurna karena ia tidak hanya menjadi figur dari seorang tokoh saja, melainkan juga memiliki watak dari tokoh tersebut.


Agar kita dapat memainkan tokoh yang berkarakter seperti yang dituntut naskah, maka kita harus terlebih dahulu mengenal watak dari tokoh tersebut. Suatu misal, kita dapat peran menjadi seorang pengemis. Nah, kita harus mengenal secara lengkap bagaimana sifat-sifatnya, tingkah lakunya, dsb. Apakah dia seorang yang licik, pemberani, atau pengecut, alim, ataukah hanya sekedar kelakuan yang dibuat-buat.


Demikianlah, kita menyadari bahwa untuk memerankan suatu tokoh, kita tidak hanya memerankan jabatannya, tetapi juga wataknya. Misalnya:

Tokoh (A) … jabatan (lurah) … watak (licik, pura-pura, pengecut)

Tokoh (B) … jabatan (jongos) … watak (baik hati, ramah, jujur, mengalah)

Untuk melatih karakteristik dapat dipakai cara sebagai berikut:

Dengan menirukan gerak-gerak dasar yang biasa dilakukan oleh pengemis, kakek, anak kecil, pemabuk, orang buta, dsb. (yang dimaksud dengan gerak-gerak dasar disini adalah cirri-ciri khas)
Dua orang atau lebih, berdiri dan berkonsentrasi, kemudian salah satu memberi perintah kepada temannya untuk bertindak / berlaku sebagai tokoh dari apa yang diceritakan. Untuk membantu memberi suasana, dapat memakai musik pengiring.


Untuk memperdalam mengenai karakteristik, maka agaknya perlu juga kita mempelajari observasi, ilusi, imajinasi dan emosi. Untuk itu marilah kita kenali satu persatu.


OBSERVASI


Observasi adalah suatu metode untuk mempelajari / mengamati seorang tokoh. Bagaimana tingkah lakunya, cara hidupnya, kebiasaannya, pergaulannya, cara bicaranya, dsb. Setelah kita mengenal segala sesuatu tentang tokoh tersebut, kita akan mengetahui wujud dari tokoh itu. Setelah itu baru kita menirukannya. Dengan demikian kita akan menjadi tokoh yang kita ingini.


ILUSI


Ilusi adalah bayangan atas suatu peristiwa yang akan terjadi maupun yang telah terjadi, baik yang dialami sendiri maupun yang tidak. Kejadian itu dapat berupa pengalaman, hasil observasi, mimpi, apa yang dilihat, dirasakan, ataupun angan-angan, kemungkinan-kemungkinan, ramalan, dan lain sebagainya.


Cara-cara melatihnya antara lain:


Menyampaikan data-data tentang suatu kecelakaan, kebakaran, dsb.

Bercerita tentang perjalanan keliling pulau Jawa, ketika dimarahi guru, dsb.


Menyampaikan pendapat tentang lingkungan hidup, sopan santun dikampung, dsb.


Menyampaikan keinginan untuk menjadi raja, polisi, dewa, burung, artis, dsb.


Berangan-angan bahwa kelak akan terjadi perang antar planet, dsb.



IMAJINASI


Imajinasi adalah suatu cara untuk menganggap sesuatu yang tidak ada menjadi seolah-olah ada. Kalau ilusi obyeknya adalah peristiwa, maka imajinasi obyeknya benda atau sesuatu yang dibendakan. Tujuannya adalah agar kita tidak hanya selalu menggantungkan diri pada benda-benda yang kongkrit. Juga diatas pentas, penonton akan melihat bahwa apa yang ditampilkan tampak benar-benar terjadi walaupun sesungguhnya tidak terlihat, benar-benar dialami sang pelaku. Kemampuan untuk berimajinasi benar-benar diuji bilamana kita sedang memainkan sebuah pantomim.


Sebagai contoh, dalam naskah OBSESI, terjadi dialog antara pemimpin koor dengan roh suci. Roh suci disini hanya terdengar suaranya, tetapi pemain harus menganggap bahwa roh suci benar-benar ada. Dalam contoh lain dapat kita lihat pada sebuah naskah yang didalamnya terdapat sebuah dialog, sebagai berikut: "Hei letnan, coba perhatikan perempuan berkaca mata gelap didepan toko itu. Perhatikan topi dan tas hitam yang dipakainya. Rasa-rasanya aku pernah melihat tas dan topi itu dipakai Nyonya Lisa beberapa saat sebelum terjadi pembunuhan". Yang dibicarakan tokoh diatas sebenarnya hanya khayalan saja. Perempuan berkaca mata gelap, bertopi, dan bertas hitam tidak terlihat atau tidak tampak dalam pentas.


Telah disebutkan bahwa obyek imajinasi adalah benda atau sesuatu yang dibendakan, termasuk disini segala sifat dan keadaannya. Sebagai latihan dapat dipakai cara-cara sebagai berikut:


Sebutkan sebanyak mungkin benda-benda yang terlintas di otak kita. Jangan sampai menyebutkan sebuah benda lebih dari satu kali.

Sebutkan sebuah benda yang tidak ada disekitar kita kemudian bayangkan dan sebutkan bentuk benda itu, ukurannya, sifatnya, keadaannya, warna, dsb.


Menganggap atau memperlakukan sebuah benda lain dari yang sebenarnya. Contohnya, menganggap sebuah batu adalah suatu barang yang sangat lucu, baik itu bentuknya, letaknya, dsb. Sehingga dengan memandang batu tersebut kita jadi tertawa terpingkal-pingkal.


Menganggap sesuatu benda memiliki sifat yang berbeda-beda. Misalnya sebuah pensil rasanya menjadi asin, pahit, manis kemudian berubah menjadi benda yang panas, dingin, kasar, dsb.


EMOSI


Emosi dapat diartikan sebagai ungkapan perasaan. Emosi dapat berupa perasaan sedih, marah, benci, bingung, gugup, dsb. Dalam drama, seorang pemain harus dapat mengendalikan dan menguasai emosinya. Hal ini penting untuk memberikan warna bagi tokoh yang diperankan dan untuk menunjang karakter tokoh tersebut. Emosi juga sangat mempengaruhi tubuh, yaitu tingkah laku, roman muka (ekspresi), pengucapan dialog, pernapasan, niat. Niat disini timbul setelah emosi itu terjadi, misalnya setelah marah maka tinbul niat untuk memukul, dsb.


PENGHAYATAN


Penghayatan adalah mengamati serta mempelajari isi dari naskah untuk diterpakan tubuh kita. Misalnya pada waktu kita berperan sebagai Pak Usman yang berprofesi sebagai polisi, maka saat itu kita tidak lagi berperan sebagai diri kita sendiri melainkan menjadi Pak Usman yang berprofesi sebagai polisi. Hal inilah yang harus kita terapkan dengan baik jika kita akan memainkan sebuah naskah drama.


Cara-cara yang dipergunakan dalam penghayatan adalah:


Pelajari naskah secara keseluruhan, supaya dapat mengetahui apa yang dikehendaki oleh naskah, problema apa yang ditonjolkan, serta apa titik tolak dan inti dari naskah.


Melakukan gerak serta dialog yang terdapat dalam naskah. Jadi disini kita sudah mendapat gambaran tentang akting dari tokoh yang akan kita perankan.


Sebagai latihan cobalah membaca sebuah naskah / dialog dengan diiringi musik sebagai pembantu pemberi suasana. Hayati dulu musiknya baru mulailah membaca.


KOMPOSISI PENTAS


Komposis pentas adalah pembagian pentas menurut bagian-bagian yang tertentu. Komposisi pentas ini dibuat untuk membantu blocking, dimana setiap bagian pentas mempunyai arti tersendiri.


Kadar kekuatan pentas dapat dilihat pada urutan penempatannya. Bagian depan lebih kuat daripada bagian belakang. Bagian kanan lebih kuat daripada bagian kiri. Oleh karena itu jangan menempatkan diri atau benda yang kadar kekuatannya tinggi pada bagian yang kuat. Carilah tempat-tempat yang sesuai agar blocking kelihatan seimbang. Walaupun demikian harus tetap dalam batas-batas yang wajar, jangan terlalu dibuat-buat.

Jumat, 17 Juni 2011

GURU DAN BERBAGAI PERANNYA

Guru memiliki berbagai tugas yang harus diemban, bukan hanya sekedar dalam bidang pengajaran tetapi seorang guru juga memiliki tugas yang meliputi bidang profesi, bidang kemanusiaan dan bidang kemasyarakatan. Tugas guru sebagai profesi meliputi mendidik, mengajar dan melatih. Mendidik berarti meneruskan dan mengembangkan nilai-nilai hidup dan kehidupan. Mengajar berarti meneruskan dan mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi. Sedangkan melatih berarti mengembangkan keterampilan-keterampilan pada siswa.

Peran guru tidaklah hanya berhenti sebagai pengajar yang melakukan transfer ilmu saja, karena tanpa adanya peran sebagai motivator maka sia-sialah peran guru sebagai sosok yang melakukan transfer ilmu. Guru sebagai motivator adalah guru yang mampu membangkitkan motif atau keinginan seseorang untuk melakukan suatu tindakan tertentu. Berdasarkan kedudukannya sebagai seorang guru tentu memiliki sasaran yang pasti yaitu murid-murid yang dihadapinya sehari-hari. Bangkitnya motivasi murid-muridnya untuk meraih suatu prestasi merupakan bagian dari keberhasilannya sebagai seorang motivator dan merupakan suatu kebanggaan melihat murid yang dibimbingnya memiliki suatu prestasi yang optimal. Untuk menjadi seorang motivator bagi siswa-siswinya, seorang guru juga harus dapat memberi motivasi bagi dirinya sendiri yang otomatis menjadi motivator bagi dirinya sendiri.


Guru adalah posisi yang strategis bagi pemberdayaan dan pembelajaran suatu bangsa yang tidak mungkin digantikan oleh unsur manapun dalam kehidupan sebuah bangsa sejak dahulu. Semakin signifikannya keberadaan guru melaksanakan peran dan tugasnya semakin terjamin terciptanya kehandalan dan terbinanya kesiapan seseorang. Dengan kata lain potret manusia yang akan datang tercermin dari potret guru di masa sekarang dan gerak maju dinamika kehidupan sangat bergantung dari “citra” guru di tengah-tengah masyarakat.


Guru adalah manusia biasa dan sebagai manusia biasa dalam melaksanakan peran sebagai pendidik dan sebagai pemimpin bagi anak didiknya dalam pelaksanaan PBM (Proses Belajar Mengajar) mereka memiliki gaya tersendiri. dari hasil observasi yang saya temukan, ada tiga tipe kategori dari gaya guru sebagai pendidik yaitu; gaya otoriter, gaya masa bodoh dan gaya demokrasi.


Yang pertama, kita pasti pernah berhadapan dengan guru dengan gaya atau karakter otoriter ini, dimana memperlihatkan kekuasaan mutlak atas anak didiknya selama pelaksanaan PBM (proses Belajar Mengajar) dan karakter otoriter ini juga dapat mendatangkan mimpi buruk bagi setiap anak didik. Senyuman manis dan kata- kata yang lembut merupakan barang yang langka yang diperoleh dari guru berkarakter otoriter ini. Guru killer adalah istilah lain yang diberikan oleh anak didik untuk guru berkarakter otoriter tersebut.


Kedua, guru dengan karakter masa bodoh. Karakter seperti ini cendrung menurunkan kualitas budaya sekolah. Suasana kelas akan menjadi amburadul, apalagi bila anak didik dikelas cukup banyak. Peranan guru yang berkarakter “masa bodoh” ini bisa agak bagus apa bila ia mengelola kelas dengan anak didik sedikit. Guru dengan karakter demikian perlu bersikap lebih tegas dan punya prinsip atas nilai kebenaran. Menambah kualitas ilmu dan wawasan dan kemudian bersikap lebih tegas akan mampu mengatasi karakter masa bodoh tersebut.


Terakhir, Guru yang berkarakter demokrasi adalah guru yang memiliki hati nurani yang tajam. Guru dengan karakter beginilah yang mampu menghadirkan hatinya dalam emosi anak didik selama pembelajaran. Guru berkarakter demokrasi dan memiliki wawasan yang tinggi tentu akan mampu memenangkan hati anak didik atau memotivasi mereka dalam pembelajaran. Guru yang mampu menghadirkan hatinya pada hati anak didik disebut sebagai guru yang baik dan mereka akan dikenang oleh anak didik sepanjang hayatnya. Yang lebih banyak dikenang adalah guru yang baik.


Setiap anak didik telah banyak mengenal banyak guru dalam hidupnya, ada guru yang pintar dan ada guru yang baik. Sekali lagi bahwa guru yang berkesan bagi mereka adalah guru yang menghadirkan hati atau emosinya saat melaksanakan PBM. Guru yang cerdas atau pintar namun memiliki pribadi yang kaku, mungkin juga kasar, kurang bisa bersimpati, pasti tidak banyak memberi pengaruh kepada anak didik.


Guru yang mampu memberi pengaruh untuk masa depan anak didik lewat kata- kata atau bahasanya adalah guru yang memiliki pribadi yang hangat dan juga cerdas. Untuk itu adalah sangat ideal bila setiap guru mampu meningkatkan kualitas pribadinya menjadi guru yang cerdas, yaitu cerdas intelektual, cerdas emosi dan juga cerdas spiritualnya. Maka guru- guru yang beginilah yang patut diberi hadiah dengan lagu “guru pahlawan tanpa tanda jasa”.


Guru sukses bukan sekadar profesional namun kesejahteraannya memprihatinkan. Guru sukses juga bukan guru sejahtera namun profesionalismenya rendah. Begitu pula, guru sukses bukanlah guru yang profesional dengan kesejahteraan tinggi namun martabatnya rendah. Ketiga kata kunci di atas harus menjadi satu kesatuan yang melekat pada sosok guru sukses.


Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia , sukses (a) berarti: berhasil; beruntung. Merujuk pada pengertian sukses ini, saya memberikan definisi guru sukses sebagai guru yang berhasil sekaligus beruntung. Ya, definisi sukses adalah berhasil dan beruntung.


Karena guru adalah sebuah profesi, maka keberhasilan guru sukses haruslah sesuai profesinya itu, profesi guru, bukan profesi bidang lain! Misalnya: guru nyambi dagang (dan sukses dari dagangnya) bukanlah guru suskses, melainkan pedagang sukses. Oleh Sebab itu, guru sukses haruslah guru yang profesional, yakni guru yang berhasil (sukses) menjalankan profesinya. Hasil pelaksanaan tugas guru sukses harus mencapai target mutu di atas rata-rata, Sebut saja, hasil kerja guru sukses, misalnya: muridnya sukses mencapai tujuan pembelajaran di atas rata-rata standar minimal atau rata-rata murid yang diajar oleh guru lain.

Jumat, 28 Januari 2011

SYARAT-SYARAT KALIMAT YANG BAIK dan KOMUNIKATIF

A. Syarat-Syarat Kalimat yang Baik dan
Komunikatif

Komunikasi adalah proses penyampaian pesan dari pembicara kepada pendengar melalui sarana bahasa secara lisan dan tulisan. Komunikator atau pembicara menyampaikan informasi lewat kalimat-kalimat yang dianggap dapat menjelaskan maksud yang ingin diungkapkan. Kalimat-kalimat tersebut harus dapat dipahami oleh pendengar agar nantinya mendapatkan respons berupa jawaban atau tanggapan yang sesuai. Untuk mencapai komunikasi yang baik dan lancar, kalimat yang disampaikan harus efektif dan komunikatif.

Kalimat yang baik harus memenuhi persyaratan sebagai berikut.
(1) Tidak menyimpang dari kaidah bahasa
(2) Logis atau dapat diterima nalar
(3) Jelas dan dapat menyampaikan maksud atau pesan dengan tepat

Kalimat yang tidak menyimpang dari kaidah bahasa maksudnya adalah kalimat yang cermat baik dari segi pemilihan kata dan bentukan kata maupun susunan kalimatnya memenuhi aturan sintaksis yang benar. Sebaliknya, kalimat yang menyimpang dari kaidah bahasa, susunan kalimatnya tidak sesuai dengan aturan sintaksis yang benar.
Contoh:
1.Pada jadwal di atas menunjukkan kereta eksekutif ArgoLawu berangkat pada
pukul 17.00 dari Gambir.

2.Bagi yang menitip sepeda motor harus dikunci.
3.Yang punya HP harus dimatikan.
Kalimat di atas meskipun dapat dipahami tapi terasa janggal didengar. Pada kalimat pertama terasa ada yang kurang secara sintaksis. Jabatan subjeknya tidak ada karena penggunaan kata tugas “pada”. Jika kata “pada” dihilangkan, akan terasa lebih tepat. Penggunaan kata tugas “bagi” pada kalimat kedua juga tidak pada tempatnya dan tidak perlu sebab yang dimaksud sesungguhnya adalah sepeda motor yang dititipkan bukan orangnya. Kalimat kedua mengandung pengertian bahwa yang dititipkan adalah pemilik sepeda motor atau orangnya. Demikian pula pada kalimat ketiga, yang dimatikan adalah HP bukan pemilik HP. Perbaikan kalimat di atas ialah:
1.Jadwal di atas menunjukkan kereta api eksekutif Argo Lawu berangkat pada
pukul 17.00 dari Gambir.

2.Sepeda motor yang dititipkan harus dikunci.
3.Yang memiliki HP agar mematikan HP-nya.

Kalimat juga harus logis atau dapat dinalar oleh akal. Meskipun secara gramatikal sesuai dengan kaidah namun jika tidak logis, kalimat tersebut tak akan dapat dipahami dengan baik bila disampaikan kepada orang lain.
Contoh:
1.Anak-anak itu sedang asyik makan pohonan.
2.Ini adalah daerah bebas parkir.
3.Di sini tempat pendaftaran buta huruf.
Ketiga kalimat di atas salah nalar. Kalimat pertama jelas tidak masuk akal. Secara akal sehat, tidak ada manusia yang memakan pohonan sebab pengertian pohonan adalah keseluruhan pohon dari akar dan batang hingga daun. Kata pohonan juga dapat dimaknai banyak pohon. Meskipun secara struktur kalimatnya benar karena ada subjek, predikat, dan objek, tapi secara nalar tidak masuk akal. Kalimat kedua dan ketiga juga tidak tepat. Pengertian bebas parkir harusnya sama dengan bebas narkoba, bebas becak, dan bebas bea yang artinya daerah tersebut tidak ada lagi narkoba, becak, atau pungutan. Tapi arti bebas parkir mengapa jadi boleh parkir tanpa bayar. Kalimat ketiga maksudnya bagi yang buta huruf agar mendaftar di tempat ini untuk mendapatkan pengajaran. Pengertian pada kalimat di atas adalah orang mendaftarkan diri agar jadi buta huruf.
Perbaikan kalimat-kalimat di atas, yaitu:

1.Anak-anak itu sedang asyik mengumpulkan pohonan.
2.Ini adalah daerah boleh parkir bebas atau parkir gratis.
3.Di sini tempat pendaftaran kursus paket A bagi yang buta huruf.

Kalimat yang baik juga harus mengandung pengertian yang jelas, tidak membingungkan serta tidak menimbulkan penafsiran ganda atau ambigu. Tidak sedikit pula kita temui kalimat-kalimat yang diucapkan oleh penutur bahasa mengandung pengertian ganda. Kalimat ini selain dapat membingungkan juga menimbulkan respons atau tanggapan yang tak sesuai karena tidak tersampaikannya pesan secara benar.
Contoh:
1.Saya melihat kelakuan anak itu bingung.
2.Mereka mengantar iring-iringan jenazah ke kuburan.
3.Semua mahasiswa fakultas yang baru agar berkumpul di ruang senat.
Ketiga kalimat di atas bermakna ganda. Kalimat pertama mengandung dua pengertian, dapat anak yang bingung atau saya yang bingung. Jika anak yang bingung, kata bingung harus mendapatkan imbuhan ke—an menjadi kebingungan. Jika saya yang bingung, kata bingung harus berada setelah kata saya. Perbaikannya ada dua varian, yaitu:
1a. Saya bingung melihat kelakuan anak itu.
1b. Saya melihat anak itu kebingungan.
Kalimat kedua bermakna jenazah yang diantar banyak. Frasa iringiringan jenazah mengandung pengertian jamak. Jadi pengertian kalimat kedua adalah mereka mengantarkan banyak jenazah ke kuburan. Apa benar? Sebenarnya maksudnya kata iring-iringan bukan ditujukan pada jenazah, tapi para pengiringnya sehingga makna sebenarnya adalah mereka mengantar para pengiring jenazah ke kuburan. Dan lebih jelas lagi jika kata mengantar dihilangkan. Perbaikannya ialah sebagai berikut:
2a. Mereka mengantar jenazah ke kuburan.
2b. Mereka mengiringi jenazah ke kuburan.
Kalimat ketiga dapat menimbulkan salah pengertian karena yang dimaksud adalah mahasiswa baru atau mahasiswa fakultas yang baru. Predikat baru ditujukan kepada mahasiswa atau pada fakultasnya. Perbaikannya ada dua varian, yaitu:
3a. Semua mahasiswa baru di fakultas itu agar berkumpul di ruang senat. atau
3b. Semua mahasiswa pada fakultas yang baru itu agar berkumpul di ruang senat.

B. Kalimat yang Komunikatif, tetapi tidak Cermat
Dalam proses komunikasi sering kita temui kalimat yang ditulis atau diucapkan tidak terlalu mengindahkan tata bahasa atau gramatikal. Artinya, kemungkinan dalam penyusunan kalimat banyak terjadi kesalahan atau kurang cermat, namun dapat dipahami karena memang sudah terbiasa didengar atau diucapkan. Namun, tetap saja ketidakcermatan penyusunan kalimat tidak menjamin terjadinya komunikasi yang efektif. Oleh sebab itu, kita harus memahami kriteria kalimat yang kurang cermat. Ketidakcermatan kalimat dapat ditinjau dari beberapa segi berikut.

1. Ketidaklengkapan unsur-unsurnya

Sebuah kalimat jika tidak lengkap unsur-unsurnya apalagi unsur tersebut seharusnya ada menjadi tidak berarti. Di dalam kalimat, terdapat minimal dua unsur, yaitu subjek dan predikat. Kalimat yang seharusnya memiliki unsur jabatan tersebut lalu secara tersurat tak terungkap membuat kalimat menjadi rancu.
Contoh:
a.Dilengkapinya perpustakaan dengan koleksi buku remaja menjadikan
bertambahnya para pengunjung perpustakaan sekolah.

(Kalimat ini tidak menjelaskan siapa yang melengkapi perpustakaan. Artinya,
kalimat ini tidak menyertakan siapa pelakunya atau subjek kalimatnya.)

b.Dengan bersemangat Pak guru menceritakan kepada anak-anak muridnya agar
mereka dapat mengambil hikmah.

Kalimat ini tidak lengkap pada objeknya. Hal apa yang diceritakanoleh pelaku tidak tertera atau dijelaskan. Jika pun strukturnya dipertahankan, supaya tidak rancu, kata menceritakan yang merupakan verba transitif diubah menjadi intransitif bercerita). Perbaikan kalimatnya ialah:
a.Dilengkapinya perpustakaan dengan koleksi buku remaja oleh kepala sekolah
menjadikan bertambahnya para pengunjung perpustakaan sekolah.

b.Dengan bersemangat Pak guru bercerita kepada murid-muridnya agar mereka
dapat mengambil hikmah.


2. Ketidaktepatan penempatan unsur-unsurnya
Kalimat yang tidak tepat kedudukan unsur-unsurnya membuat kalimat tersebut tidak dapat dipahami atau sulit dimengerti.
Contoh:
a.Petani sebelum ada kebijakan impor gula dari pemerintah, tidak pernah
mengalami kerugian hingga puluhan juta rupiah.

b.Setelah ia dan istrinya mendapat teror terus-menerus, segera melapor kepada
pihak kepolisian.

Kedua kalimat ini terasa janggal karena ada ketidaktepatan penempatan salah satu unsur kalimatnya. Jika diperhatikan, kesalahan ada pada kata petani yang seharusnya diletakkan setelah klausa keterangan sebelum ada kebijakan impor gula dari pemerintah. Begitu pula dengan kalimat kedua, kata atau subjek ia dan istrinya seharusnya diletakkan pada kalimat induk segera melaporkan kepada pihak kepolisian.
Perhatikanlah perbaikannya berikut ini.
a.Sebelum ada kebijakan impor gula dari pemerintah, petani tidak pernah
mengalami kerugian hingga puluhan juta rupiah.

b.Setelah mendapat teror terus-menerus, ia dan istrinya segera melapor kepada
pihak kepolisian.

Perhatikan kembali contoh berikut:
c. Selanjutnya saya akan berikan kekurangannya setelah pekerjaan selesai.
d. Jadi, kita harus sukseskan pilkada tahun ini.
Kedua kalimat ini juga janggal. Keterangan aspek seperti akan, belum, telah, masih, sedang, dan sebagainya tidak boleh disisipkan pada kata kerja pasif yang berupa ikatan erat antara subjek kata kerjanya.
Perhatikan perbaikannya berikut ini:
c. Selanjutnya akan saya berikan kekurangannya setelah pekerjaan selesai.
d. Jadi, harus kita sukseskan pilkada tahun ini.

3. Penggunaan unsur-unsur kalimat yang berlebihan
Ketidakcermatan kalimat juga dapat dilihat dari penggunaan unsur kalimat yang berlebihan. Unsur yang berlebihan itu dapat berupa penggunaan kata yang sama artinya atau pemakaian kata tugas yang tidak perlu.
Contoh:
a.Para ibu-ibu sedang mengikuti penyuluhan hidup sehat dan bersih.
b.Di dalam tubuhnya terdapat banyak virus-virus yang membahayakan.
c.Remaja harus mengetahui akan bahaya narkoba.
d.Bagi siswa yang mengisi acara pensi harap segera menghubungi panitia.
Kalimat pertama dan kedua berlebihan dalam hal pemakaian kata para dan banyak yang menunjukkan makna jamak. Maka, kata berikutnya tidak perlu diulang. Kalimat ketiga dan keempat tidak perlu memakai kata tugas akan dan bagi. Jadi, kalimat yang benar ialah:
a. Para ibu sedang mengikuti penyuluhan hidup sehat dan bersih.
b. Di dalam tubuhnya terdapat banyak virus yang membahayakan.
c. Remaja harus mengetahui bahaya narkoba.
d. Siswa yang mengisi acara pensi harap segera menghubungi panitia.

4. Pilihan kata tidak tepat
Ketidakefektifan atau ketidakcermatan penyusunan kalimat juga dapat disebabkan karena pilihan kata tidak tepat. Hal ini dapat dipengaruhi oleh bahasa sehari-hari atau pengaruh bahasa asing.
Selain itu, ketidakpahaman terhadap arti sebuah kata menyebabkan penggunaan kata tersebut tidak tepat.
Contoh:
a.Kepada yang pernah ke gunung ini pasti akan merasakan dinginnya udara di sini.
b.Kenikmatan mie buatannya menggemparkan warga sekitarnya.
c.Rumahnya besar sendiri dibandingkan rumah-rumah tetangganya.
Kalimat pertama terdapat ketidakcocokan antara kata pernah dan akan. Kata pernah menunjukkan sudah dilakukan, bertentangan dengan kata akan yang baru atau belum dialami. Seharusnya kata akan diganti dengan sudah. Kata depan kepada juga sebaiknya dihilangkan. Kalimat kedua ketidaktepatan pada kata menggemparkan. Kata ini berkonotasi negatif yang berarti membuat panik. Padahal kenikmatan adalah suatu kesenangan dan dalam hal ini berkaitan dengan urusan rasa. Maka, frasa yang tepat adalah membuat takjub. Kalimat ketiga kata besar sendiri dipengaruhi bahasa daerah gede dewe, yang tepat adalah paling besar. Jadi, perbaikannya.
a.Mereka yang pernah ke gunung ini pasti sudah merasakan dinginnya udara di
sini.
b.Kenikmatan mie buatannya membuat takjub warga sekitarnya.
c.Rumahnya paling besar dibandingkan dengan rumah-rumah tetangganya.


C. Kalimat yang Cermat, tetapi tidak Komunikatif
Kalimat yang disampaikan oleh pembicara secara lisan atau penulis secara tertulis mungkin saja telah sesuai dengan kaidah bahasa, namun jika penyampaiannya tidak lugas dan padat, dapat menyulitkan komunikan untuk memahaminya. Sebuah kalimat dapat saja penyusunannya sudah cermat tapi tidak komunikatif. Hal ini dapat terjadi karena hal-hal berikut ini.

1. Kalimat terlalu luas atau berbentuk kalimat majemuk kompleks.
Kalimat yang terlalu luas atau panjang dapat mengaburkan maksud yang sebenarnya dari kalimat tersebut. Meskipun penyusunannya tidak menyalahi kaidah gramatikal, namun karena kata yang dipergunakan banyak dan bercabang, dapat menyebabkan pesan yang dikandungnya jadi tidak dapat ditangkap secara utuh.
a.Karena dalam kurikulum itu bidang studi Bahasa Indonesia mendapat tempat
yang teratas berdasarkan alokasi waktu yang disediakan untuk pelajaran Bahasa
Indonesia, yaitu 8 jam pelajaran seminggu, sedangkan untuk bidang studi yang
lain berkisar dari 2 sampai dengan 6 jam seminggu, pelajaran Bahasa Indonesia
dianggap sangat penting dalam rangka mencapai pendidikan nasional
berdasarkan Pancasila, yaitu untuk meningkatkan ketaqwaan terhadap Tuhan
Yang Maha Esa, kecerdasan, keterampilan, mempertinggi budi pekerti,
memperkuat kepribadian, dan mempertebal semangat kebangsaan.

b.Bahasa Indonesia yang oleh Sumpah Pemuda pada 28 Oktober 1928 diakui
sebagai bahasa nasional dipakai di seluruh Indonesia, di daerah-daerah yang
berbeda-beda latar belakang kebahasaan, kebudayaan, kesukuan, dan di dalam
lapisan masyarakat yang berbeda-beda pula latar belakang pendidikannya.


Dua contoh kalimat di atas merupakan kalimat luas atau panjang karena terdapat klausa-klausa perluasan subjek dan predikat. Uraian kalimat yang terlalu luas itu sulit dicerna jika disampaikan secara lisan, dan juga harus dibaca lebih dari sekali untuk memahaminya dalam bentuk tulisan. Kalimat dapat diperpendek agar lebih mudah dan cepat dipahami dalam bentuk berikut ini.
a.Dalam kurikulum itu, bidang studi Bahasa Indonesia mendapat tempat teratas,
yaitu 8 jam pelajaran seminggu, sedangkan untuk bidang studi yang lain berkisar
2 sampai 6 jam seminggu. Karena itu, pelajaran Bahasa Indonesia dianggap
penting dalam rangka mencapai pendidikan nasional berdasarkan Pancasila,
yaitu untuk meningkatkan ketakwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa,
kecerdasan, keterampilan, mempertinggi budi pekerti, memperkuat kepribadian,
dan mempertebal semangat kebangsaan.

b.Bahasa Indonesia yang dalam sumpah Pemuda telah diakui sebagai bahasa
nasional dipakai di seluruh Indonesia yang memiliki keragaman bahasa, budaya,
suku, dan lapisan masyarakat yang berbeda-beda latar belakang pendidikannya.


2. Kalimat yang terperinci namun pengertiannya secara umum sudah diketahui
Kalimat yang cenderung panjang kemungkinan dibebani dengan penjelasan yang harus terperinci. Namun, adakalanya kalimat dapat panjang karena menggunakan keterangan yang tidak perlu. Keterangan tersebut secara umum sudah diketahui oleh pendengar atau pembaca. Dengan kata lain, penjelasan tersebut dapat diganti dengan kata yang sepadan tetapi lebih hemat.
Contoh:
a.Hari ini, Rudi menggunakan baju dengan kerah pendek yang biasa orang pakai
untuk salat di masjid.

b.Andi memasukkan angin ke dalam ban sepeda agar ban itu kembali dapat
dijalankan.

Kalimat di atas terlalu panjang dan tidak efektif. Kedua kalimat di atas dapat diganti dengan kalimat berikut.
a.Hari ini, Rudi memakai baju koko.
b.Andi memompa ban sepedanya agar dapat jalan lagi.

3. Kalimat tidak logis
Kalimat yang disampaikan secara cermat juga dapat tidak komunikatif karena tidak logis. Kalimat seperti ini dapat menyebabkan salah penafsiran sehingga menimbulkan pemahaman dan tanggapan yang berbeda.
Contoh:
a.Dengan mengucapkan puji syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa, selesailah
karya tulis ini.

b.Pemenang terbaik ke-2 akan mendapatkan voucher belanja seharga 2 juta rupiah.
Kalimat pertama memang tidak logis karena tidak mungkin dengan mengucapkan puji syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa dapat membuat karya tulis selesai. Kalimat kedua tidak logisnya pada kata terbaik. Makna kata terbaik adalah paling baik, jadi tidak ada terbaik kedua.
Kalimat di atas dapat diperbaiki menjadi:

a.Penulis mengucapkan puji syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa karena karya
tulis ini dapat penulis selesaikan. Atau Puji syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa
karena penulis dapat menyelesaikan karya tulis ini.

b.Pemenang ke-2 akan mendapatkan voucher belanja seharga 2 juta rupiah.

D. Menggunakan Kalimat yang Efektif dan Santun
Dalam komunikasi, bukan hanya penyampaian kalimat yang efektif dan komunikatif yang harus diperhatikan, tetapi juga kesantunan dalam berbahasa. Kalimat yang santun lebih ditujukan untuk penghormatan kepada mitra bicara atau komunikan. Penyampaian kalimat memang harus tetap efektif, cermat, dan komunikatif juga bernilai rasa bagus dan santun.
Untuk menyampaikan kalimat yang santun, harus dipertimbangkan pula penggunaan kosakata baku dan pilihan kata yang sewajarnya serta tidak berkonotasi kurang baik. Dengan kalimat yang efektif dan santun, tanggapan yang muncul dari mitra komunikasi juga akan berkesan baik.
Perhatikanlah contoh kalimat di bawah ini.

1a. Agar kami dapat memberikan nilai pada pekerjaan Saudara, kami perlu data
pribadi Saudara.

Bandingkan dengan:
1b. Agar kami dapat mengevaluasi pekerjaan Saudara, kami membutuhkan data
pribadi Saudara.

2a. Yang kami tahu selama ini, belum ada siswa yang dikeluarkan karena kasus
narkoba.

Bandingkan dengan:
2b. Sepengetahuan kami, belum ada siswa yang dikeluarkan karena kasus
narkoba.

3a. Setelah membaca surat Saudara tertanggal 4 Juli 2007 dengan nomor surat
122/PC-3/2007, maka kami kirimkan surat balasan...

Bandingkan dengan:
3b. Menjawab surat Saudara tertanggal 4 Juli 2007, Nomor 122/PC-03/2007, kami
sampaikan bahwa...

4a. Untuk menyambut tamu yang kita hormati, kami harap hadirin berdiri.
Bandingkan dengan:
4b. Untuk menyambut tamu kehormatan kita, kami mohon kesediaan hadirin untuk
berdiri.

5a. Kami ucapkan mohon maaf yang sebesar-besarnya atas kelalaian kami
tersebut.

Bandingkan dengan:
5b. Kami menyampaikan permohonan maaf atas kelalaian kami tersebut.
Kalimat b lebih terasa santun daripada kalimat a.

Selasa, 31 Agustus 2010

SASTRA ISLAMI

SASTRA ISLAMI

A. PENGARUH ISLAM DALAM KESUSASTRAAN INDONESIA
Pengaruh Islam dalam kesusastraan di Indonesia dimulai sekitar abad ke-13 yaitu ketika masuknya orang-orang Gujarat (keturunan India) dan Arab Persia ke Indonesia. Hal ttersebut berdasarkan pada bukti sejarah yang ditemukan oleh Marcopollo di Samudera Pasai (sekarang Sumatera) pada tahun 1292 yang mendapati adanya peninggalan golongan Islam di Sumatera. Dia menemukan sebuah prasasti pada batu nisan Malikussaleh (Sultan Pasai) yang memerintah di Samudera Pasai (Sumatera) pada akhir abad ke-13.
Beberapa bentuk karya sastra Islam mulai berkembang di Indonesia diawali dengan genre sastra pantun, sajak, kith’ah, hikayat, syair, nazam, gasal, kith’ah, dan roman. Karya sastra Islami yang bersifat modern bahkan kontemporer pada saat ini telah berkembang sangat pesat. Jenisnya tidak lagi hanya dalam bentuk pantun, hikayat, syair, nazam, gasal, kith’ah, dan roman saja tetapi sudah merambah ke genre cerpen, puisi, bahkan novel.

B. BENTUK SASTRA ISLAMI
1. Sajak
Merupakan bentuk genre dari pantun, cirinya pun hampir sama dengan pantun yang mengutamakan jumlah baris setiap bait, dan mengutamakan persajakan atau bunyi di akhir barisnya. Namun, keseluruhan syair adalah isi. Contoh sajak yang bernuansa Islami adalah sebagai berikut :

SUJUD

Oh, bukanlah dalam kata yang rancak
Kata yang pelik bercampur berserak
Memuji, meminta kepada pemberi nikmat dan laknat
Bukan dalam bentuk kata yang padat
Melainkan dalam maksud isinya sarat
Meratap, mengemis, menangis dalam sarikat salat

Pecah bejana lumbung dosa
Bernapas lupa termakan suka
Berduka disambung bahasa jalang
Ingat dosa berselubung malang
Mengenang sejarah tak pula kembali berulang
Karena senja kembali tidurkan petang

Besarkan budiman sertakan rayu
Dalam serikat doa menjadi padu
Pinta ampun dosa terdahulu

2. Pantun
Merupakan genre sastra tertua di Indonesia. Pantun Islami banyak berisi tentang nasihat untuk melakukan kebajikan, seruan amarma;ruf nahimungkar, dan lain-lainnya. Contoh pantun nasihat adalah sebagai berikut :

Pandang langit di ufuk barat
Merah tembaga silau mengkilat
Kurang pikir kurang siasat
Tentu dirimu kelak tersesat

Buah cempedak dimakan ulat
Ulat mati karena obat
Jaga lisan luruskan niat
Agar hidup dipenuhi rahmat

Bertanam buah di negeri kiblat
Tak berjaya air di tanah berpasir
Tetap istiqomah dirikan salat
Jangan lupakan zakat agar tidak jadi kikir

Telanlah pahitnya obat
Agar badan menjadi sehat
Terimalah pahitnya nasihat
Agar hidupmu tidak tersesat


3. Kith’ah
Adalah sejenis puisi yang berasal dari saduran atau terjemahan puisi berbahasa Arab atau Persia yang berisi terjemahan makna suatu surat Al Quran atau peribahasa Islam. Contohnya kith’ah :

Jika ku lihat dalam tanah pada ihwal sekalian insan,
Tiadalah ku dapat bedakan perihal antara rakyat dan sultan
Fana juga sekalian yang ada, dengarlah yang Alloh Azzawajalla berfirman :
“Kullu Man’alaiha Fanin”
Barang siapa yang berada di atas bumi itu senyaplah jua

Jika kau lihat gunung tinggi mengapai awan
Tiadalah kau dapat berlari ke atasnya seperti Kan’an
Ketika nyawa akan berpisah dengan badan tak ada yang kuasa menahan,
Meski gunung menantang menjulang, Tuhan akan menghancurkan
“Fazaruhaqo’an Shof-shofan”
Maka DIA akan menjadikan gunung-gunung datar sama sekali.

4. Hikayat
Merupakan cerita kuno sejenis roman yang penggambaran/pelukisan ceritanya menggunakan bahasa khayal, Isinya bersifat istana sentris (bercerita tentang kehidupan sekitar istana, putrid dan raja) atau menceritakan tentang nenek moyang yang berasal dari dewa-dewa kayangan.
Cerita digambarkan dengan penuh kejadian yang mengagumkan dan menakjubkan dan cerita berakhir dengan bertemunya putrid raja dengan kekasihnya dan menikah kemudian hidup berbahagia dalam kerajaan yang makmur.
Beberapa contoh hikayat antara lain :

a) Hikayat 1001 malam
Menceritakan seorang raja yang berkuasa tetapi memiliki kekecewaan yang begitu besar akan cinta. Raja ini selalu membunuh kekasih dan permaisurinya hanya karena dia tidak ingin kecewa karena perasaan cintanya. Setiap memiliki permaisuri yang dinikahinya maka keesokan harinya istrinya itu pasti telah ditemukan tidak bernyawa lagi.
Setelah sekian banyak korban maka ada seorang putrid cantik, alim, dan bijaksana, anak menteri kerajaan. Raja jatuh hati kepadanya, mengetahui perangai sang raja puteri itu pun bercerita setiap malam dihadapan raja dan cerita itu tidak pernah berakhir dari satu malam ke malam berikutnya. Ceritanya senantiasa bersambung sampai raja lupa akan niatnya untuk membunuh sang putrid yang telah menjadi istrinya itu. Dikisahkan jika putrid itu bercerita hingga seribu satu malam untuk menaklukkan hati sang raja sehingga raja tersadar jika sesungguhnya masa lalu yang pahit itu tidak selamanya akan mengikuti hidupnya.
Cerita ini memiliki pesan jika kesuraman masa lalu seseungguhnya adalah pelajaran dan batu pijakan untuk tetap mengayuh biduk hidup di masa depan. Cerita ini mengajarkan manusia untuk tetap optimis menatap masa depan.Kegagalan adalah kesuksesan yang tertunda.

b) Hikayat Amir Hamzah
Merupakan karya sastra tertua berbentuk hikayat jumlah kisahnya beribu-ribu. Awal masuk ke Indonesia diterjemahkan dalam bahasa Melayu. Karangan aslinya berasal dari Persia yang berbentuk sajak-sajak.
Salah satu ceritanya mengisahkan peperangan antara kaum kafir dengan muslim namun cerita dibalut dengan setting sedemikian rupa sehingga menghidupkan jalannya cerita. Peperangan yang terjadi di Mekkah itu berlangsung antara Amir Hamzah yang menjadi putra dari Abdul Muthalib dan Umar bin Khatab putra dari pembantu Abdul Muthalib yang bernama Ummaya Al Dahmri.

c) Hikayat Muhammad Ibnu Hanafiah
Merupakan cerita sage (cerita kepahlawanan) Islam, hikayat ini lahir sebelum lahirnya sejarah Melayu. Cerita ini berasal dari Arab Persia. Isi dan ceritanya pun berbeda-beda.
Keistimewaan cerita ini adalah wafatnya Muhammad Ibnu Hanafiah yang diceritakan gugur saat melawan Yazid putra Muawwiyah dari bani Ummayah. Diceritakan Muhammad Ibnu Hanafiyah meninggal dalam gua yang tertutup batu-batu. Dikalangan pengikut Ali bin Abi Thalib (kaum Syi’ah) ia dikenal sebagai ”Imam Tersembunyi” dan diyakini oleh kaum Syi’ah jika ia tidak mati dan diceritakan dia akan menjadi “Imam Ghaib”.

d) Hikayat Iskandar Zulkarnaen
Menceritakan tentang keberanian, sifat patriotisme yang tinggi dari Iskandar Zulkarnaen yang juga dikenal dengan nama Alexander yang Agung, yang berniat menaklukkan dunia dan menyatukannya dalam kekuasaan Iskandariah (kebudayaan Hellenisme). Diceritakan kerajaan Mesir, Persia, dan India berhasil ditaklukkannya tetapi saat perjalanan untuk menaklukkan Arabia dia meninggal.
Legenda yang terkenal dari cerita ini adalah ketika Iskandar Zulkarnaen mencari mata air kehidupan atau Maulhayat agar dia hidup kekal untuk dapat memimpin dunia. Namun dia tidak pernah berhasil. Ternyata kokinyalah yang berhasil menemukannya dan tanpa disadari koki (juru masak) yang waktu itu mandi di sebuah mata air yang ternyata Maulhayat yang memiliki keabadian. Iskandar Zulkarnaen marah dan berusaha membunuh kokinya tersebut dengan berbagai cara tetapi sang koki tidak dapat mati karena telah mandi di Maulhayat. Koki itu pun dibuangnya ditengah laut tetapi tetap tidak mati juga dan akhirnya koki itu menjadi hantu (penjaga) laut.
Cerita ini memiliki pesan jika hidup kekal atau abadai itu tidak mungkin bagi manusia karena hanya Alloh Azzawajalla yang abadi. Apabila benar terjadi maka tidak akan mendapatkan kebahagiaan seperti yang dialami sang koki.

5. Syair
Merupakan genre sastra yang berasal dari peradaban dan budaya Arab. Syair berasal dari kata sya’ara berarti menembang atau syu’ur bermakna tembang jadi syair bermakna kata-kata yang ditembangkan. Biasanya syair berisi nasihat, cerita, dongeng, lukisan suatu peristiwa, pengajaran, dan lain-lain. Contoh syair berisi cerita :



HIDUP SENGSARA

Setelah didengar raja bestari
Murka baginda tiada berperi
Pedang terhunus baginda sendiri
Permaisuri tua meregangkan diri
Seraya katanya, janganlah begitu…
Pandanglah mata saudaramu itu
Jika dibunuh bundanya itu
Jadilah dinda tidak bertentu
Hidup dunia berasa sepi
Puspa bermekar dipagari
Mengharap wangi melambung tinggi
Merajuk hati hidupkan yang mati
Jangan siakan gunung seribu
Sembulkan pelita memangku daku
Berpandang terang merayu
Berkaca bahagia dituntun restu

6. Roman
Adalah karya sastra yang menceritakan perubahan nasib seseorang dari kisah hidupnya yang diceritakan dari lahir hingga matinya tokohnya. Roman yang berbau Islami di Indonesia sangatlah banyak salah satu pengarang roman yang terkenal adalahHaji Abdul Karim Amrulloh atau dikenal dengan nama Hamka. Salah satu romannya yang termasyur adalah “Di bawah Lindungan Ka’bah”.
Roman ini menceritakan kisah cinta yang berbalut religiusitas tokohnya. Kisah cinta antara Hamid dan Zaenab yang tidak mampu terwujud karena orang tua Zaenab tidak merestui hubungan Zaenab dengan Hamid yang notabene adalah seorang pemuda yatim yang miskin. Hamid adalah sosok pemuda yang berperangai baik, budi bahasanya santun, dan soleh. Dalam cerita ini dikisahkan jika Zaenab dan Hamid bersekolah ditempat yang sama karena Hamid merupakan anak angkat dari keluarganya Zaenab tetapi setelah selesai masa sekolah Zaenab dipingit oleh orang tuanya. Hal ini dilakukan sebagai isyarat yang paling halus untuk melarang Zaenab melanjutkan hubungan asmara anaknya dengan Hamid, anak angkatnya itu. Orang tuanya mengatakan jika Zaenab telah memiliki calon suami dan meminta Hamid untuk menjaga jarak dengan Zaenab bahkan meminta Hamid membujuk Zaenab agar mau menerima pinangan dari calon suami pilihan orang tuanya. Hal ini membuat Hamid sangat terpukul.
Merasa kisah cintanya tidak akan terwujud, maka Hamid pun memutuskan untuk mengembara mengelili dunia dengan tujuan untuk melupakan Zaenab. Ketika Hammid sedang berada di Mekkah melakukan ibadah haji dia bertemu dengan sahabatnya pada waktu sekolah di Padang Panjang dahulu yang kebetulan isterinya adalah teman Zaenab, bernama rosna.
Pertemuan suami Rosna dengan Hamid pun samapi ke telinga Zaenab. Kemudian Zaenab meminta kepada Rosna agar menyampaikan kepada Hamid agar pulang ke Padang Panjang karena Zaenab sedang sakit parah. Lama Zaenab menunggu kedatangan Hamid tetapi akhirnya Rosna pun mengirimkan kabar kepada Hamid jika Zaenab telah meninggal. Mendengar kabar itu Hamid semakin merasa hancur. Sebagai manusia saleh dia pun tetap bertawakal menerima kenyataan tersebut, berusaha ikhlas mengahadapinya. Di hadapan Ka’bah Hamid selalu berdoa agar Zaenab mendapatkan tempat terbaik disisi-Nya. Tak lama kemudian meninggal ketika masih melakukan ibadah di Mekkah.

7. Puisi
Puisi-puisi Islami sudah sangat banyak lahir di era ini. Cirinya tentu saja sudah sangat jelas yaitu mengandung makna yang mendidik menurut ajaran Islam. Tokoh-tokoh puisi Islami juga tidak sedikit beberapa diantaranya adalah Emha Ainun Najib, Taufik Ismail, Ratih Sanggarwati, dan masih banyak lagi para pengarang dan penulis puisi Islami di Indonesia.

8. Nasyid
Merupakan syair yang didendangkan/dinyanyikan. Isi syair nasyid adalah syair yang membangun jiwa, nasihat ibadah, pujian kepada Nabi Muhammad SAW atau Alloh SWT, dan pesan moral lainnya. Nasyid merupakan kolaborasi antara sayair dan musik jadi dalam nasyid sering ada penggunaan alat musik sebagai pengiringnya.




SAJAK
Karya : Rifa’i Ali

AKHIRAT dalam DUNIA


Kalau saya mencari rosul,
Kucari rosul insan biasa,
Agar beliau dapat kususul,
Dengan hidup seperti biasa,

Saya bertemu dengan Muhammad,
Yang memandang ibadat, tiap laku,
Segala tanda gerak hayat,
Dengan syarat ada satu,

Ialah niat, kesadaran hati,
Bahwa sesuatu perbuatan
Dilakukan dengan mengerti,
Bahwa ia disukai Tuhan.

Muhammad nabiku, sudahlah tepat,
Meneladannya genap bahagia,
Sebab didalam menuju akhirat,
Aku hidup di pusat dunia.

Dari mandi bergosok gigi,
Bersisir berharum badan,
Sampai bercinta dengan istri,
Terhitung semua jadi amalan.

Sejak pencangkulan tanah di gunung,
Yang berpanas di sawah,
Hingga ke bankir di dalam gedung,
Terpandang mujahid yang berjuang.






BASMALLAH

Dengan bismillah disambut bidan
Dengan bismillah berkafan badan
Dengan bismillah hidup dan mati
Dengan bismillah diangkat bakti.





HIDUP

Ketika lahir disambut emban
Ketika mati dilepas salat,
Antara adzan dan sembahyang,
Wahai hidup alangkah singkat!

Datang ke dunia telanjang bulat
Pulang hanya berkain kafan
Jangan ke alam hati tertambat,
Alam tak dapat menolong badan!




Puisi
Karya : Chairil Anwar

DOA

Kepada Pemeluk Teguh

Tuhanku
Dalam termangu
Aku masih menyebut nama-Mu

Biar susah sungguh
Mengingat Kau penuh seluruh

Caya-Mu panas suci
Tinggal kerdip lilin di malam sunyi

Tuhanku
Aku hilang bentuk
Remuk

Tuhanku
Aku mengembara di negeri asing

Tuhanku
Di pintu-Mu aku mengetuk
Aku tidak bisa berpaling














Sajak
Karya : Taufik Ismail

NASIHAT-NASIHAT KECIL ORANG TUA PADA ANAKNYA BERANGKAT DEWASA

Jika adalah yang harus kau lakukan
Ialah menyampaikan kebenaran
Jika adalah yang tak bisa dijual-belikan
Ialah yang bernama keyakinan
Jika adalah yang harus kau tumbangkan
Ialah segala pohon-pohon kedzaliman
Jika adalah orang yang harus kau agungkan
Ialah hanya Rosul tuhan
Jika adalah kesempatan memilih mati
Ialah syahid di jalan Illahi.